Bahas Pornografi, Menag Undang Artis

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, pihaknya akan mengundang kalangan artis, seniman, produser, kalangan media cetak, elektronik dan online guna membahas perlindungan anak dari bahaya pornografi dan pornoaksi.

‘’Perlu dilakukan dialog dengan sesama artis, praktisi media cetak, elektronik dan online. Termasuk produser film dan seniman dari berbagai daerah,’’ kata Suryadharma Ali kepada pers usai memberikan sambutan pada sosialisasi Undang-Undang (UU) No.44 Tahun 2008 Tentang Pornografi di Jakarta, Rabu (06/3).

Para seniman, artis dan para pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya, penting diajak berdialog. Sehingga, kedepan untuk mengimplementasikan Undang-Undang itu, sudah ada pemahaman, dimana rambu-rambunya. Ada kejelasan bagi pelaku seni.

Dengan cara itu, penerapan UU No.44 tahun 2008 itu, yang pada awal pembuatannya diwarnai pro dan kontra dari berbagai pihak, akan dapat terealisasi secara optimal. Ia mengakui keberhasilan dari UU tersebut, belum dapat diukur, tapi manfaatnya tentu sudah dapat dirasakan.

Kemenag sendiri, lanjut dia, akan melakukan survei seberapa jauh efektifitas dari UU itu. Tapi, pihaknya dalam menerapkan UU itu, tak akan menggunakan pendekatan represif. ‘’Kami lebih menggunakan pendekatan persuasif. Karena itu, berdialog dengan para pemangku kepentingan lebih dikedepankan,’’ ungkapnya.

Ditanya kapan pertemuan dengan kalangan artis, produser dan media massa tersebut dapat dilaksanakan, Menag Suryadharma Ali tak menyebut kapan dapat diselenggarakan. Tapi, sebaiknya secepatnya. Mengingat dewasa ini telah terjadi pergeseran nilai sosial keagamaan pada semua sendi kehidupan, khususnya yang terkait dengan norma sosial. Dahulu ada hal yang tabu, kini sudah menjadi hal biasa. Kumpul kebo (samenleven), perselingkuhan, industri seks (komersial), peredaran VCD porno, aborsi, perkawinan sejenis, pemerkosaan sudah menjadi fenomena di masyarakat.

Jika hal itu tak dilakukan pencegahan, maka bisa jadi era jahiliyah sebelum Islam, datang terulang. Menag pun mengakui bahwa era teknologi informasi demikian cepat telah mengubah situasi. Sebelum terjadi revolusi media, nilai kegadisan wanita dipandang sakral, suci dan jadi cermin watak kesalehan asli muslimah. Namun saat ini, nyatanya sudah ada kecenderungan di masyarakat memandang soal kegadisan wanita sebagai hal individu dan tidak penting dianggap sebagai tolok ukur kesucian wanita.

Lahirnya UU Pornografi, sejatinya dimaksudkan untuk menjaga nilai agama dan norma sosial dari ancaman pornogafi dan pornoaksi. Perkembangan teknologi informasi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari dengan berbagai efek buruknya. Karena itu, menurut Suryadharma Ali, penting akan kesadaran dan menjaga masyarakat dari pengaruh pornografi, yang harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Meski tekanan pornografi diperkirakan tak akan pernah habis untuk menggempur nilai agama dan norma sisial dengan berbagai kepentingan, seperti ekonomi, politik dan ideologi, tapi dengan adanya UU tersebut, dapat menjadi semacam penawar yang diharapkan dapat meminimalisir dampak buruknya.(ar/aga)

Leave a Reply

Your email address will not be published.