Banyak Jamaah Tak Bisa Berbahasa Indonesia

MAKKAH, Lomboktoday.co.id—Kendala  petugas pelayanan haji Indonesia di Tanah Suci semakin bertambah. Pasalnya, banyak jamaah yang tak mampu berbahasa Indonesia. Karena mereka hanya menguasai bahasa daerah.

Kesulitan itu sangat dirasakan oleh petugas kesehatan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Hampir seluruh pasien yang dirawat hanya berkomunikasi dalam bahasa daerah. Hingga tak jarang memicu perbedaan pemahaman.

‘’Ya, memang bahasa menjadi kendala sekali. Banyak pasien yang tak menguasai bahasa Indonesia,’’ kata Kepala BPHI, Agus Widiyatmoko di BPHI Makkah, Jum’at (5/10).

Diakuinya, kendala bahasa itu menjadi sangat beresiko sekali. Pasien yang dirawat memilii latar belakang asal daerah yang berbeda-beda. Maka, bahasa daerah yang digunakannya pun menjadi sangat banyak. Tentunya, sambung dia, tidak terlalu persoalan jika bertemu dengan tenaga medis yang menguasai bahasa daerah teresbut. Tetapi, menjadi begitu bermasalah saat mendapat layanan dari petugasmedis dari daerah berbeda.

‘’Jadi, kami sering pontang-panting mencari petugas yang mengerti bahasa daerah pasien. Inilah yang menjadi hambatan serius layanan kesehatan,’’ ungkapnya.

Dia mencontohkan, ada seorang pasien yang meminta makan dengan bahasa daerahnya dan tim kesehatan tak mengerti. Akhirnya, jamaah calon haji yang sakit itu marah-marah. Karena merasa tidak mendapat pelayanan. Tak itu saja, lanjut dia, terkadang tidak pahamnya bahasa daerah tersebut menjadi salah tafsir. Pasien yang meminta pelayanan tertentu, hanya ditanggapi berbeda oleh tenaga medis.

‘’Pasien dalam bahasa daerah minta diambilkan sesuatu. Tetapi tenaga medis menanggapi lain. Muncul kembali persoalan,’’ ujarnya.

Ditanya upaya menyelesaikannya, Agus Widiyatmoko mengaku perlu langkah pendekatan budaya. Denga lebih dulu mengidentifikasi bahasa daerah yang digunakan pasien. Dengan menggunakan bahasa daerahnya, kata dia, pasien akan menjadi lebih tenang dan cepat sembuh. ‘’Berkomunikasi dengan bahasa lokal sangat penting dilakukan,’’ jelasnya.

Agus mengungkapkan, tim BPHI sudah sangat lengkap dan bisa melayani seluruh pasien dengan baik. Hingga Jumat (5/10) pagi waktu Arab Saudi, jumlah pasien jamaah haji yang dirawat jalan di BPHI mencapai 64 orang. Sedangkan pasien jamaah haji yang dirawat inap sebanyak 35 orang.

Selain itu, papar Agus, ada lima jamaah haji yang dirawat di rumah sakit milik pemerintah Kota Makkah. Menurut dia, sebagian pasien yang dirawat di BPHI Makkah merupakan jamaah yang dievakuasi dari Madinah dan Jeddah.

Tim dokter di BPHI Makkah, kata dia, akan berupaya menstabilkan kondisi kesehatan pasien agar mereka dapat menjalankan ibadah umrah. Sekaligus memastikan kodisinya siap menjalankan ibadah haji. ‘’Kami telah meminta kepada petugas haji di Jeddah dan Madinah untuk meniat-ihramkan jamaah yang sakit,’’ ungkapnya.

Jika ada pasien yang sangat parah, tambahnya, akan meliatkan pendamping jamaah uzur untuk membantu umrah para pasien. Sehingga secara ibadah tidak ada yang terlewatkan dari jamaah.(mch)

Kirim Komentar

Leave a Reply