Pantai Wa’a, Pesona Pasir Hitam yang Menggoda

DAYA TARIK: Pantai Wa’a, di Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]

WITIHAMA, LOMBOKTODAY.CO.ID – Pantainya memang tidak berpasir putih. Sepintas tak ada bedanya dengan kebanyakan pantai yang menyuguhkan pemandangan laut pada umumnya.

Lantas apa yang membuat Pantai Wa’a atau Wa’ane sedemikian diminati penduduk lokal sekadar untuk piknik keluarga?  Pertanyaan ini ternyata tak mudah dijawab, karena bukan sehari atau dua hari lalu, pantai Wa’a diminati banyak warga. Tak tanggung-tanggung di hari libur, warga  dari berbagai pelosok di seantero Kecamatan Witihama dan sekitarnya, mau datang ke tempat ini.

Selain melepas lelah, mereka juga mandi di pantai yang sebenarnya air lautnya pun tak seberapa bersih, karena tak jauh dari pantai ini,  ada kali belerang yang sekali waktu terjadi banjir belerang lengkap dengan angkutan material batu maupun  kayu menuju laut.

Syukurlah  beberapa waktu terakhir, bahkan  sejak sekitar 10 tahun silam, tak ada lagi  banjir   belerang dari Gunung Boleng. Meski dengan begitu, tak sedikit warga yang kesulitan mencari material batu pasir untuk membangun rumah atau keperluan lainnya.

Tiada yang tahu persis, mengapa  banjir  belerang yang selalu hadir setiap kali musim hujan itu mendadak   berhenti. Bahkan kali belerang yang terdiri dari batu bekuan lava Gunung Boleng itu, kini kebanyakan tertutup perdu yang rimbun.

Kembali ke Pantai Waa yang  menghadap langsung ke Pulau Lembata, persisnya Kota Lewo Leba dengan Gunung Laba Lekang di kejauhan dan Ile Ape persis di depan mata.  Tampaknya pandangan ke laut lepas yang dibatasi jejeran bukit di seberang laut telah memukau banyak orang. Banyaknya warga yang berkumpul di tempat ini  seakan tak lagi mempersoalkan apakah pantai ini berpasir putih atau hitam, apakah lautnya kotor atau  bersih.

Yang jelas, Pantai Waa memiliki kenangan dan magnet sendiri yang menarik orang  untuk  datang dan menyaksikan keindahannya dari dekat. Di sisi lain, meski rasanya agak payau, di pantai ini terdapat sebuah sumur. Sumur ini di beri nama Willy. Entah mengapa sumur ini diberi nama agak “gaul” seperti ini.

Yang jelas, sumur ini  berfungsi ganda.  Selain  untuk bilas sehabis mandi di Waa, juga dipakai untuk air minum setelah dimasak  bagi  warga yang kebunnya tak jauh dari pantai ini. Bahkan di zaman Witihama dan sekitarnya masih pontang-panting dengan air yang serba kritis,  Willy sempat menjadi salah satu urat nadi disamping Sumur Wulen Tobi.(ama)

Responses (2)

  1. It’s the best time to make some plazns for the future and it’s time to be happy.
    I’ve read this post and if I could I want to suggest yyou few
    interesting things or suggestions. Maybe you can write next articles
    referring to this article. I desire to read more things about it!

    my website; PPS pilkada honor kerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *