Butuh Rp9,14 T Rehabilitasi Hutan di NTB

LOTIM, Lomboktoday.co.id—Untuk merehabilitasi kawasan hutan yang mengalami kerusakan di NTB, membutuhkan anggaran sebesar Rp9,14 triliun. Namun, Pemerintah Propinsi NTB belum mampu mengatasi kerusakan hutan yang ada saat ini.

‘’Dibutuhkan anggaran empat kali APBD NTB untuk merehabilitasi dan konservasi kawasan hutan yang mengalami kerusakan di NTB. Tapi, untuk mengatasi masalah kerusakan hutan yang ada, tentu menjadi tugas bersama guna mencarikan solusi terbaik,’’ kata Kepala Regional WWF NTB, Ridha Hakim kepada wartawan disela-sela kegiatan penandatangan MoU restorasi ekosistem TNGR melalui program NEWtrees di lokasi TNGR, Dusun Kembangsari, Desa Tete Batu Utara, Kecamatan Sikur, Sabtu (02/2).

Ridha Hakim mengatakan, jika hanya menggunakan dana APBD NTB untuk melakukan rehabilitasi kawasan hutan, tentu tak akan bisa berhasil dengan cepat. Tapi, membutuhkan waktu lama dan secara bertahap, mengingat anggarannya yang sangat terbatas.

Terjadinya kerusakan kawasan hutan di NTB, menurut Ridha Hakim, tidak terlepas dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab. Yakni, dengan merusak dan menebang pohon sembarangan, tanpa pernah memperhatikan apa yang akan terjadi kedepan nantinya.

‘’Tugas kita semua untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan kawasan hutan di NTB, dengan tidak melakukan tindakan yang akan menyebabkan terjadinya kerugian pada kita semua,’’ ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kabid Pengelolaan Kawasan Hutan Dinas Kehutanan Propinsi NTB, Andy Pramaria mengatakan, jumlah kawasan hutan yang mengalami kerusakan di NTB, diperkirakan mencapai seluas 230 ribu hektar yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa, dari total luas hutan yang ada di NTB mencapai 1.070.000 hektar.

Namun, untuk mengatasi kerusakan kawasan hutan itu, dibutuhkan anggaran yang cukup banyak. Sementara dana APBD NTB sangat terbatas, sehingga masalah ini tentu menjadi permasalahan semua pihak untuk mencarikan solusi yang tepat dan jelas.

‘’Kawasan hutan yang paling luas di NTB terdapat di Kabupaten Sumbawa. Yang menyebabkan terjadinya kerusakan di kawasan hutan di Pulau Lombok yakni warga membutuhkan lahan, sedangkan di Pulau Sumbawa membutuhkan kayu bakar untuk dijual,’’ katanya.(sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published.