Tak Ada Pembatasan dalam Kebijakan Waralaba

JAKARTA, Lomboktoday.co.id—Dengan Permendag No.07/2013, pengusaha waralaba tetap dapat mengembangkan usahanya, meskipun telah memiliki 250 gerai. Kebijakan baru waralaba ini, tidak menutup kesempatan bagi pemilik utama untuk terus mengembangkan gerai sebanyak-banyaknya, guna memajukan bisnis waralaba di Indonesia.

‘’Bagi pengusaha waralaba yang telah memiliki 250 company owned outlet, apabila ingin melakukan penambahan outlet/gerai ditawarkan dua bentuk kemitraan, yaitu waralaba atau kerja sama dengan pola penyertaan modal dengan mengutamakan Usaha Kecil Menengah (UKM),’’ kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan pada acara diskusi mengenai penataan usaha waralaba restoran, rumah makan dan minuman di Auditorium Kemendag, Jumat (22/3).

Mendag Gita Wirjawan menjelaskan, kebijakan waralaba yang tertuang pada Permendag No.07/2013 ini, dapat mendorong pengusaha waralaba untuk tetap berkreasi dengan memberikan kesempatan bagi UKM untuk melakukan usaha waralaba. Melalui kemitraan itu, Mendag berharap pengusaha besar dan UKM dapat tumbuh dan berkembang bersama, saling memperkuat, saling membutuhkan, dan saling menguntungkan.

UKM calon mitra usaha waralaba, menurut Mendag, tentu harus memahami kemampuan pembiayaan, kecenderungan jenis usaha yang diminati dan mempelajari kemungkinan peluang usaha yang dapat dimasuki sebagai calon wirausaha baru.

‘’Dengan kisaran modal Rp1,6 miliar-Rp4 miliar untuk waralaba restoran/café asing seperti McDonalds, Pizza Hut, dan KFC, serta Rp400 juta-Rp2 miliar untuk waralaba lokal seperti Coffee Toffee, Sari Ratu, dan Es Teler 77, sebetulnya tidak terlalu berat bagi calon wirausaha baru untuk terjun ke dalam bisnis waralaba. Selain tidak perlu untuk memulai usaha dari nol, bisnis waralaba juga lebih menjanjikan dari segi pemasaran dan segmentasi pasar,’’ ungkapnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina menambahkan, untuk pilihan kerja sama waralaba langsung, tidak diatur berapa jumlah gerai yang dapat diwaralabakan setelah kepemilikan 250 gerai. Namun, apabila perusahaan lebih memilih kemitraan dengan cara penyertaan modal, untuk nilai investasi gerai di bawah atau sama dengan Rp10 miliar, maka paling sedikit 40 persen wajib menyertakan modal pihak lain dengan mengutamakan pengusaha UKM.

Untuk nilai investasi gerai di atas Rp10 miliar, paling sedikit 30 persen diwajibkan menyertakan modal pihak lain dengan mengutamakan pengusaha UKM. ‘’Dengan adanya dua pilihan itu, pengusaha rumah makan, restoran, bar/rumah minum dan café, masih dapat meningkatkan kepemilikan jumlah gerai yang dimiliki. Berarti pemberi waralaba atau pengusaha pemilik waralaba dimaksud, masih dapat memiliki dan mengendalikan 60 persen modalnya untuk nilai investasi gerai di bawah atau sama dengan Rp10 miliar, dan 70 persen untuk investasi gerai di atas Rp10 miliar,’’ kata Srie Agustina.

Kerjasama dengan pola penyertaan modal, bisa dalam bentuk kerjasama untuk penyediaan lokasi usaha, interior dan pendukungnya, yakni biaya operasi, serta biaya bahan dan pasokan yang selama ini lazimnya dilakukan dalam membangun sebuah gerai waralaba. Pemodal akan mendapatkan pembagian keuntungan tertentu dari omzet setiap bulan berdasarkan perjanian kedua belah pihak.

Keikutsertaan wirausaha baru dalam pola kerjasama penyertaan modal itu, diharapkan dapat turut memberikan saran pengembangan usaha walau tidak mengikat. Ada transfer pengetahuan melalui keikutsertaan dalam manajemen pengelolaan usaha sebagai karyawan yang bersertifikasi dari perusahaan, serta dapat memberikan wawasan untuk berinisiatif mengembangkan merek lokal waralaba yang baru.

Transfer pengetahuan dimaksud, sejalan dengan Pasal 8 Permendag No.07/2013 yang mewajibkan pemberi waralaba (franchisor) untuk jenis usaha restoran, rumah makan, bar/rumah minum dan café melakukan pembinaan kepada penerima waralaba dan/atau penyerta modal berupa pelatihan dan petunjuk pengelolaan usaha waralaba. Itu bertujuan untuk mentransfer pengetahuan pengelolaan usaha secara profesional. Dengan begitu, pengusaha UKM dan wirausaha-wirausaha baru dapat menjadi pengusaha yang profesional, tidak sekadar menaruh uang dan mengharapkan keuntungan.(ar/ami/dag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *