Bayan, Tonggak Sejarah Islam di Lombok

MASJID KUNO. Sejumlah wisatawan melihat Masjid Kuno Bayan Beleq, salah satu masjid tertua di Pulau Lombok, NTB/Danu Winata/lomboktoday.co.id

KLU, LOMBOKTODAY.CO.ID – Dalam berbagai litelatur kuno tentang sejarah Islam di Pulau Lombok, menyebutkan awal kedatangan Islam diperkirakan terjadi sekitar abad 16 Masehi, melalui pesisir Bayan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Penyiar awalnya adalah Sunan Prapen, yang tidak lain adalah keturunan salah satu dari Wali Songo di tanah Jawa.

Sumber lain menyebutkan, Islam di Lombok juga diperkirakan sudah ada sejak abad 13, berbarengan dengan masuknya Islam di Pulau Jawa. Konon menurut sejarah, dibawa oleh pedagang-pedagang Arab, meski tidak banyak naskah-naskah yang menuliskan bukti tersebut, termasuk tidak ada ditemukan bukti artefaknya hingga saat ini.

Terlepas dari banyaknya persepsi tentang sejarah awal kedatangan Islam ke Lombok, Bayan tetap diyakini masyarakat luas sebagai daerah pertama yang mengenal Islam. Setelah itu baru menyebar ke seluruh penjuru pulau Lombok, hingga kawasan barat dan timur.

Hal itu didukung dengan adanya sejumlah bukti artefak yang hingga kini masih bisa dijumpai di daerah bayan, salah satunya Masjid Kuno Bayan dan Alquran tulis tangan berusia ratusan tahun. “Ada beberapa persepsi mengenai sejarah kedatangan Islam ke Lombok, namun yang paling umum, Islam  diperkirakan pertama kali datang abad ke 16, dibawa Sunan Perapen dari tanah Jawa,” ungkap tokoh adat Bayan, Raden Gedarip.

Berdasar satu dari sekian banyak persepsi sejarah Islam Lombok, orang pertama yang memeluk agama Islam di Bayan bernama Titi Mas Supakel.

Tokoh Adat Bayan, Raden Gedarip
Tokoh Adat Bayan, Raden Gedarip

Dalam cerita sejarah yang ada, beliau diceritakan memiliki lima orang putra-putri, empat laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka antara lain Titi mas Rempung, Titi Mas Muter, Titi Mas Sunsunan, Titi Mas Bunbunan, dan Titi Mas Pande. Dari ke lima putra-putri titi mas supakel itu, hanya Titi Mas Pande yang diketahui memiliki kemampuan lebih dan di percaya oleh ayahnya sebagai penguasa adat.

Setelah memeluk agama Islam maka sebagai tanda ke-Islamannya Titi Mas Supakel mengkhitankan empat putranya, namun di antara keempat putranya tersebut, yaitu Titi Mas Bunbunan menolak dikhitan. Karena tidak bersedia dikhitan, Titi Mas Bunbunan dikirim ayahnya untuk mencari ilmu ke Bali, seiring waktu Titi Mas Bunbunan pun masuk agama Hindu kemudian menetap di Bali.

Putra Titi Mas Supakel yang lain, yakni Titi Mas Sunsunan dikirim ke pejanggik yang kemudian juga menetap disana. Setelah semua putra beranjak dewasa, Titi Mas Supakel memutuskan pindah ke Gunung Batua dan menyerahkan kepemimpinan Datu Bayan kepada anaknya yang paling besar yaitu Titi mas Rempung.

Namun, tidak lama menjadi Datu Bayan, tahta kepempinan diserahkan kembali kepada adik perempuannya yaitu Titi Mas Pande, sehingga pimpinan di wilayah Kedatuan Bayan di pimpin oleh seorang perempuan dan sekaligus sebagai pemimpin adat pada waktu itu. Ketika Titi Mas Pande menjadi pemimpin kedatuan Bayan, pelaksanaan adat berjalan bersama dengan pelaksanaan agama  sehingga Titi Mas Pande di kenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang adil arif dan bijaksana.

Bersamaan dengan pindahnya ayah mereka ke Gunung Batua, putra kedua dari Titi Mas Supakel yaitu  Titi Mas Muter dikirim ke mekah untuk mendalami Islam dan sekaligus untuk menunaikan ibadah haji. Setelah cukup lama menuntut ilmu di tanah mekah, titi mas muter di sarankan sang guru untuk kembali ke negerinya. Titi mas muter pun mendapatkan gelar Syekh Nurul Rosid.

Diceritakan dalam perjalanan pulang Titi Mas Muter yang sudah berganti nama Syekh Nurul Rosid singgah di Bagdad, Iraq untuk memperdalam ilmunya. Setelah lama berguru dan belajar di Iraq, Syekh Nurul Rosid kembali berganti nama menjadi Gaus Abdul Rozak, baru setelah mendapatkan gelar tersebut Gaus Abdul Rozak melanjutkan kembali perjalanan pulang ke negerinya.

Sejak kedatangannya pertama kali di pulau Lombok, melalui pelabuhan carik bayan, para Sunan pembawa Islam terus menyebarkan dakwahnya kepada warga lokal di sekitar kawasan pesisir. Masyarakat diberikan pemahaman-pemahaman tentang kebesaran Islam, menyampaikan ajaran ketauhidan. Seiring waktu, dengan pola komunikasi dan pendekatan positif, masyarakat Bayan saat itu perlahan membuka diri, Islam-pun akhirnya diterima masyarakat Sasak Bayan.

Konversi keyakinan secara besar-besaran terjadi. Paham-paham dan praktik animisme mulai ditinggalkan, meski sebagaian masyarakat suku sasak terutama yang berada di daerah-daerah pedalaman belum mampu melepaskan diri sepenuhnya dari ideologis keyakinan local yang telah diyakininya sejak lama.

Namun begitu, Islam di Lombok tidak berupaya memposisikan dirinya secara diametral sebagai kelompok keyakinan yang eksklusiv dengan budaya local yang sudah dijalani masyarakat sasak pada saat itu. Islam membiarkan dirinya dipraktikkan dalam tradisi-tradisi lokal masyarakat. Perkembangan Islam di Pulau Lombok, Bayan pada khususnya berjalan beriringan dengan eksisitensi budaya dan karakteristik sosial masyarakat hingga kini.

Membahas Islam di tengah masyarakat Sasak Lombok, maka akan terfokus pada dua paham keagamaan yang ada, yakni Islam waktu lima (atau Islam yang dikonotasikan sebagai Islam syariat) dan Islam Wetu Telu, sebuah konsep pemahaman keyakinan tradisonal yang dipraktikkan masyarakat suku Sasak Lombok secara kolektif sejak ratusan tahun silam.

Islam berkembang dengan pesat. Puluhan bahkan ratusan tahun setelah kedatangannya ke pulau Lombok, kini Islam mampu meletakkan dasar ajaran-ajaran ketauhidannya sebagai pegangan hidup bagi jutaan jiwa masyarakat sasak Lombok pada umumnya.(Naskah dan Foto: Danu Winata/Lomboktoday.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *