Kebakaran Hutan Terus Menjalar di Gunung Ile Boleng

GUNUNG BOLENG: Beberapa titik api tampak dari kejauhan sedang melahap sisa-sisa hutan di lereng Gunung Boleng.[Kopong Gana/lomboktoday.co.id]

WITIHAMA,Lomboktoday.co.id – Kegemaran membakar hutan bagi sementara warga belum juga hilang, khususnya di musim kemarau seperti ini.

Dalam sepekan terakhir ini, hingga Kamis (15/8), dari jauh terlihat asap mengepul dari arah pintu masuk Pelabuhan Boleng, Kecamatan Ile Boleng,  dan dari Watoone, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

GUNUNG BOLENG: Beberapa titik api tampak dari kejauhan sedang melahap sisa-sisa hutan di lereng Gunung Boleng.[Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
GUNUNG BOLENG: Beberapa titik api tampak dari kejauhan sedang melahap sisa-sisa hutan di lereng Gunung Boleng.[Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Beberapa titik api yang membakar lereng dan punggung Gunung Boleng juga terlihat sangat jelas  dari Nele Rere dan  Deri, Kecamatan Ile Boleng. Karena punggung dan lereng yang berbeda-beda maka titik api diperkirakan tak kurang dari 10 titik.

Bahkan dari tempat ini (Deri dan Nele Rere), asap terlihat membumbung tinggi di tengah sengatan panas matahari. Angin yang terasa bertiup kencang, nampaknya makin memperparah kerusakan hutan yang diakibatkan kebakaran  itu.

“Ini bukan  cerita lama,’’ kata salah seorang warga. ‘’Ini bukan barang baru,’’ sambut yang lainnya.

Bahkan mereka  menjelaskan, di puncak kemarau seperti ini, api yang tampaknya sengaja disulut warga tertentu yang kurang

kerjaan, tak hanya membakar lereng dan punggung Ile Boleng, tapi dimulai dari ladang di pantai yang ditinggalkan jadi hutan. Ladang itu dibakar dan api dengan leluasa menghabiskan hutan-hutan dari pantai hingga mendekati puncak gunung.

Dikatakan mendekati puncak gunung,  karena api memang tidak benar-benar sampai puncak. Mengapa? Karena memang tak ada apapun juga yang dilahap api di puncak  sana.

Di puncak gunung hanya rerumputan kering bercampur pasir yang tak mudah terbakar habis sebagaimana pohon-pohon yang tersisa di lereng dan punggung gunung.

Di tengah keluhan yang tak putus-putus akan kekurangan air minum, para warga seharusnya menghilangkan kebiasaan buruk ini. Sebab titik air yang tersisa, kian kering bahkan hilang sama sekali.

Di beberapa tempat di belakang  gunung (Sebutan orang Witihama terhadap warga yang bermukim di sekitar Kecamatan Ile Boleng), air minum sedemikian susah diperoleh.

Bertangki-tangki air didatangkan untuk mengatasi bencana kekurangan air ini. Di beberapa tempat, orang bahkan membuat bak mirip rumah lengkap dengan atap.

Sepintas orang mengira itu tempat tinggal. Namun setelah melihat ke dalam, orang menyadari ternyata itu bak penampung air  sejak musim hujan yang lalu.

Air yang ditampung sepanjang musim hujan yang lalu itu, terus disimpan dan dimanfaatkan di kala krisis air benar-benar mengancam. Saking lamanya, bak-bak pun terlihat ditumbuhi lumut.

Krisis air bukanlah barang baru bagi sejumlah tempat di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun krisis yang menghantui setiap tahun dibalas dengan pembakaran hutan yang tak kalah gilanya, benar-benar merupakan suatu perbuatan yang perlu “dibijaksanai” segera sebelum segalanya benar-benar kering kerontang.

Di tempat lain seperti di Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB),  ada pengawasan terhadap kelestarian hutan melalui aturan yang  disebut awiq-awiq.

Aturan itu sangat mengikat dan kawasan hutan yang dilestarikan itu menjadi hutan adat yang luasnya menjangkau hingga Gunung Rinjani yang tertinggi ke dua di Indonesia itu.

Yang tragis di daerah ini,  jika dibandingkan dengan daerah lain misalnya Lombok Utara, yang punya gunung sedemikian tinggi dan luas, air melimpah beberapa tingkat sampai disebut air terjun gila (Singang Gila) saking besarnya, jarang membakar hutannya.

Sementara manusia di daerah ini sini sungguh beda. Sudah kering kerontang, panasnya menyengat, dan kekurangan air hampir mati, namun paling aktif bakar hutan.

Tampaknya lembaga adat di daerah ini perlu menyatukan hati, membahas  aturan yang harus ditaati menurut sumpah adat berikut  sanksi-sanksi bagi pelaku perusak hutan,  guna melindungi kawasan hutan yang  tersisa. AMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *