MAKKAH, Lomboktoday.co.id—Sungguh beruntung. Kini jamaah haji Indonesia, baik yang regular dan BPIH khusus, untuk melempar jumroh lebih mudah dan nyaman. Karena begitu keluar dari tenda menuju pintu masuk terowongan, moassim diarahkan oleh petugas keamanan Arab Saudi. Petugas keamanan selalu berada di sepanjang terowongan yang baru dilalui ini.

‘’Memang belum selesai, tapi nyaman. Karena udaranya cukup dingin dan jamaah tidak lagi berdesakan di sepanjang terowongan. Begitu melewati terowongan kedua, jamaah langsung diarahkan menuju jumroh Ula, setelah melontar tujuh kali, jamaah menuju jumroh Wusto dan kemudian ke jumroh Aqabah,’’ kata Pimpinan Dasa Utama, H Dadang Abdullah melalui pesan singkat yang dikirim ke redaksi Lomboktoday.co.id, Sabtu malam (28/10).

H Dadang mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya, pergi melontar itu menyeramkan. Yang terbayang adalah suasana di terowongan yang berdesakan, sempit dan karena hawa. Disamping itu, saat dekat Marma pun berdesakan, sementara jutaan orang punya hajat yang sama, kurang teratur sehingga menjadi berbahaya (tabrakan, jatuh terinjak, dll). Ini wujud komitmen Pemerintah Kerajaan Arab Saudi meningkatkan pelayanan kepada para tamu Allah.

‘’Belum lagi kalau mengingat pernah terjadi tragedi Mina. Dimana, ratusan orang wafat beberapa tahun lalu. Tenda khusus kafilah USA, Erofa di depan jamarat, ada pemandangan baru di jajaran terdepan tenda dekat jamarat, tulisannya EURO TEND, ukurannya sekitar 10 meter x 25 meter tampak kokoh dan lebih ok, kita bisa lihat dan tandai mereka yang dari USA, Erofa dan Australia,’’ ungkapnya.

H Dadang menjelaskan, ternyata Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memberi prioritas utama kepada mereka dalam rangka syiar. Makanya, kini banyak tenda-tenda ONH Plus yang berada di moassim di dekat kantor Misi Haji Indonesia. Terowongan baru moassim ke jamarat lantai tiga ini memang baru saja mulai dipakai tahun ini, berada di sebelah kanan/timur terowongan Mina sebelumnya yang selama ini diperuntukkan jamaah menuju ke jamarat.

Bedanya, lanjut H Dadang, masuk terowongan ini memang lebih panjang dan besar. Hanya sekitar 50 meter saja masuk lagi ke terowongan berikutnya, sehingga praktis jamaah tidak kena panasnya sinar matahari. Selesai terowongan kedua, hanya beberapa meter saja sudah tiba di jumroh Ula. ‘’ Ini benar-benar aman dan nyaman,’’ kata H Joko Purnomo.

Sementara di depan pintu masuk terowongan Mina, juga ada sekelompok anak muda yang berdiri memegang kursi roda sembari menawarkan jasa untuk didorong sampai jamarat dan kembali sampai tenda jamaah. Tarifnya cukup fantastis yakni SR500 per orang. ‘’Ini juga kesempatan mereka sekali setahun saja, wajar saja. Khan saling membantu dan membutuhkan,’’ kata HM Rivai Salamuddin.

Sedangkan dari lantai tiga jamarat, tampak kereta listrik yang disebut monorel warna hijau muda, sedang berjalan begitu elegan berasal dari Mina/Arafah dan berhenti di lantai empat jamarat untuk melontar. Untuk tahun ini, masih diperuntukkan jamaah haji asal Jazirah Arab. Mungkin pada tahun-tahun mendatang, bila sudah selesai semua terminalnya dari Aziziyah ke Armina (PP, Red) dan gerbongnya sudah dilipatgandakan, maka tidak menutup kemungkinan bisa melayani juga jamaah haji Asia Tenggara termasuk Indonesia. ‘’Doa kami semoga segala perjuangan atau pengorbanan ini, semua jamaah haji Indonesia meraih haji mabrur,’’ harapnya.(ar)