Berjibaku Petani Kopra di Pulau Adonara

WITIHAMA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Tuntutan kehidupan memang tidak ringan. Toh, bagi masyarakat Watoone di Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan yang sulit dan keras ini dijalani dengan penuh sukacita.

Bagi kebanyakan orang di bagian dunia yang lain, naik turun bukit hanya  untuk mengurus kopra yang jika ditimbang, sekilo hanya Rp2 ribu, tentu suatu hal yang agak “gila”.

Dan, jangan lupa, sebelum jadi kopra, begitu panjang proses yang harus dilalui. Kopra yang dijual harus benar-benar kering, jika tidak, akan dikomplain pedagang pengumpul dan harganya jatuh lebih tragis lagi dari Rp 2 ribu, atau bahkan ditolak mentah-mentah.

Maklumlah, sang pedagang pengumpul juga akan menjualnya kembali kepada saudagar kopra yang lebih besar lagi di Kota Tua Waiwerang, untuk selanjutnya dikapalkan ke Surabaya, Jawa Timur.

Hal semacam itu memang sudah berlangsung sejak dulu, sejak zaman penjajahan Belanda hingga Jepang, dan terus berlanjut di saat negeri ini sudah merdeka. Bahkan di saat ini, harga kopra yang diolah dengan susah payah dengan full tenaga manusia itu, seakan-akan jadi objek mainan para saudagar kopra yang besar.

Kondisi kopra yang kurang baik atau tidak terlalu kering berpotensi merugikan pedagang. Karena itu, pedagang yang takut rugi, senantiasa memperhatikan kualitas kopra setiap kali penimbangan.

Memproses kelapa menjadi kopra yang baik memang tak seberapa sulit, namun beberapa tahapan perlu dilewati. Mulai dari mengupas kulit kelapa, pengasapan, hingga kering lantas dipisahkan dari batok.

Namun untuk sekarang ini, apalagi di tengah kemarau yang panas, proses membuat kelapa menjadi kopra jauh lebih mudah, namun tetap saja menguras tenaga. Kelapa langsung dibelah beserta sabutnya kemudian dijemur hingga kering agar lebih mudah dipisahkan kopra dari batoknya.

Upacara selanjutnya, kelapa dari kebun yang nun jauh di atas/di balik  bukit, diangkut dengan tenaga manusia kemudian dibawa dan dijual di kampung halaman, baik di tempat pedagang pengumpul, atau ada pula mobil yang khusus lewat yang akan menimbang kopra itu.

”Paling-paling hanya untuk beli ‘main welak‘ (Bahasa Lama Holot: Satu ikat ikan kering,Red),” ujar salah seorang warga Veronika Buka Asan.(ama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *