Newmont Kembangkan Peternakan Sapi Berbasis Masyarakat Petani

Inilah sapi yang dikembangbiakkan dan digemukkan oleh Kelompok P3A Lonto Ijo di Dusun Tatar, Desa Benete, KSB.
Kelompok P3A Lonto Ijo di kandang kumpul Sapi di Dusun Tatar, Desa Benete, KSB.
Kelompok P3A Lonto Ijo di kandang kumpul Sapi di Dusun Tatar, Desa Benete, KSB.

KSB, Lomboktoday.co.id—PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) melalui program pemberdayaan masyarakat, bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menjadi mitra kerjanya, mulai mengembangkan peternakan Sapi berbasis masyarakat petani di 15 desa pada tiga Kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tiga kecamatan penerima program adalah yang lokasinya berdekatan dengan operasi pertambangan Batu Hijau milik Newmont, itu antara lain Kecamatan Maluk, Jereweh, dan Sekongkang.

Selain mendapatkan keuntungan dari pengembangbiakan dan penggemukan Sapi, kelompok petani pengelola, juga bisa memanfaatkan limbah kotoran dari kandang Sapi, untuk keperluan pembuatan kompos, dan suplai biogas, dari program yang berjalan sejak 2011 tersebut.

Inilah sapi yang dikembangbiakkan dan digemukkan oleh Kelompok P3A Lonto Ijo di Dusun Tatar, Desa Benete, KSB.
Inilah peternakan sapi yang dikelola oleh Kelompok P3A Lonto Ijo di Desa Benete, KSB.

Di Dusun Tatar, Desa Benete, Kecamatan Maluk, misalnya. Dengan memelihara sekitar 14 ekor Sapi jenis Hisar dan Sapi Bali, kini Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) ‘Lonto Ijo’ Desa Benete, sudah bisa memproduksi sekitar 214 ton pupuk kompos dalam setahun. Kelompok ini juga sudah bisa memproduksi biogas untuk keperluan dapur rumah tangga kelompok.

‘’Sudah satu tahun lebih berjalan, awalnya memang sulit. Tapi sekarang kami sudah mulai menerima hasilnya, sudah ada anak Sapi yang lahir dan terjual, kotoran Sapi pun sudah bisa diolah jadi kompos dan biogas,’’ kata Gau Dawang, warga Dusun Singa, Desa Beneta, yang juga ketua kelompok P3A Lonto Ijo, Kamis (07/2) di Desa Benete, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat.

Selain Dawang ada 20 orang lainnya yang menjadi anggota P3A Lonto Ijo. Mereka berasal dari sejumlah dusun di Desa Benete yang tadinya bekerja sebagai petani tanpa lahan, atau biasa disebut buruh tani. Sebagai buruh tani, mereka hanya mengandalkan pendapatan ketika musim tanam padi tiba, atau musim panen, dengan membantu pemilik sawah. Sementara musim tanam dan panen di sana hanya berjalan dua kali dalam setahun.

‘’Alhamdullilah dengan adanya peternakan yang kami kelola saat ini, manfaat ekonominya sangat terasa dibanding ketika masih bergantung hanya menjadi buruh tani saja,’’ kata Dawang.

Gau Dawang menjelaskan, pada pertengahan 2011 silam, kelompok P3A Lonto Ijo ini mendapat bantuan program communnity development dari PT NNT yang bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Petani dan Pesisir (LPMP) Sumbawa Barat.

Kelompok difasilitasi bantuan pembangunan kandang kumpul atau kandang kolektif untuk ternak Sapi di Dusun Tatar, Desa Benete. Berawal dari 10 ekor Sapi milik mereka, dan dua ekor Sapi bantuan dari Kementerian Pertanian, kelompok ini mulai melakukan penggemukan dan pengembangbiakan Sapi di sana. Seiring waktu berjalan, mereka juga mendapat serangkaian pelatihan membuat pakan ternak, membuat kompos, hingga pembuatan biogas.

‘’Newmont dan LPMP juga membantu kami membangun rumah kompos dan infrastuktur dasar untuk biogas, dan sekarang sudah bisa berproduksi,’’ kata Gau Dawang.

Peternakan Sapi dan rumah kompos P3A Lonto Ijo memanfaatkan sebagian lahan milik Comdev Center PT NNT di dusun Tatar yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk sehingga produksi kompos tidak mengganggu lingkungan.

Pantauan Lomboktoday.co.id pada Kamis sore (07/2), bersama Gau Dawang ada tujuh anggota kelompok yang terlihat sibuk membersihkan kandang kolektif, dan memberi pakan ternak Sapi. beberapa orang lainnya tengah memeriksa pembuatan kompos di sebelah kandang kumpul.

‘’Sapi ini milik anggota kelompok yang tadinya kami gembalakan sendiri-sendiri. Tapi setelah ada sistem kandang kumpul ini menjadi lebih mudah merawat dan mengawasinya,’’ kata Abdul Azis, salah seorang anggota P3A Lonto Ijo.

Tradisi masyarakat di pulau Sumbawa, biasanya memelihara ternak Sapi dengan cara dilepas di lar atau so – bahasa lokal untuk padang rumput. Akibatnya kotoran Sapi terbuang begitu saja dan tidak dimanfaatkan secara ekonomis. Tapi dengan system kandang kumpul ini, kelompok P3A Lonto Ijo bisa mengumpulkan sekitar 50 Kg kotoran Sapi setiap hari.

‘’Sekarang saya baru tahu kalau kotoran Sapi juga bisa menjadi sumber pendapatan,’’ katanya.

Koordinator Program Kompos P3A Lonto Ijo, Sahidullah mengatakan, saat ini kelompok P3A Lonto Ijo sudah bisa memproduksi sekitar 25 ton – 27 ton, pupuk organik kompos setiap bulan. Pada 2012 misalnya, kelompok ini berhasil memproduksi sekitar 214 ton kompos. Bahan pembuatan kompos berasal dari kotoran Sapi di kandang kumpul, sisa pakan ternak, jerami, dan cairan komposter. Pupuk kompos produksi mereka kini sudah mulai dipasarkan ke masyarakat petani di Sumbawa Barat bahkan hingga di Kabupaten Sumbawa.

‘’Pupuk yang diproduksi kemudian dibeli oleh LPMP bersama PT NNT seharga Rp1.000 perKG, dan disalurkan lagi ke petani yang membutuhkan. Uang hasil penjualan itu kemudian dibagikan ke anggota kelompok sebanyak 20 orang. Rata-rata saat ini setiap anggota dapat sekitar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta dari hasil kompos itu,’’ kata Sahidullah.

Selain peternakan Sapi, program Comdev PT NNT bersama LPMP Sumbawa Barat juga mengembangkan sistem pertanian organik di kawasan Comdev Center di dusun Tatar, Desa Benete. Luas lahan yang digunakan mencapai 70 are atau hampir 1 hektare.

Dibatasi balai pertemuan petani, di sebelah kandang kumpul dan rumah kompos, terlihat lahan pembibitan, dan percontohan perwasahan organik dengan sistem tanam pola System Rice Intensivication (SRI).Di sana nampak deretan pohon buah naga, bibit jeruk, nangka, durian dan tanaman buah produktif lainnya.

‘’Ini menjadi pilot project yang akan dikembangkan juga di desa lainnya, yakni pola pertanian organik dan budidaya tanaman buah-buahan,” kata pengurus LPMP Sumbawa Barat, Gatot Wahyudi.

Untuk pembibitan buah naga, Gatot mengatakan, lebih dari 250 bibit yang ditanam sejak tujuh bulan lalu, itu akan dibagikan ke para petani di wilayah lain untuk dikembangkan, dengan cara distek. Anggota kelompok P3A Lonto Ijo yang sudah dibekali pengetahuan tentang budidaya buah naga, akan menyalurkan pula pengetahuan mereka kepada masyarakat petani lainnya.

Yang sudah berhasil di tahun 2012, papar Gatot adalah penanaman sayur-mayur organic yang dilakukan di areal sebelah lokasi pembibitan. Kelompok petani perempuan dari Desa Benete diajari cara menanam sayur organik yang efektif dan efisien, mulai dari kol, tomat, sawi, dan cabai.

‘’Hasil panennya kami yang salurkan ke pasar. Jadi belasan perempuan petani kami latih disini, mereka menanam sampai memanen, dan hasilnya kami yang pasarkan. Setelah itu mereka bisa menerapkan pola tanam organik di lahan milik mereka masing-masing,’’ katanya.

Senior Specialist Capacity Building pada program Comdev PT NNT, Abdul Wahid menjelaskan, saat ini ada 15 Desa yang tersebar di Kecamatan Maluk, Jereweh, dan Sekongkang yang mendapat program pembinaan serupa. Di setiap Desa penerima bantuan adalah 20 orang anggota kelompok petani di desa setempat.

‘’Sekarang sudah mulai terlihat hasilnya, dan masyarakat juga sudah mulai bisa mandiri dalam mengelola usaha mereka terutama untuk peternakan dan pertanian organic ini. Kami dari Newmont dan lembaga mitra hanya memfasilitasi mereka, mengingkatkan kapasitas pengelolaan, termasuk pengelolaan keuangan usaha mereka,’’ katanya.

Menurutnya, program ini akan terus dikembangkan hingga ke seluruh Kecamatan di Sumbawa Barat ke depannya. Tujuannya agar masyarakat di sekitar lingkar tambang Batu Hijau bisa berkembang secara ekonomis dengan potensi yang mereka miliki saat ini. Bantuan ini dinilai akan lebih bermanfaat ketimbang bantuan langsung berupa dana dan sebagainya yang segera terpakai habis. Ibaratnya ‘memberikan kail, bukan ikan’.

‘’Newmont ingin agar pemberdayaan ini bersifat berkelanjutan, jadi nantinya kalau pun Newmont sudah tidak beroperasi di sini, masyarakat tetap bisa eksis dengan potensi mereka yang sudah dikembangkan sendiri,’’ katanya.(ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published.