Belarusia Lirik Indonesia di Sektor Industri Alat Berat

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Belarusia menyatakan keinginanya untuk berinvestasi di Indonesia, terutama untuk sektor industri alat berat. Keinginan itu disampaikan Menteri Perindustrian Belarusia, HE Mr Dmitry Katerinich ketika bertemu Menteri Perindustrian RI, Mohamad S Hidayat di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (19/3).

Pertemuan bilateral itu membahas upaya kerjasama kedua negara di berbagai bidang, khususnya untuk sektor industri alat berat. Selama ini Belarusia dikenal sebagai spesialisasi produsen alat-alat berat yang telah mengekspor 70 persen ke seluruh dunia.

‘’Mereka meminta ke pemerintah untuk dicarikan local partner dan lokasi yang strategis untuk investasinya. Selain itu, saya juga menjelaskan mengenai pemberian fasilitas insentifnya,’’ kata Menperin Mohamad S Hidayat didampingi Dirjen IUBTT, Budi Dharmadi, Dirjen KII, Agus Tjahajana, dan Dirjen BIM, Panggah Susanto.

Sampai saat ini, Indonesia merupakan mitra dagang Belarusia terbesar keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang dengan nilai total perdagangan sebesar 163 juta dollar AS pada 2011 lalu. Sedangkan pada 2012 lalu, tercatat adanya penurunan total perdagangan Indonesia–Belarusia menjadi 90,65 juta dollar AS akibat krisis ekonomi dunia khususnya di Eropa.

Produk ekspor utama Indonesia ke Belarusia adalah karet alam, produk ikan, ban, kakao, alas kaki, furniture, tekstil, tembakau, kopi, teh, minyak sawit, rempah-rempah, serat sintetis dan elektronik. Sementara itu, Indonesia memanfaatkan keunggulan Belarusia dalam memproduksi potasium, alat-alat berat, mesin-mesin pertanian, sistem persenjataan, dan teknologi tinggi.

Selain itu, keunggulan Belarusia di bidang pertanian penting dilakukan kerjasama guna mendukung program-program ketahanan pangan Indonesia.

Data Kemenperin menyebut, komoditas ekspor hasil industri terbesar Indonesia ke Belarusia pada tahun 2011 didominasi oleh produk pengolahan karet, yang mencapai nilai 772,402 dollar AS. Tren ekspor ini cenderung menurun pada 2007-2010, namun disusul oleh produk pengolahan kayu dengan nilai 556,188 dollar AS. Selain itu, data Kemenperin juga menunjukkan impor hasil industri terbesar Indonesia dari Belarusia pada 2007-2011 didominasi oleh produk pupuk yang mencapai nilai 151,5 dollar AS yang disusul dengan produk pengolahan karet sebesar 7,7 juta dollar AS.

Kemungkinan kerja sama bilateral ini dijajaki setelah Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarusia Djauhari Oratmangun meninjau langsung pabrik Belaz di daerah Zhodzina, 50 kilometer sebelah utara Minsk, ibu kota Republik Belarusia. Zhodzina merupakan daerah khusus kawasan industri pada era Uni Soviet sejak 1963. Daerah itu memiliki luas 19 kilometer persegi dan berpenduduk kurang lebih 61 ribu jiwa dengan sekitar 11 ribu warganya bekerja di perusahaan Belaz.

Belaz merupakan perusahaan peralatan berat yang berdiri tahun 1948 silam dan telah memproduksi lebih dari 12 ribu kendaraan. Belaz memiliki spesialisasi dalam memproduksi mining dump trucks kapasitas ekstra tinggi dan peralatan transportasi berat lainnya yang digunakan dalam industri pertambangan dan konstruksi. Produk truk dan angkutan berat Belaz telah diekspor ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Indonesia. Tahun 2012, telah dikirim lima unit truk kelas ringan tipe Belaz 75473 berkapasitas 45 metrik ton ke Indonesia untuk digunakan di pertambangan Kalimantan.(ar/ami/rin)

Kirim Komentar

Leave a Reply