LSDI Sinar Lima NTB-Kemenakertrans Adakan Diklat Life Skill

LOTIM, Lomboktoday.co.id—Lembaga Sumber Daya Insani (LSDI) Sinar Lima NTB bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) RI mengadakan pendidikan dan pelatihan life skill pembuatan kerajinan ketak di Desa Tanak Kaken, Lombok Timur. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua pekan, 13-25 Oktober 2012.

‘’Program diklat masyarakat life skill kerajinan ketak ini berkat hasil kerjasama LSDI Sinar Lima NTB dengan Kemenakertrans Dirjen Bina Lattas Pusat,’’ kata Direktur LSDI Sinar Lima NTB, Lalu Iswadi Athar pada acara pembinaan dan penutupan, Kamis (25/10).

Iswadi mengatakan, diklat ini dihajatkan bagi masyarakat untuk meningkatkan SDM-nya. Ini dimulai dari level bawah, yakni di kampung atau desa yang sulit mengakses program pemerintah secara langsung. Sehingga diperlukan lembaga atau organisasi yang bisa mewadahi (membina langsung, Red).

Desa Tanak Kaken, Lombok Timur sebagai desa baru, tentunya perlu ditopang dengan program yang inovatif dan membangun sistem dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, baik aspek pendidikan, sosial, maupun budaya.

Program diklat ini, kata Iswadi, sangat bagus. Karena sasarannya kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang notabene sebagai daerah penyalur TKI/TKW. Disamping itu, banyaknya pengangguran yang disebabkan lemahnya SDM setempat. Sehingga dengan program diklat ini, setidaknya bisa membantu Pemda dalam upaya mengurangi tingkat pengangguran, dan membentuk 100 ribu wirausaha baru menuju masyarakat NTB yang Beriman dan Berdaya Saing.

Pada acara diklat tersebut, hadir Sekretaris Disnakertrans NTB, Rana Indisiaputri selaku pembina dalam diklat tersebut. Dalam sambutannya, ia mensuport kegiatan diklat ini dan dianggap penting. Karena, ini menjadi nilai tambah bagi masyarakat, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga.

‘’Dari pada jadi TKW lebih baik menjadi pengerajin ketak, bisa kerja di rumah sendiri sambil mengurus anak dan keluarga. Hasil ketaknya nanti bisa membantu meningkatkan ekonomi rumah tangga, sehingga dapur ibu-ibu tetap ngepul,’’ katanya.

Ia berharap program ini terus berlanjut dengan inovasi pola-pola ketak sampai finishing dan bekerja dengan telaten. Yang terpenting, katanya, membangun kerjasama dalam hal pemasaran, sehingga hasil kerajinannya bisa didistribusikan dan masyarakat mendapatkan keuntungan dari kerajinan ketak tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Tanak Kaken, Ihsan menyambut baik acara diklat ini. Baru  beberapa bulan saja menjabat Kades, sudah bisa menjadi sasaran diklat untuk masyarakat. Ini berkat kerjasama membangun jaringan antara Pemerintah Desa dengan jejaring program yang ada.

Menurut Ihsan, Desa Tanak Kaken merupakan desa baru yang perlu banyak sentuhan program. Pada era tahun enam puluhan, Desa Tanak Kaken ini sebagai salah satu kampung produksi genteng. Tapi, karena pengaruh reformasi dan krisis ekonomi global masyarakatnya beralih profesi dan memilih menjadi TKI.  ‘’Program diklat life skill kerajinan ketak ini merupakan salah satu solusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,’’ katanya.

‘’Kami senang dilatih membuat ketak. Karena jujur saja kami tidak mempunyai pekerjaan. Tapi, dalam diklat ini kami bisa membuat ketak, mulai membuat pola dan memulai mengait serta merajut,’’ ungkap salah seorang gadis desa yang bernama Unas Witari ini.(is)

Kirim Komentar

Leave a Reply