Tak ada Liburan Lebaran bagi Buruh Tani

NGERAMPEK. Sejumlah buruh tani di Lombok Barat memanen padi atau ngerampek, Sabtu (10/8) di Desa Omba, Kecamatan Kediri. Meski sebagain besar masyarakat menikmati liburan Lebaran, para buruh tani ini tetap harus bekerja demi mempertahankan hidupnya.[Panca/lomboktoday.co.id]

LOBAR, LOMBOKTODAY.CO.ID – Bagi kebanyakan orang, libur Lebaran Idul Fitri bukan hanya bisa digunakan untuk mudik dan bersilahturahmi dengan keluarga, tetapi juga bisa berekreasi ke tempat-tempat wisata.

Namun, tidak bagi kelompok buruh tani di Lombok. Lebaran yang bertepatan dengan musim panen padi, membuat tak ada libur Lebaran bagi mereka. “Kalau tidak kerja ya tidak ada makan, makanya tetap kerja walau Lebaran,” kata Inaq Musanip (56), wanita warga Desa Omba Baru, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, Sabtu (10/8), hari kedua masa Lebaran.

Inaq Musanip dan beberapa rekan sekampungnya, tengah memanen padi di sawah milik Burhanuddin (40), warga setempat. Mulai dari memotong padi, merontok, hingga memisahkan dari sisa jerami harus dikerjakan sejak pagi, agar bisa tuntas sebelum malam tiba.

Istilah lokal di Lombok menyebut kegiatan para buruh tani ini dengan sebutan ngerampek (merontok padi) dan memepes (memisahkan padi dari sisa jerami). Untuk setiap 8 kg padi yang berhasil dikumpulkan, Musanip mendapat upah 1 kg padi untuk dibawa pulang. “Kalau sawahnya luas, bisa sampai dua atau tiga hari ngerampeknya, kami bisa sampai menginap. Ya sehari paling dapat dua sampai lima kilogram padi hasil upahnya,” katanya.

Pemilik sawah, Burhanuddin mengatakan, ia terpaksa meminta bantuan buruh tani di saat Lebaran. Sebab, padi yang sudah harus dipanen, bisa rusak jika terlambat memanennya. “Jadi meskipun Lebaran, terpaksa kami ke sawah juga. Dari pada rusak terendam hujan,” katanya.

Sawah seluas 36 are miliknya, menurut Burhanuddin bisa memproduksi sekitar 10 ton gabah kering giling (GKG) dalam setiap musim panen. Pemandangan kelompok tani yang sedang ngerampek, saat ini mudah ditemui di pulau Lombok. Libur Lebaran bagi kebanyakan orang, tetapi saatnya bekerja bagi para buruh tani di pulau ini.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB, produksi padi di NTB terus-menerus surplus dari tahun ke tahun. Dari kebutuhan rata-rata pertahun penduduk NTB sekitar 600 ribu ton GKG pertahun, NTB selalu bisa memproduksi diatas 1,8 juta ton GKG pertahun termasuk di tahun 2012.

Kelebihannya dikirim untuk memenuhi kebutuhan pangan di provinsi tetangga, Bali dan NTT. Diakui atau tidak, para buruh tani banyak berjasa juga dalam mendorong prestasi produksi tersebut.(gra)

Response (1)

  1. ya begitulah nasib klo jadi petani,jd org bawah padahal nasib org atas juga tergantung pada petani,tlg diresapi mmmmmmmmmmmm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *