WWF-TNGR Teken MoU Restorasi Ekosistem

TEKEN MoU: Kepala Wilayah TNGR, Agus Budiono dan Kepala Regional WWF NTB, Ridha Hakim  Lakukan penandatangan MoU restorasi ekosistem TNGR melalui program NEWtrees di lokasi TNGR, Dusun Kembangsari, Desa Tete Batu Utara, Kecamatan Sikur, Sabtu (02/2).

TEKEN MoU: Kepala Wilayah TNGR, Agus Budiono dan Kepala Regional WWF NTB, Ridha Hakim Lakukan penandatangan MoU restorasi ekosistem TNGR melalui program NEWtrees di lokasi TNGR, Dusun Kembangsari, Desa Tete Batu Utara, Kecamatan Sikur, Sabtu (02/2).

LOTIM, Lomboktoday.co.id—Kepala Wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Agus Budiono bersama Kepala Regional WWF NTB, Ridha Hakim melakukan penandatangan MoU restorasi ekosistem TNGR melalui program NEWtrees, di lokasi TNGR, Dusun Kembangsari, Desa Tete Batu Utara, Kecamatan Sikur, Sabtu (02/2).

Selain menandatangani MoU, juga dilakukan penghijuan di lokasi TNGR, dengan menanam berbagai jenis pohon pelindung yang nantinya akan memiliki manfaat bagi masyarakat yang tinggal di kawasan TNGR tersebut.

Dalam kegiatan itu, hadir pihak Dinas Kehutanan Propinsi NTB, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Lotim, para kelompok yang peduli terhadap keberadaan TNGR serta masyarakat umum.

Kepala Wilayah TNGR NTB, Agus Budiono mengatakan, bila melihat kondisi TNGR saat ini, tentu banyak yang mengalami kerusakan akibat ulah tangan oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga, hal ini harus menjadi perhatian semua pihak untuk menjaga dan melestarikan lokasi TNGR tersebut.

Begitu juga dengan WWF, memiliki pandangan yang sama untuk menjaga lokasi TNGR dari kerusakan, dengan melakukan rehabilitasi kembali, sehingga akan memberikan manfaat dan kepentingan yang sangat besar bagi masyarakat. Terutama untuk kepentingan penelitian, pendidikan maupun pariwisata alam. Karena, kawasan TNGR memiliki daya tarik yang sangat luar bisa untuk dikunjungi oleh masyarakat lokal, regionol maupun international.

‘’Kegiatan yang dilakukan oleh WWF sangat kami apresiasi sekali, sehingga bisa dicontoh lembaga lainnya yang peduli dengan kondisi TNGR. Keberadaan wahana ekosistem hutan yang ada di lokasi TNGR ini, tentunya dilindungi dan dilestarikan,’’ kata Agus Budiono.

Di tempat yang sama, Kepala Regional WWF NTB, Ridha Hakim mengatakan, kegiatan restorasi untuk lokasi TNGR ini, pihaknya sudah melakukannya sejak 2012 lalu, dengan lokasi yang direstorasikan seluas 125 hektar dari luas TNGR keseluruhan mencapai 41.330 hektar.

Kegiatan restorasi kawasan TNGR ini, kata Ridha Hakim, tidak sendirian yang melakukannya, melainkan dengan menggandeng dan bekerjasama dengan pihak swasta maupun BUMN yang memiliki kepedulian yang sama untuk menjaga dan melestarikan kondisi kawasan TNGR dari kerusakan.

‘’Kalau tidak kita yang memiliki kawasan TNGR sebagai penyuplai air terbesar di Pulau Lombok ini, terus siapa lagi. Itu sebabnya kami melakukan restorasi ekosistem di kawasan TNGR ini. Karena melalui upaya konservasi dan rehabilitasi ini, kawasan TNGR ini tetap terpelihara dengan baik,’’ katanya.

Ridha menjelaskan, kegiatan restorasi kawasan TNGR ini, dilakukan dengan menanam empat jenis pohon sebanyak 60 ribu batang di atas lahan seluas 125 hektar. Jika memlihat kebutuhan air masyarakat Pulau Lombok, lanjut Ridha Hakim, saat ini dari data yang ada, mencapai 100 persen, dan kebutuhan minimal hanya 70 persen saja, dan penyublai air terbesar berada di kawasan TNGR. Sehingga, kawasan TNGR harus dilestarikan dari berbagai kerusakan yang mengancam terjadinya krisis air.

‘’Kalau melihat kerusakan hutan yang terjadi di wilayah TNGR, antara 45-48 persen dari luas jumlah kawasan TNGR yang ada,’’ ungkapnya.

Hal senada dilontarkan Kabid Pengelolaan Kawasan Hutan Dinas Kehutanan Propinsi NTB, Andy Pramaria. Ia mengatakan, salah satu upaya mengembalikan kondisi kawasan hutan yang rusak adalah dengan melakukan konservasi dan rehabilitasi. Yakni, dengan memperbanyak melakukan penghijauan dan penanaman kembali berbagai jenis pohon pelindung yang berguna untuk menjaga kondisi kawasan hutan dari berbagai kerusakan. ‘’Kawasan TNGR harus dilakukan konservasi dan rehablitasi kembali, karena kawasan TNGR merupakan jantung Pulau Lombok,’’ kata Andy Pramaria.(sr)

Kirim Komentar

Leave a Reply