Antara Tailing Newmont dan Mercury Pertambangan Liar

Konsentrator di Newmont, menggunakan proses fisika bukan kimia

Aktivitas pertambangan milik PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) di Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), seringkali dituding mencemari lingkungan dengan limbah tailing. Sementara tanpa disadari, ancaman pencemaran mercury dari gelondongan penambang liar justru semakin merapat di depan mata. Benarkah keberadaan Newmont hanya mengancam lingkungan dan merugikan perekonomian daerah ini? Wartawan Lomboktoday.co.id, Abdul Rasyid Zaenal, menukilkan catatan perjalanannya ke tambang Batu Hijau.

***

BENETE hanya sebuah dusun pesisir tempat sedikit nelayan menggantungkan hidup sehari-hari di sana. Satu-satunya pemukiman terdekat, hanyalah pemukiman para transmigran asal Jawa Timur yang berbaur dengan penduduk lokal di Dusun Maluk. Hanya ada sebuah Sekolah Dasar (SD) di sana, dan sangat sulit juga sangat jauh untuk mengakses Puskesmas terdekat di pusat Kecamatan Jereweh.

Susanah
Susanah.

Saat itu di era tahun 1980-an, kemiskinan perkampungan nelayan dan transmigran, bukan hanya menyebabkan tingginya angka putus sekolah. Malaria, juga menjadi ancaman terbesar yang bisa merenggut nyawa kapan saja. Akses kemana-mana masih sulit karena keterbatasan infrastruktur jalan, dan sarana transportasi umum.

‘’Kalau diingat-ingat, rasanya nggak percaya kalau kawasan ini bisa berubah. Maluk yang tadinya hanya dusun kecil, sekarang sudah jadi Kecamatan. Pembangunan infrastruktur dan kehidupan masyarakat juga berubah jauh, sejak Newmont datang,’’ kata Susanah (31), ibu tiga anak, warga Maluk, Sumbawa Barat, saat dijumpai di pantai Maluk, Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat.

Susanah bisa dibilang saksi hidup yang merasakan langsung perubahan infrastruktur kawasan dan perekonomian di sekitar tambang Batu Hijau milik PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT), sejak era 1980an hingga kini.Pada 1984, Ponimin (56) ayahnya, memboyong Susanah bersama ibu dan dua saudaranya dari kampung halaman mereka di Jember, Jawa Timur ke pulau Sumbawa. Ponimin yang hanya bisa bertani di kampungnya, mencoba merubah nasib dengan mengikuti program transmigrasi nasional dari pulau Jawa ke pulau Sumbawa.

Meretas nasib sebagai transmigran memang berat, dan Susanah masih ingat betul betapa sulit kehidupan keluarganya saat itu. Jangankan menonton siaran televisi, untuk menikmati terang malam dengan sumber listrik PLN, masih menjadi sebuah mimpi yang tak berwujud.

Kondisi perekonomian warga Maluk sangat terbatas, dengan hanya mengandalkan kehidupan dengan bercocok tanam, melaut, dan budidaya rumput laut. Produksi mereka masih sulit menjangkau pasar, karena lokasi yang jauh dari pusat Kabupaten Sumbawa, di Sumbawa Besar.

Gelondongan di Desa Tepas, Kecamatan Brang Rea, Sumbawa Barat, menggunakan mercury sebagai bahan utama.
Gelondongan di Desa Tepas, Kecamatan Brang Rea, Sumbawa Barat, menggunakan mercury sebagai bahan utama.

‘’Tapi sekarang kami bersyukur Newmont datang dan beroperasi disini, semua yang awalnya seperti mimpi, kini terwujud bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya dengan pertumbuhan yang secepat ini,’’ katanya.

Masa pembangunan konstruksi kawasan tambang PT NNT di Batu Hijau dimulai sekitar 1996 silam. Ponimin, ayah Susanah cukup beruntung bisa masuk sebagai tenaga lepas membangun proyek itu. Seperti juga Ponimin, Newmont memberdayakan banyak warga lokal untuk proyek fisik pertamanya di Batu Hijau. Perekonomian warga setempat mulai bertumbuh secara bertahap, termasuk keluarga Ponimin.

Perubahan positif terus terjadi hingga Sumbawa Barat menjadi daerah otonom sendiri sebagai pemekaran Kabupaten Sumbawa. Dusun Maluk yang dulu sepi, kini menjadi Kecamatan maju dengan berbagai kemudahan akses pendidikan dan kesehatan.

Susanah menyelesaikan pendidikan SMA di Taliwang, ibukota Sumbawa Barat pada 2001, langsung melamar masuk ke PT NNT dan diterima kerja. Hingga kini, ibu tiga anak ini masih aktif bekerja sebagai staf di divisi Government Relation PT NNT. Susanah menjadi bagian dari 240 orang perempuan yang bekerja di PT NNT dari total 4000 lebih karyawan di perusahaan itu saat ini.

‘’Bukti nyata dampak positif Newmont sederhana saja, misalnya keindahan pantai Maluk yang dulu seperti mutiara di dasar laut ini, sekarang muncul ke permukaan dan mudah diakses setiap saat dengan mudah oleh wisatawan. Malaria, pun bukan lagi penyakit yang menakutkan di sini,’’ kata Susanah.

Cerita Susanah tentang kesusahan dusun Maluk di masa lalu, kini seperti hilang tak berbekas. Diakui atau tidak, keberadaan tambang Batu Hijau milik PT NNT selama hampir dua dekade ini, sudah merubah dusun Maluk menjadi sebuah Kecamatan devinitif, dengan penataan wilayah hampir sama dengan kota metropolis mini.

Ada beberapa kompleks perumahan BTN di sana, sementara di sepanjang jalan utama sudah tersedia pusat perbelanjaan yang lengkap. Mulai dari konter pulsa handphone, hingga dealer sepeda motor mudah ditemui. Warung makan hingga hotel, juga hiburan malam.

Pantai Maluk, kini menjadi salah satu destinasi wisata ternama di Sumbawa Barat. Selain keindahan pantai berpasir putih, ada banyak pilihan menikmati hidangan kuliner khas Sumbawa Barat di sana. Newmont juga menyumbangkan sebagian dana CSR-nya untuk menata dan memelihara kawasan ini setiap tahun. Termasuk juga untuk membuat dan menunjang program penangkaran penyu, yang letaknya tak jauh dari pusat kuliner itu.

Pesisir Benete pun, saat ini bukan lagi pantai kosong yang sepi, seperti cerita Susanah dulu. Benete kini sudah menjadi kawasan pelabuhan PT NNT yang difungsikan untuk pengapalan konsentrat hasil tambang Batu Hijau, dan juga untuk pelabuhan transportasi untuk karyawan dan pengunjung PT NNT. Termasuk saya bersama 11 wartawan lain dari sejumlah media massa di NTB yang mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung aktivitas PT NNT di Batu Hijau, Sumbawa Barat, awal Februari lalu.

***

PT NNT, perusahaan tambang tembaga dengan ikutan emas dan perak, mulai beroperasi di Batu Hijau, Sumbawa Barat sejak 2001 silam. Gugus perbukitan Batu Hijau yang awalnya setinggi 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), kini berubah menjadi cekungan raksasa dengan diameter sekitar 2,4 Km dengan kedalaman sekitar.

Mesin Penghancur di Newmont, mirip gelondongan raksasa
Mesin Penghancur di Newmont, mirip gelondongan raksasa.

Aktivitas tambang PT NNT bermula di sini, di Pit yang setiap tahun semakin dalam. Sekitar 108 unit haul truck-truck berukuran sangat besar, berlalu lalang mengangkut material tambang dari bagian Pit yang paling dalam, menuju ke kawasan pabrik atau konsentrator. Tiap truck bisa mengangkut hingga 230 ton material bebatuan hasil tambang, yang selanjutnya diolah di kawasan konsentrator.

‘’Di pabrik itu, material yang potensial akan dihancurkan, sebelum diproses menjadi konsentrat. Tapi di Newmont semua proses dilaukan dengan proses fisika, bukan proses kimia, sehingga limbah yang dihasilkan dalam bentuk taling pun cenderung tidak berbahaya,’’ kata Helmi Anwar, staf di bagian quest realtion PT NNT.

Berada di kawasan pabrik atau konsentrator PT NNT di Batu Hijau, mengingatkan saya pada mesin-mesin gelondongan penambang emas liar, yang saat ini mudah ditemui di sepanjang jalan dari pelabuhan Poto Tano menuju Kota Taliwang, Sumbawa Barat.

Tapi di sini berbeda, dengan ukuran yang sangat besar. Ada sekitar enam unit mesin penggiling berdiameter lebih dari 10 meter, di mana bebatuan hasl tambang dihancurkan di sana.

‘’Beda juga dengan gelondongan yang pakai mercury sebagai bahan penghancurnya. Di sini (Newmont) proses penghancuran batu dilakukan dengan proses fisika di mana bahan penghancurnya adalah baja-baja bulat yang dimasukan bersama material ke dalam mesin penggiling. Jadi batu material hancur karena proses tumbukan dengan bola-bola baja,’’ kata Helmi.

Material yang sudah hancur kemudian diolah menjadi konsentrat. Ini juga melalui proses fisika yakni flotasi atau floating, dimana partikel berkandungan tembaga, emas dan perak akan memisahkan diri dari sisa bebatuan yang menempel dan menjadi konsentrat. Bahan yang digunakan untuk proses ini hanya bahan semacam alkohol yang limbahnya pun mudah larut dan tidak berdampak negatif bagi lingkungan.

Hulu limbah tailing PT NNT berada di konsentrator ini. Tailing kemudian disalurkan melalui pipa untuk disimpan di sebuah palung laut di perairan Teluk Senunu, Sumbawa Barat. Jaraknya sekitar 120 meter dari bibir pantai Senunu.

Departement Lingkungan PT NNT selalu memeriksa dan memantau penempatan tailing di Teluk Senunu, dan meyakinkan bahwa tidak ada pencemaran di sekitar lokasi penempatan tailing.

Hingga kini, penelitian rutin yang dilakukan bersama kementerian lingkungan hidup dan diuji di laboratorium independent tidak menemukan adanya pencemaran yang mempengaruhi ikan, mikrobentos, maupun terumbu karang di sekitar perairan.

‘’Memang tailing yang disimpan di Senunu sekitar 130 ribu ton per hari. Tapi jangan bayangkan seperti menumpahkan kopi dalam cangkir, karena berdasarkan citra radar, cekungan palung lokasi penempatan tailing itu sangat luas, bahkan bisa sampai ke perairan Jawa. Jadi penempatan tailing di sana cukup aman,’’ Muhammad Anwar Husni dari Depertement Lingkungan PT NNT.

Selama ini PT NNT memang mengedepankan kelestarian lingkungan dalam operasinya. Hingga saat ini perusahaan sudah melakukan proses reklamasi lahan mencapai 7.000 hektare dari total 25 ribu hektare ijin pakai yang dikantungi. Lokasi reklamasi umumnya adalah bekas bukaan lahan dan bekas penumpukan material. Di lokasi yang tersebar dari Benete hingga Tonggo Loka misalnya, PT NNT sudah menanam puluhan ribu pohon dari 60 jenis pohon endemik. Saat ini kepadatan pohon di areal reklamasi sudah mencapai 1.000 pohon perhektare, dan satwa endemik seperti Kakaktua jambul kuning sudah mulai nampak kembali di habitat asalnya itu.

Konsentrator di Newmont, menggunakan proses fisika bukan kimia
Konsentrator di Newmont, menggunakan proses fisika bukan kimia.

‘’Sebagai perusahaan bertaraf internasional, PT NNT selalu mengedepankan tiga nilai dalam operasinya, yakni keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggungjawab sosial,’’ kata Senior Manager CSR and Government Relation PT NNT, Lalu Mahfi.

Susanah yang saya temui di Pantai Maluk, mungkin hanyalah salah satu dari ribuan masyarakat Sumbawa Barat dan NTB pada umumnya yang menikmati dampak positif keberadaan tambang PT NNT dari sisi perekonomian dan pembangunan wilayah, terutama di kawasan lingkar tambang.

Sejak resmi beroperasi pada 2001 silam, perusahaan sudah banyak memberi kontribusi. Bukan saja kepada pemerintah pusat dan daerah melalui pembagian dan royalti setiap tahun, juga kontribusi langsung ke masyarakat melalui program-program berbasis Community Social Respontibility (CSR).

Data BPS Provinsi NTB menyebutkan, keberadaan PT NNT menjadi faktor utama untuk pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi NTB. Bisa diartikan keberadaan PT NNT secara tidak langsung membantu pertumbuhan pendapatan masyarakat di Sumbawa Barat, dan NTB pada umumnya.

***

Sementara operasi PT NNT masih banyak menuai kritik dan tudingan pencemaran, praktik penambangan emas liar justru mulai terjadi di Sumbawa Barat sejak tahun 2009 lalu, dan semakin meluas hingga merambah seluruh dari delapan Kecamatan di Sumbawa Barat.

Meluasnya praktik penambangan emas illegal di Sumbawa Barat, NTB dengan mudah dapat dilihat dari maraknya operasi mesin gelondongan atau alat pelebur batu tambang, yang ada di hampir semua Kecamatan di Sumbawa Barat.

Di Desa Senteluk, Kecamatan Taliwang, ibukota Sumbawa Barat misalnya, pantauan Lomboktoday.co.id awal Februari lalu,  puluhan unit gelondongan beroperasi bebas hanya beberapa meter dari ruas jalan utama yang menghubungkan Pelabuhan Poto Tano – Taliwang.

Gelondongan merupakan tabung besi yang berputar untuk melebur pecahan batu hasil tambang. Untuk memisahkan kandungan emas, operasi gelondongan menggunakan bahan air raksa atau mercury.

‘’Bahannya air raksa. Kadang ada saja yang cair (dapat emas), tapi kadang kosong,’’ kata Ahmad Fatah (28), salah satu penambang emas liar di Taliwang.

Fatah bersama sejumlah kerabatnya melakukan aktivitas tambang di sekitar bukit Tano. Batu hasil tambang kemudian dibawa ke bawah untuk diproses menjadi emas. Untuk mengolah batu hasil tambang, Fatah membayar Rp35 ribu hingga Rp50 ribu kepada pemilik mesin gelondongan untuk setiap karung batu. Kadang ia dapat emas, tapi seringkali hanya merugi karena mengolah batu yang kosong.

‘’Kalau lagi rejeki, dari 10 karung batu kita bisa dapat 2 gram emas. Kalau sial, ya sama sekali tidak dapat emasnya. Tapi kita tetap saja ada untung, apalagi kalau ada yang cair banyak,’’ katanya.

Menurut Fatah, menjadi penambang emas illegal membawa berkah bagi keluarganya. Meski pekerjaannya berat dan berisiko, namun hasilnya sebanding. Ia mengaku bias mengantungi Rp4 juta dalam dua pekan jika nasib sedang baik.

‘’Kalau berharap dari bertani atau jadi tukang ojek, jauh sekali hasilnya. Makanya saya jalani saja pekerjaan tambang ini,’’ katanya.

Bagi pemilik mesin gelondongan, rejeki juga terus mengalir selama masih banyak penambang illegal. Abdurahman (45), pemilik usaha gelondongan di Desa Tepas, Kecamatan Brang Rea, mengaku bisa melayani hingga 50 karung per hari.

‘’Tarifnya satu karung Rp35 ribu sampai Rp50 ribu. Kalau ada yang cair biasanya yang punya batu kasih bonus lagi,’’ akunya.

Tapi, Abdurahman tak pernah tahu kalau mercury yang ia pakai sebagai bahan operasi gelondongan itu berbahaya bagi lingkungan. Mesin gelondongan miliknya beroperasi di pinggir jalan, di sekitar lokasi persawahan, dan air limbahnya dibiarkan mengalir bebas ke aliran sungai kecil.

Saat dikonfirmasi, Bupati Sumbawa Barat, KH Zulkifli Muhadli mengatakan, upaya penertiban praktik illegal mining di Sumbawa Barat terus mengalami kendala, dan menjadi dilema.  Di satu sisi praktik ini bisa mengancam lingkungan karena menggunakan bahan mercury dalam jumlah besar. Tapi di sisi lain, masyarakat yang terlibat membutuhkan pekerjaan dan penghasilan ekonomi.

‘’Tapi kami sedang berupaya membuka zona-zona pertambangan rakyat. Kami sudah meminta sejumlah lokasi milik perusahaan tambang, yang kiranya bisa dikelola masyarakat,’’ katanya.

Pemda juga akan melakukan relokasi terhadap mesin-mesin gelondongan ke satu tempat khusus untuk memudahkan pengawasan.

Menurut Zulkifli, masalah pertambangan liar yang masih marak saat ini akan bias ditertibkan paling cepat 2013 mendatang. Salah satunya dengan membuka zona pertambangan rakyat yang pengelolaannya dibawah pengawasan Pemda.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan ESDM dan Pariwisata Sumbawa Barat, Hajamuddin menjelaskan, praktik penambangan emas illegal di Sumbawa Barat sudah marak sejak 2009 silam. Pemda sudah berusaha menertibkan dan mensosialisasikan pada masyarakat tentang bahayanya, namun praktik tetap terjadi.

Saat ini, paparnya ada lebih dari 2.000 unit mesin gelondongan beroperasi di Sumbawa Barat, tersebar di delapan Kecamatan.

‘’Kami sudah berusaha menertibkan, tapi sulit. Bahkan sudah ada larangan melalui edaran Bupati, tapi masyarakat justru datang dan meminta agar mereka dibina tapi tetap boleh menambang,’’ katanya.

Menurut Hajamuddin, rencana zona pertambangan rakyat kini sudah dibahas bersama pihak Badan Lingkungan Hidup Sumbawa Barat dan pihak DPRD Sumbawa Barat. Ia mengakui, dampak ekonomi praktik illegal mining di Sumbawa Barat sangat signifikan bagi masyarakat. Hal ini bisa dilihat langsung dari kemampuan masyarakat di desa yang mulai mampu membangun rumah bagus dan memiliki kendaraan bermotor. ‘’Tapi, masalah lingkungan harus tetap kita pertimbangkan,’’ katanya.

Perjalanan saya ke Batu Hijau dan pantuan di Sumbawa Barat, akhirnya menyimpulkan bahwa limbah tailing PT NNT bukan lagi hal yang sangat menakutkan jika dibandingkan pencemaran mercury dari praktik pertambangan emas liar masyarakat. Dan semua pihak yang peduli harus bersama-sama menumbuhkan kesadaran ini, demi kelestarian lingkungan di Sumbawa Barat, dan NTB pada umumnya.(Abdul Rasyid Zaenal)

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *