Ada Kebun Raya di Waiwerang

KEBUN RAYA: Kebun Raya Kota Waiwerang yang tak terurus meski kini sementara difungsikan menjadi pasar hewan dan beberapa aktivitas lainnya. Kapan akan kembali kepada ide awal disediakannya lokasi ini? Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id
KEBUN RAYA: Kebun Raya Kota Waiwerang yang tak terurus meski kini sementara difungsikan menjadi pasar hewan dan beberapa aktivitas lainnya. Kapan akan kembali kepada ide awal disediakannya lokasi ini? Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id
KEBUN RAYA: Kebun Raya Kota Waiwerang yang tak terurus meski kini sementara difungsikan menjadi pasar hewan dan beberapa aktivitas lainnya. Kapan akan kembali kepada ide awal disediakannya lokasi ini? Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id

ADONARA, Lomboktoday.co.id—Kota Waiwrang yang kini menjadi salah satu kota kecamatan (Kecamatan Adonara Timur) sekaligus sementara ini menjadi pusat bisnis di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, ternyata memiliki perencanaan yang setara dengan pemikiran pendiri negara.

Bagaimana tidak? Di pulau yang kecil dan terpencil itu, sudah terdapat kebun raya. Jika tak keliru, di seantero Nusantara ini, hanya ada dua kebun raya, yakni di Bogor, Jawa Barat, dan di Waiwerang, Pulau Adonara.

Sayang sekali, kebun raya yang digembar-gemborkan ini, sungguh tak terawat dengan baik, bahkan terkesan ditelantarkan. Ada sementara orang yang bahkan menggunakan tempat ini untuk latihan sepak bola. Bahkan beberapa waktu belakangan, kawasan yang mulai tampak tak terurus bahkan bisa saja berpotensi menjadi perusak wajah Kota Waiwerang ini, dimanfaatkan jadi pasar hewan. Ya, barangkali lebih baik demikian, daripada dibiarkan benar-benar tak bermanfaat.

Pemanfaatan untuk tujuan lain yang jauh lebih berguna, tentu tak masalah, sepanjang hal itu untuk mendongkrak ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, pemerintah tampkanya perlu menghargai perjuangan awal tersedianya lokasi ini. Di tengah Kota Waiwerang yang sungguh gersang, dan setiap kemarau selalu ditutupi debu dengan panas menyengat yang seakan membakar ubun-ubun, bukan suatu yang salah kiranya tempat ini dijadikan hutan kota.

Adakah pemikiran ke arah sana? Mudah-mudahan, dengan terpilihnya kembali putra Adonara, Fransiskus Lebu Raya menduduki kursi NTT 1, akan merealisasikan hal ini, walaupun tentu saja bukan putra terbaik asal Desa Watoone, Kecamatan Witihama ini akan turun langsung, melainkan ‘memerintahkan’ pejabat di bawahnya untuk ‘buka mata’ menggali potensi yang ada dan mengembangkannya.

Pengembangan kawasan ini menjadi hutan kota bahkan kebun raya seperti yang dicita-citakan, tentu akan jauh lebih berdaya guna dibandingkan nasibnya sekarang yang hanya sebagai padang tandus tak terurus, bahkan selalu menimbulkan tanda tanya bagi para pendatang di daerah ini. ‘’Siapa sih yang punya tanah seluas ini? Kok dibiarkan telantar ya,’’ celetuk mereka.

Dilihat dari lokasinya yang sungguh strategis, sebenarnya Pemkab Flores Timur terkesan begitu lama membiarkan tempat ini mirip barang rongsokan. Padahal di sekitar tempat ini, terdapat sebuah sungai yang mengalir sepanjang musim, tak seperti kebanyakan sungai yang kering di tengah kemarau (Wai Belaha).

Kalau tidak jadi kebun raya atau hutan kota, paling tidak jadi kebun jagung. Bayangkan saja, berapa ton jagung dapat dihasilkan dari areal seluas ini, bahkan mungkin beras dengan dukungan Wai Belaha? Marilah berpikir lebih ekonomis atau sekurang-kurangnya praktis. Sebab, tampaknya bukan alam yang kurang ramah melainkan manusia yang belum bisa memanfaatkan dengan baik. Semoga berguna.(ama)

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *