11 PIHK ‘Nakal’ Dikenai Sanksi

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama, Anggito Abimanyu menyatakan, tercatat 16 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) melakukan pelanggaran. Dari jumlah itu, 11 diantaranya dikenai sanksi dan peringatan keras.

‘’Pelanggaran PIHK, pada umumnya berupa memanfaatkan dana jamaah untuk keperluan pribadi, keterlambatan transfer, melakukan penggantian porsi jamaah, jamaah gagal berangkat dan tidak melayani jamaah sesuai perjanjian,’’ kata Anggito Abimanyu saat memberi penjelasan sebelum dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Ditjen PHU Kementerian Agama dan Polri tentang pengawasan dan penegakan hukum terhadap penyelenggaraan ibadah haji khusus dan umrah, di Jakarta, Selasa (19/3).

Ke-11 PIHK itu, adalah PT Oranye Patria Wisata, PT Tisaga Nurkhotimah, PT Farazah Astatama, Tour & Travel, PT Madani Prabu Jaya, PT Ghadzaz, PT Prima Astuti Sejahtera dan PT Kemang Nusantara. ‘’Mereka telah diberi peringatan dan ancaman pencabutan ijin,’’ ungkapnya.

Sementara lima PIHK lainnya, yaitu PT Noorhana Pertiwi, PT Madaniah Semesta Wisata, PT Laser Praktyasa, PT Al Ahram Sarana Wisata, dan PT Aero Global Indonesia, telah melakukan kesalahan yang masih ditoleransi karena unsur kelalaian.

Anggito menyebut beberapa nama perusahaan yang tidak memiliki ijin dan gagal memberangkatkan ratusan jamaah, antara lain PT Jabal Rahmah, PT Safarina Niaga Utama dan PT Aziz Audinia Wisata. Pada 2013 ini, telah terjadi kasus jamaah umrah telantar, baik di Indonesia, Malaysia maupun Arab Saudi, karena penyelenggarannya tidak bertanggung jawab atas kewajibannya. Mereka adalah PT Padang Arafah yang berdomisili di Jawa Timur (tidak memiliki ijin) dan menelantarkan 500 jamaah di Surabaya.

PT Gema Arofah (punya ijin) yang berdomisili di Jakarta, menelantarkan 98 jamaahnya di Kuala Lumpur disebabkan jadual yang tidak pasti. Selain itu, ketika di Arab Saudi, jamaah mereka pun tidak mendapat akomodasi sebagaimana mestinya. PT Nuansa Inti Semesta (tidak memiliki ijin), 49 jamaahnya telantar di Arab Saudi karena belum memiliki tiket pulang. PT Khalifah Sultan Tour (tidak memiliki ijin), 194 jamaahnya yang berasal dari Gorontalo telantar di Jakarta karena belum memiliki tiket pemberangkatan dan pemulangan.

Terkait hal itu, Anggito menjelaskan, pihaknya telah mengambil langkah penyelesaian. Pertama, memastikan kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) yang bertindak sebagai provider, yang saat ini berjumlah 88, hendaknya dalam memberikan visa hanya kepada PPIU yang telah memiliki ijin dari Kementerian Agama. Kedua, melakukan koordinasi dengan Kanwil Kemenag, kantor misi haji di Arab Saudi dan Kedubes di luar negeri untuk mengidentifikasi masalah jamaah umroh di dalam dan luar negeri. Ketiga, mengimbau masyarakat menggunakan biro perjalanan haji dan umroh resmi. Keempat, melakukan penanganan administratif hukum kepada penanggung jawab biro perjalanan dan kelima melakukan kerja sama dengan kepolisian.

‘’Jumlah jamaah haji khusus setiap tahun sekitar 17 ribu. Untuk jamaah umrah tahun 2012 lalu sekitar 500 ribu dan diperkirakan tahun 2013 ini akan mengalami peningkatan tajam,’’ ujarnya.(ar/ami/aga)

Kirim Komentar

Leave a Reply