Masyarakat Indonesia Belum Akses Energi Capai 25 Persen

Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini.

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Sebagai Negara yang sedang berkembang, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang meningkat secara konsisten. Tapi disisi lain, masyarakat Indonesia masih ada yang belum mendapatkan akses terhadap energy, khususnya listrik, yakni mencapai 25 persen.

Kedua kondisi ini, membutuhkan pasokan energi yang lebih tinggi. Dimana, kemajuan ekonomi harus diimbangi dengan penyediaan energi yang cukup, serta penyaluran energi yang lebih baik dan luas dalam mengatasi permasalahan akses terhadap energi listrik.

‘’Tingginya laju konsumsi energy, mengakibatkan ketimpangan antara laju pengurasan sumber daya energi fosil (minyak bumi, gas bumi dan batubara) dengan kecepatan untuk menemukan cadangan baru. Sehingga, diperkirakan dalam waktu yang tidak lama lagi, cadangan energi fosil akan habis dan Indonesia akan sangat bergantung kepada energi impor. Di sisi lain, energi terbarukan yang potensinya sangat besar, saat ini pemanfaatannya masih relatif kecil, dan pemanfaatan energi fosil masih mendominasi dari konsumsi energi nasional,’’ kata Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini di Jakarta, tadi malam.

Rudi mengatakan, pemerintah telah melakukan upaya percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan pasokan energi di masa depan. Ditambah lagi dengan harga energi yang masih disubsidi terlalu besar, menyebabkan perilaku masyarakat Indonesia cenderung konsumtif dan boros terhadap penggunaan energi.

Jadi, untuk mengatasi permasalahan ini, menurut Rudi, perlu dilakukan langkah-langkah strategis, salah satunya gerakan atau program penghematan energy, baik melalui perubahan perilaku maupun penggunaan teknologi yang hemat energi dan ramah lingkungan.

‘’Dalam jangka pendek, penghematan energi dilakukan sebagai upaya menekan beban subsidi. Sedangkan untuk jangka panjang, bertujuan memperkecil kesenjangan antara sisi permintaan dan penyediaan energi. Karena, pertumbuhan permintaan energi yang tinggi tanpa diimbangi penyediaan yang cukup, hanya akan berujung pada terjadinya krisis energy,’’ ungkapnya.

Program penghematan energy, jelas Rudi, merupakan tanggung jawab bersama yang mencakup seluruh tahap kegiatan pengelolaan energi, yakni penyediaan energi, pengusahaan energi, pemanfaatan energi dan konservasi sumber daya energy,’’ ujarnya.(ar/esdm)

 

Kirim Komentar

Leave a Reply