Tradisi Nyongkolan Ramaikan Car Free Day di Jakarta

Nyongkolan
Suasana tradisi Nyongkolan meramaikan jalur car free day Bundaran HI Jakarta.

JAKARTA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Beragam atraksi seni dan budaya khas Suku Sasak Pulau Lombok dan Suku Samawa dan Mbojo Pulau Sumbawa, NTB, pada Minggu (16/6) mewarnai dan turut meramaikan jalur car free day, dari pintu barat Monas di depan kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), hingga bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta.

Budaya Nyongkolan diiringi musik tradisional Gendang Beleq yang melintasi Monas – Bundaran HI merupakan salah satu ikon Parade Budaya Lombok Sumbawa 2013, yang menyedot perhatian masyarakat di kawasan itu.

Parade yang melibatkan lebih dari 1.500 peserta, itu dilepas oleh Sekda NTB, H Muhammad Nur bersama Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Awanadhi Aswinabawa, Minggu pagi dari halaman kantor Kemenparekraf, dihadiri sejumlah pelaku wisata NTB dan Jakarta juga pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Selain bisa menghibur masyarakat Jakarta yang sedang berolahraga, joging dan bersepeda di jalur tersebut, parade budaya yang digagas BPPD NTB bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTB, ini menjadi sarana promosi daerah yang efektif untuk mengenalkan potensi wisata di NTB.

“NTB merupakan salah satu provinsi yang ditetapkan sebagai pintu gerbang pariwisata nasional, bersama tetangga Bali dan NTT. Lewat kegiatan ini Pemprov NTB berharap potensi pariwisata NTB bisa lebih dikenal. Bukan hanya keindahan alam saja, tetapi NTB juga memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang bisa dinikmati wisatawan,” kata Sekda NTB, H Muhammad Nur.

Nur berharap, parade akan meningkatkan animo masyarakat Jakarta khususnya untuk mau berkunjung dan menghabiskan liburannya di Lombok dan Sumbawa.

Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Tinia Budiati mengatakan, pihaknya menyambut baik promosi wisata Parade Budaya Lombok Sumbawa itu di Jakarta.

Menurutnya, Jakarta sebagai ibukota negara dan juga salah satu destinasi wisata nasional memiliki potensi yang bagus juga bagi pariwisata daerah seperti di NTB. “Ini langkah promosi yang tepat,” katanya.

Parade dimulai dengan iring-iringan adat Sasak Sorong Serah atau Nyongkolan. Adat budaya asli suku Sasak (suku asli pulau Lombok) dalam mengiringi mempelai pengantin ini, hingga kini masih lestari di pulau Lombok. Kesenian yang mengiringi Nyongkolan adalah musik tradisional Gendang Beleq (Gendang Besar) yang juga ditampilkan dalam parade.

Iring-iringan mempelai dari Sumbawa Barat, juga ditampilkan dengan barisan wanita menggunakan pakaian khas Betedung Kare Dua atau berkerudung dua. “Kami bangga sekali bisa menampilkan budaya Sumbawa Barat ini di Jakarta. Betedung Kare Dua ini adalah kerudung khas wanta Sumbawa Barat dimana dua sarung digunakan sebagai kain bawah dan kerudung, untuk menyambut mempelai penganting,” kata Darmiyanti, Ketua Sanggar Tari Batu Tondu, Sumbawa Barat, yang turut tampil dengan busana khasnya.

Selain budaya, sejumlah atraksi seni ketangkasan juga ditampilkan dalam parade. Presean atau adu saling pukul dengan cemeti rotan tampil dalam parade diiringi musik tradisional Kecimol khas Lombok.

Atraksi Ngurek, atau memamerkan kekebalan tubuh juga ditampilkan dalam parade. Sejumlah pria dengan pakaian khas Sasak dan bertelanjang dada, menggunakan keris dan senjata tajam lainnya untuk menyerang diri sendiri tanpa terluka. “Cukup menghibur ya. Mirip debus, tapi ini lebih unik lagi,” kata Agus Mulyanto, warga Jakarta yang sedang bersepeda bersama dua anaknya.

Agus yang bekerja di sebuah bank nasional di Jakarta ini, mengaku belum pernah ke Lombok, namun berencana akan berlibur ke Lombok di musim liburan sekolah nanti.

Ketua BPPD NTB, Awanadhi Aswinabaswa mengatakan, apa yang ditampilkan dalam Parade Budaya Lombok Sumbawa itu merupakan sebagian kecil dari seni dan budaya yang ada di NTB yang terdiri dari Lombok dan Sumbawa.

“Wisatawan bisa melihat lebih banyak lagi keindahan seni dan budaya NTB, jika berkunjung langsung ke Lombok dan Sumbawa. NTB sangat kaya seni dan budaya, sehingga tidak salah kalau kita sebut experience the wonder,” katanya.

Sebagai Provinsi yang masuk dalam koridor ekonomi V MP3EI bersama, Bali dan NTT, papar`Awan, NTB sudah serius dan berhasil mendorong sektor pariwisata dengan program Visit Lombok Sumbawa 2012 tahun lalu, yang menargetkan kunjungan 1 juta wisatawan dalam setahun.

Ke depan, selain keindahan alam, kekayaan seni dan budaya juga akan terus dipromosikan untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke NTB di tahun-tahun mendatang.

Awan mengatakan, salah satu upaya meningkatkan kunjungan, saat ini NTB sedang berupaya menggagas event peringatan 200 tahun atau 2 abad meletusnya gunung Tambora di pulau Sumbawa tahun 2015. Berdasarkan sejarah, letusan Tambora berdampak hingga perubahan musim di Eropa tahun 1815 silam.

Event Tambora Menyapa Dunia 2015 dengan target mendtangkan kunjungan 2 juta wisatawan ke NTB di tahun 2015, akan dilaunching di kantor Kemenparekraf RI, di Jakarta Minggu malam (16/6). “Dengan event Tambora Menyapa Dunia 2015, kami yakin kunjungan wisata ke NTB bisa menembus angka 2 juta per tahun di tahun 2015 mendatang,” katanya.(gra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *