“Gawe Nyiu”, Ketika Para Arwah Bersedekah

SORONG SEDEKAH. Prosesi penyerahan sedekah selawat dilakukan Wali Penyerah dan Wali Penerima.

KLU, LOMBOKTODAY.CO.ID – Seperti juga kelahiran, kematian merupakan keputusan mutlak Tuhan, Sang Khalik dalam proses kehidupan manusia, yang patut disyukuri dan dihargai.

Bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Lombok Utara (KLU), hal itu di-ejawantahkan dalam tradisi mengenang dan menghargai para leluhur dan sanak saudara yang sudah lebih dulu meninggal dunia, melalui prosesi adat Gawe Nyiu, yang hingga kini masih lestari.

“Esensi dari gawe nyiu adalah mengingat atau mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Salah satunya diwujudkan dalam prosesi serah sedekah oleh keluarga, karena mungkin selama hidupnya, almarhum atau almarhumah lupa bersedekah, sehingga keluarga yang mewakilinya sebagai bentuk penghargaan,” ungkap tokoh adat dan budayawan Kabupaten Lombok Utara (KLU), Datu Artadi kepada Lomboktoday.co.id.

Secara harafiah, gawe nyiu dapat dimaknai sebagai syukuran memperingati hari ke seribu meninggalnya seseorang. Diambil dari bahasa Sasak Lombok, gawe berarti upacara syukuran, dan nyiu berarti seribu.

Prosesi gawe nyiu merupakan bagian ke empat atau prosesi terakhir dari dari rangkaian ritual gawe pati. Sebelumnya, pihak keluarga yang ditinggalkan menggelar perayaan nelung atau tiga hari meninggalnya anggota keluarga, diikuti mituq atau tujuh hari, dan nyiwaq pada hari ke sembilan. “Setelah itu masih ada peringatan seratus hari atau nyatus, dan selanjutnya diakhiri dengan perayaan seribu harinya dengan gawe nyiu ini,” kata Datu Artadi.

Upacara gawe nyiu lazimnya digelar pada hari Jumat. Berbagai prosesi acara akan dilaksanakan dalam upacara ini, mulai dari ritual pencarian batu nisan, mempaosan atau membaca kitab lontar, hingga prosesi penyerahan sedekah selawat oleh pihak keluarga kepada kyai atau penghulu.

Penyerahan sedekah selawat menjadi puncak upacara gawe nyiu, dimana pihak keluarga menyerahkan sedekah selawat kepada kyai atau penghulu adat, dan kepada masyarakat yang berhak menerima. Sedekah selawat terdiri dari beragam jenis, mulai dari  hasil bumi, barang-barang kebutuhan rumah tangga, hingga tanah pertanian, sesuai hasil rembuk pihak keluarga pelaksana upacaranya.

Tradisi Gawe Nyiu yang masih lestari dipertahankan di Lombok Utara, berkaitan erat dengan cara menghargai dan mensyukuri seluruh proses kehidupan, sejak kelahiran, pertumbuhan, hingga akhirnya kematian dalam kearifan lokal setempat.

Meski semua masyarakat di sana pemeluk Islam sejati, namun adat tradisi yang diturunkan para leluhur masih terjaga kuat di sana. Pranata adat dan kearifan lokal yang diturunkan para leluhur masih dijunjung tinggi di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini. “Manusia mati masih bisa dicari dimana kuburnya, tetapi kalau adat mati kemana kita akan mencari? Inilah alasan mengapa kami masih kuat menjaga dan berusaha melestarikan norma-norma adat dan budaya ini,” kata Datu Artadi.

Menurutnya, secara garis besar tradisi adat itu mencangkup dua hal, yakni adat urip atau pelaksanaan ritual adat untuk yang hidup, dan adat pati atau pelaksanaan ritual adat untuk yang sudah meninggal dunia. Adat urip dilaksanakan ketika ada kelahiran, khitanan, atau perkawinan. Sedangkan adat pati dilaksanakan dalam sejumlah rangkaian acara sejak kerabat meninggal dunia, termasuk Gawe Nyiu ini.

HASIL BUMI. Iring-irigan masyarakat membawa hasil bumi untuk keperluas sedekah selawat.
HASIL BUMI: Iring-irigan masyarakat membawa hasil bumi untuk keperluan sedekah selawat.

Tradisi Gawe Nyiu di Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang masih lestari, secara tidak langsung juga memupuk budaya gotong royong antar masyarakat, sebuah kearifan lokal yang dewasa ini mulai ditinggalkan di kawasan perkotaan.

Biasanya, jauh sebelum puncak gawe nyiu dilaksanakan, pihak keluarga almarhum/almarhumah akan bermusyawarah dengan seluruh kelurga besar yang ada. Mereka akan membahas persiapan acara, apa saja bentuk sedekah selawat yang akan diserahkan, berapa besar biayanya, dan masalah persiapan lainnya.

Setelah pertemuan keluarga, berbagai macam persiapan pun dilakukan, mulai dari mengumpulkan bahan-bahan pokok, seperti beras, kelapa, ketan, kacang-kacangan, gula merah, kayu bakar dan yang lainnya, juga perlengkapan untuk keperluan upacara seperti alat-alat rumah tangga, serta perlengkapan untuk disedekahkan atau diberikan pada kyai saat punvak upacara nanti.

Pihak keluarga juga harus menyiapkan tempat pelaksanaan puncak dari gawe nyiu, yakni berugak kekelat, semacam balai-balai dari kayu, berkaki enam tanpa dinding. Masyarakat Sasak biasa menyebutkan dengan Sekenem.

Pencarian Batu Nisan

Tiga hari sebelum pelaksanaan gawe nyiu, rangkaian ritual pun dimulai. Di sini, budaya gotong royong antar masyarakat sangat terasa. Pihak keluarga akan mengutus tiga sampai empat orang laki-laki untuk pergi ke lokasi pencarian batu nisan. Sementara sebagai syarat untuk dapat menemukan batu-batu nisan itu, para lelaki yang diutus diwajibkan membawa sesajian berupa beras kuning yang ditempatkan di atas piring (lengser).

Pencarian batu dilakukan di pinggir sungai kawasan Pekatan, Kecamatan Tanjung, lokasi yang telah dijadikan tempat pencarian batu nisan sejak ratusan tahun lalu oleh para leluhur mereka secara turun temurun, khususnya di setiap pelaksanaan upacara Gawe Nyiu.

Meski di lokasi itu terdapat banyak bebatuan cadas, namun tidak mudah untuk menemukan batu yang berukuran kecil dan ramping serta berbentuk seperti batu nisan. Beras kuning yang dibawa, nantinya akan ditaburkan di area pencarian batu nisan, dengan harapan batu nsian yang dicari akan muncul dengan sendirinya tanpa harus berlama-lama mencari. Masyarakat teradisional Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU) menyakini, bahwa batu-batu nisan yang dicari tidak akan dapat ditemukan bila tidak dengan melakukan ritual menabur beras kuning sebagai persyaratan yang diharuskan.

Batu nisan yang dicari harus sesuai dengan kebutuhan, yakni sesuai dengan jumlah almarhum/almarmuham yang akan diupacarakan. Batu-batu nisan yang sudah didapat biasanya ditempatkan atau disimpan di belakang mimbar masjid yang ada di kampung setempat selama 4 hingga 5 hari atau sampai pada hari ke dua gawe.

Beragam Jajan Simbol Organ Tubuh

Beberapa hari sebelum hari pelaksanaan gawe nyiu, pihak keluarga dengan dibantu warga lainnya akan membuat berbagai macam aneka kue dan jananan tradisional, mulai dari kue cucur, cerorot, tumbek, gegodoh, abuk, belayak, peset, manisan dan lain sebagainya. Beragam jenis buah-buahan, juga disiapkan seperti pisang, salak, tebu, anggur, apel, nanas, jambu, jeruk dan lainnya.

SEDEKAH SELAWAT. Pihak keluarga menyiapkan beragam sedekah selawat yang akan diserahkan.
SEDEKAH SELAWAT: Pihak keluarga menyiapkan beragam sedekah selawat yang akan diserahkan.

Selain jajan dan buah, juga disiapkan nasi aji atau sejenis nasi tumpeng di Jawa, serta ketupat dan sengkor yang dibungkus dengan daun bambu. Nasi aji akan disertai dengan satu ekor ayam panggang yang disesuiakan dengan jenis kelamin anggota keluarga yang meninggal.

Semuanya itu kemudian digabungkan dan ditempatkan pada ancak (tatakan dari anyaman bambu berbentuk persegi) yang telah disiapkan.

Dalam upacara gawe nyiu ini jumlah jenis jajan yang disiapkan harus 44 jenis dan harus dipenuhi, karena setiap jajanan itu mewakili simbol dari organ tubuh manusia.

Kue cucur misalnya, disimbolkan sebagai alat kelamin perempuan, cerorot dan belayak  yang disimbolkan sebagai kelamin laki-laki, kue renggi atau kue serok disimbolkan sebagai jantung manusia, kue ure dilambangkan sebagai simbul urat, opak-paok sebagai kulit mnusia, kelepon sebagai simbul kosong, sedangkan kue sumpit dilambangkan sebagai simbul telinga dan banyak lagi simbul-simbul yang lain.

Sedangkan Ancak, dibuat untuk menaruh semua aneka kue yang telah di persiapkan tersebut. Ancak sendiri disimbolkan sebagai raga atau bentuk tubuh manusia, dimana tempat menyatunya berbagai macam organ tubuh manusia, mulai dari hati, limpa, urat, telinga dan sebagainya.

“Ini bermakna bahwa semua organ tubuh dalam diri manusia akan dikembalikan lagi ke Sang Pencipta,” ungkap Datu Artadi.

Prosesi Memandikan dan Pemasangan Batu Nisan

Di hari puncak gawe nyiu, yakni pada hari Jumat pagi, karungan batu-batu nisan yang disimpan di depan mimbar masjid setempat akan dibawa ke atas berugak (kekelat-red). Setelah semuanya siap, maka dimulailah ritual memandikan batu nisan sebelum nantinya dibawa dan dipasang di pusara anggota keluarga yang telah meninggal.

Prosesi pemandian batu nisan dipimpin oleh kyai setempat, dengan dibantu oleh anggota keluarga laki-laki. Proses pemandian batu nisan tersebut tidak dilakukan sembarangan, ada doa dan tata cara tertentu yang hanya bisa dan boleh dilakukan oleh kyai atau orang yang memang mampu dan dipercaya.

Setelah selesai dimandikan, batu-batu nisan itu selanjutnya dilumuri dengan bedak langeh terbuat dari parutan kelapa yang dicampur parutan kunyit, lalu kemudian diikat sesuai dengan pasangannya masing-masing. Selanjutnya batu-batu nisan itu dibawa ke pusara para anggota keluarga yang telah meninggal oleh anggota keluarga laki-laki yang juga dipimpin oleh kyai, dan pemasangan batu nisan dilakukan oleh kyai.

Penyerahan Sedekah Selawat

Sedekah selawat adalah barang yang diniatkan oleh anggota keluarga untuk diberikan kepada para kyai penghulu yang hadir di berugak atau kekelat dalam upacara puncak gawe nyiu. Biasanya ritual sedekah selawat dilakukan pada beberapa saat setelah waktu sholat Azhar, atau waktu rarak kembang waru, yang diyakini sebagai waktu yang tepat.

Pada hari puncak upacara gawe nyiu itu, pihak keluarga akan membawa seserahan sedekah selawat kepada kyai atau siapa saja yang dikehendaki. Sedekah selawat tersebut terdiri dari bermacam kebutuhan hidup dan perlengkapan yang jumlahnya sangat banyak dan membutuhkan dana besar.

SIMBOL TUBUH. Kyai tengah membacakan doa di dekat jajanan dan buah yng menyimbolkan organ tubuh manusia.
SIMBOL TUBUH: Kyai tengah membacakan doa di dekat jajanan dan buah yng menyimbolkan organ tubuh manusia.

Sedekah selawat tersebut merupakan sedekah yang telah disiapkan oleh pihak keluarga jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sebulan sebelumnya. Adapun barang-barang yang disiapkan untuk sedekah selawat tersebut berupa berbagai macam perlengkapan hidup dan kebutuhan rumah tangga, mulai dari penggorengan, rombong nasi, kocor, seraung (sejenis topi berbentuk krucut yang terbuat dari anyaman bambu), kasur, sendok, pakaian dan lainnya.

Sedangkan bahan sedekah yang berupa hasil bumi juga telah disiapkan, seperti beras, buah-buahan, kelapa dan ubi-ubian. Namun tidak hanya itu, bagi pihak keluarga yang lebih mampu dalam segi ekonomi, biasanya akan memberikan sedekah selawat berupa kambing, kerbau, bahkan lahan pertanian (tanah sawah).

Pada upacara penyerahan sedekah selawat tersebut, pihak keluarga dari setiap anggota keluarga yang diupacarakan akan membawa masing-masing seserahan atau sedekah selawatnya menuju berugak atau kekelat.

Proses penyerahan sedekah selawat cukup unik dan sakral, semua bahan sedekah yang di bawa masing-masing pihak keluarga akan dipimpin oleh seorang wali penyerah yang nantinya akan bertugas sebagai wakil pihak keluarga untuk menyerahkan semua sedekah selawat tersebut kepada wali penerima yang ada dikekelat bersama-sama dengan para agung (tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat).

Sesaat sebelum semua sedekah selawat itu diserahkan kepada wali penerima, rombongan pembawa sedekah akan berhenti tepat di depan berugak atau kekelat yang telah dipenuhi oleh para kiayi penghulu dan para agung yang teridir dari tokoh adat dan tokoh agama serta tokoh masyarakat.

Kemudian wali penyerah yang memakai pakaian serba putih dan membawa obor, akan mengumandangkan takbir dengan intonasi tembang paosan, kemudian disambut pula oleh wali penerima yang berada di kekelat dengan nada takbir yang sama. Setelah kumandang takbir selesai, barulah semua sedekah selawat kemudian diserahkan kepada wali penerima yang sejak tadi duduk di kekelat.

Saat menyerahkan sedekah selawat kepada Wali penerima, Wali penyerah akan mengucapkan kalimat, “Adam kang nyerah aken, Muhamad kang nyaksinin, Allah kang hanarima turmalih malaikat catur kiblat kang anyakseni,” (Adam yang menyerahkan, Muhamad yang menyaksikan, Allah yang menerima dan juga malaikat 4 kiblat yang menyaksikan).

Setelah kalimat itu diucapkan, barulah sedekah selawat tersebut diserahkan kepada wali penerima untuk kemudian dibagikan kepada setiap orang yang diniatkan oleh masing-masing pihak keluarga. Setelah semua sedekah selawat itu diserahkan dan dibagikan kepada semua pihak yang berhak menerimanya, barulah dilanjutkan dengan acara salam-salaman antara semua keluarga dan para kyai, tokoh adat dan tokoh pemerintahan yang hadir di berugak.

 

MELEPAS RINDU. Hadirin berebutan jajanan dan buah-buahan pada penutupan gawe nyiu.
MELEPAS RINDU: Hadirin berebutan jajanan dan buah-buahan pada penutupan gawe nyiu.

Sebagai penutup upacara, masyarakat yang hadir kemudian secara beramai-ramai akan berebut gunungan atau ancak yang telah disiapkan sejak pagi harinya. Pemangku adat dan pemerhati budaya KLU, Datu Artadi menjelaskan, penyerahan sedekah selawat oleh pihak keluarga kepada siapapun yang dikehendakinya itu merupakan wujud kasih sayang dan perhatian kepada anggota keluarhga yang telah meninggal.

“Karena mungkin saja ada anggota keluarga yang telah meninggal semasa hidupnya lupa atau tidak pernah membayar zakat, sehingga sekarang pihak keluarga berkewjiban membayar zakat,” katanya.

Acara merebut gunungan atau sajian ancak, diakhir gawe nyiu itu bukan sebagai tidakan merusak dan sia-sia, namun melainkan wujud rasa kangen dan rindu pihak keluarga kepada anggot keluarganya yang telah meninggal.

Datu Artadi menekankan, setiap acara adat yang diadakan tentu memilki nilai historis dan makna filosofis yang dalam. Tidak hanya dalam tataran “bentuk”, namun juga mengandung pesan dan nilai-nilai sosial agama kepada setiap orang yang menyakininya.

Kecendrungan “romantisme mistis” dalam “keberagamaan” yang dijalankan masyarakat setempat, menjadi identitas kultural masyarakat tradisional yang ada di Kabupaten Lombok Utara (KLU). “Meyakini dan menjalankan apa yang telah diwariskan leluhur merupakan keharusan, sepanjang itu bisa memberikan manfaat bagi mereka yang menjalankannya,” pungkas Datu Artadi.

Selain kaya akan pesan moral dan filosofi kearifan lokal, beragam tradisi adat dan budaya masyarakat Lombok Utara, juga mulai menjadi ikon penunjang potensi pariwisata di Lombok, dan NTB pada umumnya.(Naskah dan Foto: Danu Winata/Lomboktoday.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *