Inflasi 2012 Terkendali

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Inflasi sepanjang tahun 2012 tetap terkendali pada level yang rendah, dan berada pada kisaran sasaran inflasi sebesar 4,5 persen plus minus 1 persen.

Terkendalinya inflasi tersebut, sebagai hasil dari berbagai kebijakan Bank Indonesia (BI) dan didukung oleh semakin baiknya koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Dody Budi Waluyo, mengatakan, inflasi 2012 mencapai 4,30 persen (yoy), terutama didorong oleh inflasi inti yang stabil, inflasi volatile food yang terkendali dan inflasi administered prices yang rendah. Inflasi inti yang stabil, didukung oleh penerapan strategi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, sehingga tekanan inflasi dari sisi permintaan, harga komoditas impor, dan ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Selain itu, lanjut Dody, terjaganya inflasi, juga didukung oleh koordinasi yang semakin intensif antara BI dan pemerintah melalui forum TPI dan TPID, terutama pada upaya peningkatan produksi, kelancaran distribusi, dan stabilisasi harga pangan strategis.

Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 4,5 persen plus minus 1 persen tahun 2013 ini dan tahun 2014 mendatang.

Sedangkan stabilitas sistem keuangan dan fungsi intermediasi perbankan, jelas Dody, tetap terjaga dengan baik. Kinerja industri perbankan yang solid, tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang mencapai 17,4 persen dan rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross sekitar 2 persen pada Nopember 2012.

Sementara itu, sejalan dengan meningkatnya investasi, kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,8 persen (yoy) dan kredit modal kerja tumbuh 26,1 persen (yoy), sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. Untuk kredit konsumsi tumbuh 12,1 persen (yoy) antara lain, terkait dengan penerapan kebijakan pengaturan besaran rasio LTV (loan to value) dan minimum uang muka, untuk menjaga pertumbuhan kredit yang sehat di sektor konsumtif. ‘’Sejalan dengan prospek perekonomian mendatang, stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga dengan fungsi intermediasi perbankan yang akan meningkat,’’ katanya.(arbi)

Kirim Komentar

Leave a Reply