SD Tanjung, Sekolah Tertua Peninggalan Belanda

KLU,Lomboktoday.co.id – Tak banyak bangunan yang mampu bertahan saat gempa dahsyat mengguncang daerah bagian Utara pulau Lombok di penghujung tahun 1979 lalu. Salah satu yang hingga kini masih bertahan adalah bangunan Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Tanjung (samping eks pasar lama Tanjung), yang merupakan satu-satunya bangunan sekolah tertua peninggalan Belanda di Lombok Utara.

Belanda, negara yang pernah menjajah Indonesia selama tiga ratus tahun lebih, telah banyak menyisakan berbagai peninggalan yang hingga kini masih kita jumpai, mulai dari konsep pemikiran, sistem pemerintahan hingga peninggalan bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Menurut sejarah, sekolah ini diperkirakan dibangun penjajah Belanda pada tahun 1915, memilki tiga ruang kelas, dengan ukuran panjang 8 meter dan lebar 6 meter, dimana masing-masing ruang kelas dengan tinggi dinding 6 meter, yang membuatnya terlihat besar dan kokoh.

Tidak hanya itu, semua bahan kayu yang digunakan adalah kayu dengan kualitas terbaik, karena hingga kini sebagian besar masih utuh.

Dinding bangunan sekolah ini terbuat dari baja murni, yang didatangkan langung dari belanda, Sejarah menunjukan, bahwa sekolah ini adalah salah satu sekolah pertama yang ada di bagian utara pulau ini, mengingat pada awal abad ke 20 ketika orang-orang dayan gunung baik yang berada di kawasan bayan, kayangn dan gangga datang ke Tanjung untuk bersekolah di bawah system pendidikan Belanda saat itu.

Namun Saat itu, tidak semua orang pribumu boleh menyekolahkan anan-anak mereka di sekolah ini, karena belanda hanya membolehkan anak para bangsawan dan orang-orang kaya yang berhak bersekolah, ini bagian dari cara mereka untuk mempertahankan dan mempertegas eksistensi serta dominasi mereka atas .warga pribumu.

Berdasarkan cerita warga sekitar, dan mereka yang pernah bersekolah di tempat itu, bahwa sekolah ini, sejak berdirinya dahulu hingga saat ini tidak banyak mengalami perubahan, mulai dari bahan kayu, pintu dan dindingnya.

“Dindingnya sangat kuat, terbuat dari baja murni, bahkan paku besar pun tidak mampu menembusnya, bahan kayunya pun tidak kalah kuat, hingga kini belum ada yang rusak dimakan rayap, meski usianya akan memasuki 100 tahun,” cerita seorang warga.

Hal yang sama juga diutarakan Datu Artadi, budayawan sekaligus pemerhati sejarah KLU. Menurutnya, sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang masih bertahan saat gempa besar menguncang tanjung dan sekitarnya pada tahun 1979, bahkan masih dapat dipungsikan hingga saat ini.

“Ya ini adalah salah satu peninggalan Belanda yang masih tersisa setelah gempa 79, hingga kini masih utuh dan dapat dipungsikan sebagai sekolah,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, di zaman penjajahan Belanda, sekolah ini hanya untuk orang-orang kaya dan berstatus social tinggi, setelah era penjajahan Belanda beralih ke tangan Jepang, sekolah ini digunakan Jepang mendidik para murid sekolah untuk latihan militer.

Dan setelah era kemerdekaan, sekolah ini berubah menjadi Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 50 an. Kini sekolah ini sudah menjadi Sekolah Dasar (SD) yang digunakan seluruh masyarakat Tanjung. Dan hingga kini kondisinya tetap utuh seperti dahulu. DNU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *