P3DN Dongkrak Daya Saing Industri Nasional

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Untuk meningkatkan daya saing industri  nasional, diperlukan komitmen yang serius dalam mengahadapi tantangan industri nasional yang terus meningkat setiap tahunnya.

Sehingga, komitmen terhadap pengembangan produk dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah produk lokal, juga perlu ditingkatkan lagi. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto dalam Forum Koordinasi Kelompok Kerja Tim Nasional P3DN di Ruang Garuda Kemenperin, Jakarta, Selasa (19/3).

Dirjen BIM yang juga Ketua Sekretariat Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) mengatakan, industry pengolahan non migas nasional yang tumbuh 6,40 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,3 persen pada 2012 lalu, cukup menggembirakan mengingat pada periode 2005-2010, pertumbuhan industri pengolahan lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Namun, dengan semakin dekatnya implementasi perdagangan bebas, Timnas P3DN perlu berhati-hati mengambil langkah penguatan industri nasional, supaya pasar domestik tidak diserbu produk asing berharga murah. ‘’Untuk itu, sudah saatnya Indonesia menerapkan strategi smart policy melalui P3DN,’’ katanya.

Dirjen BIM Panggah Susanto menjelaskan, Forum Koordinasi Kelompok Kerja Tim Nasional P3DN dimaksudkan untuk mengingatkan komitmen dalam menggunakan produk bangsa sendiri. Dalam konteks P3DN, ini berarti upaya untuk memperdalam struktur industri nasional mulai dari hulu hingga hilir. Kedalaman struktur dicerminkan melalui angka capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kemenperin sendiri telah memulai inisiatif verifikasi TKDN sejak 2006 lalu, namun gaungnya hingga saat ini belum terasa sampai ke daerah. ‘’Indonesia jangan sampai tertinggal oleh Malaysia yang telah mengimplementasikan ‘Buy Malaysian’ yang kampanyenya diinisiasi pada 2010 lalu,’’ ungkapnya.

Hasil verifikasi capaian TKDN, lanjutnya, diberikan dalam bentuk sertifikat yang berlaku dua tahun. Hasil verifikasi itu, dikompilasi dalam buku Daftar Inventarisasi Barang/Jasa Produksi Dalam Negeri. Pada 2012 lalu, Kemenperin telah memfasilitasi verifikasi TKDN sebanyak 1.029 produk dan pada 2013 dianggarkan verifikasi untuk 1.000 produk. Angka ini, menurut Dirjen BIM, masih sangat kecil dibanding jumlah produk yang seharusnya perlu diverifikasi.

Disisi lain, dari sektor industri itu sendiri, masih belum memahami arti penting capaian TKDN, sehingga belum tergerak untuk mengetahui capaian TKDN-nya.

Dari sektor basis industri manufaktur, jelasnya, hanya terdapat 1.268 capaian TKDN produk bersertifikat yang masih berlaku hingga 2012, dengan nilai rata-rata capaian sertifikat berlaku sebesar 48,56 persen. Jumlah sertifikat terbanyak berasal dari sektor Barang Logam, yaitu sebanyak 604 sertifikat dengan rata-rata capaian TKDN sebesar 50,68 persen.

Banyaknya jumlah sertifikat dan tingginya capaian TKDN Barang Logam, didorong oleh dukungan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menggunakan produk penunjang migas buatan dalam negeri di setiap konstruksi pembangunan infrastruktur migas melalui enam perangkat hukum pendukung P3DN. Diantaranya adalah PTK BP Migas No.007 Revisi-2/PTK/IX/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa pada Kegiatan Hulu Migas.

‘’Dukungan itu berpengaruh signifikan pada penyerapan produk penunjang migas buatan dalam negeri. Data terakhir tahun 2010, Kementerian ESDM telah merealisasikan nilai pengadaan produk dalam negeri senilai USD 10,79 miliar dengan capaian TKDN rata-rata 63,4 persen,’’ ujarnya.

Adapun Kementerian lainnya yang telah mendukung implementasi P3DN adalah Kementerian BUMN, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pertahanan. Adanya dukungan tersebut, diharapkan dapat mengoptimalkan P3DN, khususnya dalam pengadaan barang/jasa pemerintah.

Untuk diketahui, potensi pengadaan barang/jasa pemerintah yang memungkinkan untuk penggunaan produk dalam negeri diantaranya; Sektor Migas; Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dengan nilai potensi puluhan miliar dollar. Sektor Energi; Pengadaan Tabung LPG, Kompor Gas dan Perlengkapannya, Program Pembangkit Tenaga Listrik. Pada 2011 lalu, nilai realisasi pengadaan proyek ketenagalistrikan menggunakan produk dalam negeri adalah senilai Rp25 triliun.

Selain itu, Sektor Telekomunikasi; Program Palapa Ring (Jaringan Fiber Optic) di KTI, Program Broadband Wireless Access (BWG), Wimax (Koneksi Internet). Sektor Pertahanan; Pengadaan Alutsista seperti senjata, kopel, ransel, lesan. Sektor Kesehatan; Pengadaan Alat Kesehatan seperti alat suntik, obat dan peralatan rumah sakit dengan nilai potensi lebih dari Rp14,7 triliun. Sektor Transportasi; Kapal (pengadaan Pertamina), Kendaraan Bermotor, Pesawat Terbang, Kereta Api. Pada 2011 lalu, nilai realisasi pengadaan produk dalam negeri sebesar USD 101,5 juta untuk pengadaan kapal tanker Pertamina. Dan Sektor Pendidikan; Pengadaan Pakaian Seragam dan Sepatu, Buku-Buku dan Alat-Alat Sekolah, Pembangunan Sekolah.(ar/ami/rin)

Kirim Komentar

Leave a Reply