Warga Blokir Jalan Masuk Proyek Pandandure

BLOKIR JALAN: Warga Dusun Sunya, Desa Suangi, Kecamatan Sakra, memblokir jalan masuk menggunakan batu besar ke lokasi proyek pembangunan Dam Pandandure.
BLOKIR JALAN: Warga Dusun Sunya, Desa Suangi, Kecamatan Sakra, memblokir jalan masuk menggunakan batu besar ke lokasi proyek pembangunan Dam Pandandure.
BLOKIR JALAN: Warga Dusun Sunya, Desa Suangi, Kecamatan Sakra, memblokir jalan masuk menggunakan batu besar ke lokasi proyek pembangunan Dam Pandandure.

LOTIM, Lomboktoday.co.id—Belasan warga Dusun Sunya, Desa Swangi, Kecamatan Sakra, memblokir jalan masuk ke lokasi proyek pembangunan bendungan Dam Pandandure, sekitar pukul 10.00 Wita, Selasa (23/4).

Pemblokiran itu dilakukan dengan menggunakan batu besar yang ditaruh di tengah jalan lokasi masuk proyek, sehingga menyebabkan truk pengangkut bahan material proyek tidak bisa masuk.

Aksi pemblokiran itu merupakan bentuk protes yang dilakukan warga terhadap Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, karena hingga saat ini belum melakukan ganti rugi bangunan masjid Suangi yang telah dirobohkan oleh pihak proyek. Pihak proyek beralasan pembongkaran masjid itu, pembayarannya sudah selesai.

Pantuan Lomboktoday.co.id, aksi pemblokiran jalan yang dilakukan warga Suangi itu membuat pihak proyek tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, dampaknya akan menganggu aktivitas pengerjaan proyek yang sedang berlangsung. ‘’Kami akan melakukan pemblokiran jalan ini sampai pemerintah daerah merespon apa yang menjadi tuntutan kami, bahkan akan melakukan pemblokiran yang lebih besar lagi,’’ kata salah seorang tokoh masyarakat Dusun Sunya, Desa Suangi, M Rais kepada wartawan di lokasi pemblokiran jalan.

M Rais didampingi para warga lainnya mengatakan, warga mengaku marah terhadap sikap pemerintah daerah yang berjanji akan menyelesaikan ganti rugi masjid yang terkena imbas dari proyek tersebut. Bahkan, pemerintah daerah mengatakan kalau uangnya sudah masuk ke rekening bank, tapi setelah dikross chek di bank, justeru uangnya tidak ada masuk. Sehingga, apa yang dilakukan pemerintah daerah, dinilai telah mempermainkan warga.

Sejak 1996 lalu, pemerintah daerah sudah merencanakan akan melakukan pembebasan bangunan masjid yang terkena dampak pembangunan proyek. Tapi, sampai saat ini justeru malah belum diselesaikan. ‘’Siapa yang tidak marah dijanji terus, sementara realisasinya tidak ada. Pemerintah daerah harus segera merespon apa yang menjadi tuntutan kami, agar pembangunan proyek tetap berlanjut,’’ ungkapnya.

Di tempat terpisah, Humas PT Waskita, Lalu Muhammad Aris mengatakan, terhadap aksi yang dilakukan warga Suangi itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Karena, mengenai urusan pembebasan lahan adalah pemerintah daerah dengan masyarakat sekitar lokasi proyek pembangunan Dam Pandandure.

Tapi, dengan adanya aksi itu, tentu mengganggu aktivitas kerja proyek, terutama dalam memasukkan material ke dalam lingkungan proyek. Mengingat warga memblokir dengan menggunakan batu besar yang ditaruh di tengah jalan
masuk menuju proyek. ‘’Yang jelas, kami merasa terganggu dengan aksi itu, tapi kami tidak bias berbuat banyak terhadap pemblokiran jalan yang dilakukan warga. Karena itu, kami minta pemerintah daerah segera menyelesaikan permasalahan pembebasan lahan milik warga yang belum diganti rugi hingga saat ini,’’ katanya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setdakab Lotim, H Najamudin mengatakan, untuk pembebasan lahan dan ganti rugi dengan anggaran dari dana APBD Lotim tahun 2013 sebesar Rp7,5 miliar sudah habis dilakukan. Tinggal menunggu anggaran sharing dari dana APBD Propinsi NTB yang sedang dalam proses. ‘’Dalam pembayaran ganti rugi, ada mekanisme yang dilakukan agar nanti tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Warga yang belum dibebaskan, diminta untuk bersabar. Karena, pemerintah daerah tetap akan menyelesaikan pembebasan lahan ini,’’ katanya.(sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *