Redam Defisit, Kendalikan Konsumsi BBM Bersubsidi

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Menteri Keuangan, Agus D.W. Martowardojo memperkirakan target defisit anggaran sebesar 1,6 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak dapat tercapai. Membengkaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM) tahun ini, menjadi ancaman utama melonjaknya defisit anggaran.

Jika tidak segera diatasi, kata Menkeu, defisit anggaran bahkan dapat mencapai 2 persen, karena terlalu besarnya subsidi.

Menkeu menjelaskan, berjalannya pengendalian konsumsi BBM bersubsidi menjadi kunci utama dalam meredam membengkaknya defisit anggaran pemerintah tersebut.

‘’Pengendalian BBM bersubsidi, kita harapkan di awal-awal tahun. Kalau sudah lewat dari semester pertama, dampaknya sudah buruk,’’ katanya.

Menurutnya, alasan lain terjadinya defisit anggaran yaitu kinerja perdagangan Indonesia yang masih negatif saat ini. Hal itu merupakan dampak dari gejolak harga komoditas, karena krisis global yang terjadi saat ini. ‘’Kemudian, juga pengaruh dari penerimaan pajak yang menurun, karena adanya dampak ekspor yang juga terkena krisis global,’’ ungkapnya.

Karena itu, pihaknya memiliki rencana lain untuk mengatasi masalah defisit anggaran, salah satunya melalui pengetatan anggaran untuk kementerian/lembaga. Hanya saja, pihaknya masih menunggu efektivitas dari pengendalian BBM bersubsidi.

‘’Walaupun sekarang kita sudah melakukan penyesuaian tarif listrik, itu dampaknya belum memadai. Jadi, penyesuaian harga BBM tentu masih menjadi alternatif walaupun alternatif terakhir,’’ ujarnya.(ar/ami/keu)

Kirim Komentar

Leave a Reply