Harap-harap Cemas Menanti Panen Jambu Mete

JAMBU METE: Tanaman musiman ini mulai berbunga dan bakal buah pun mulai muncul. Jika tak hujan tak terlalu lebat mengguyur, mungkin akan banyak hasil yang akan dipanen. Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id
JAMBU METE: Tanaman musiman ini mulai berbunga dan bakal buah pun mulai muncul. Jika tak hujan tak terlalu lebat mengguyur, mungkin akan banyak hasil yang akan dipanen. Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id
JAMBU METE: Tanaman musiman ini mulai berbunga dan bakal buah pun mulai muncul. Jika hujan tak terlalu lebat mengguyur, mungkin akan banyak hasil yang akan dipanen. Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id

WITIHAMA, Lomboktoday.co.id—Tanaman  jambu mete di sejumlah tempat di Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berbunga dan bakal buah pun mulai muncul.

Namun, bunga yang banyak ini belum terlampau meyakinkan petani akan banyaknya hasil yang akan dipanen, sehubungan degan curah hujan yang tiada menentu beberapa waktu terakhir. ‘’Kita tak bisa terlalu banyak mengharapkan hasil. Jika hujan terus seperti ini, bunga mete akan kering dan hancur. Akhirnya kita tak bisa panen apapun,’’ kata Sabon yang merelakan sepetak kebunnya untuk tanaman jambu mete.

Sabon maupun kebanyakan petani di daerah ini, betapa besar resikonya menanam jambu mete. Mereka harus merelakan tanaman semusim lainnya yang selalu memenuhi kebutuhan pokok mereka, seperti jagung, padi lokal, maupun palawija lainnya. Namun, pilihan menanam jambu mete tetap dilakukan, karena harapan akan memperoleh uang yang lebih cepat. ‘’Tinggal panen, timbang, datanglah duit,’’ ucapnya.

Jambu mete. Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id
Jambu mete. Foto: Kopong Gana/Lomboktoday.co.id

Tapi, untuk memperoleh sekeping uang itu, para petani harus merelakan ladangnya yang subur untuk jambu mete. Sebab, di tempat jambu mete tumbuh, tak ada tanaman lain yang sanggup tumbuh, bahkan rumput pun enggan. Untuk mengembalikan kesuburan tanah, usai tanam jambu mete, lading harus dibiarkan menjadi hutan dulu dalam beberapa tahun. Pilih mana? Itu belum seberapa, belum lagi permainan harga yang diduga keras terjadi di tingkat tengkulak. Rantai perdagangan yang sungguh panjang dari produsen (petani) hingga pabrik sedemikian jauh.

Tak hanya sekadar sampai di Waiwerang sebagai pusat aktivitas bisnis di Pulau Adonara, tapi selanjutnya akan dikapalkan menuju Surabaya. Fakta yang ada, petani tak memiliki cukup jaringan untuk memperoleh harga yang cukup layak atas jerih payah mereka.(ama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *