Ratusan Hektar Lahan Ditelantarkan Investor

KLULomboktoday.co.idProgres pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Lombok Utara dalam beberapa tahun terakhir, telah memicu arus investasi di sektor pariwisata dan usaha bisnis di daerah ini. Namun fakta di lapangan, banyak ditemukan lahan telantar akibat tak kunjung di fungsikan pemiliknya (investor, Red).

salah satu lahan terlantar di pemenang

Salah satu lahan telantar di Kecamatan Pemenang, KLU. (foto: Danu Winata/Lomboktoday.co.id)

‘’Ada ratusan hektare lahan yang ditelantarkan investor, kondisi itu tidak hanya merugikan daerah, namun juga berpotensi menyebabkan stagnasi ekonomi warga sekitar, mengingat lahan yang ditelantarkan kini tidak dapat difungsikan lagi,’’ kata Anggota DPRD KLU, Sopian, SH, kepada Lomboktoday, Minggu (18/08).

Sopian juga menyayangkan sikap pemerintah daerah yang dinilainya lamban dalam menindak para investor yang terbukti menelantarkan lahannya. Bahkan, ia mendesak agar bupati men-deadline para investor untuk segera membangun rencana investasi yang telah disepakati.

‘’Bila perlu investor-investor itu di-deadline saja, dan itu merupakan otoritas kepala daerah dalam hal ini bupati. Jika tidak, berikan saja hak pengelolaannya kepada masyarakat agar bisa difungsikan kembali. Karena penelantaran lahan tak hanya di Kecamatan Pemenang, namun hampir merata di semua kecamatan,’’ katanya lagi.

Sementara itu, Bupati KLU, Djohan Sjamsu menegaskan, dirinya telah beberapa kali bertemu dengan para investor untuk membahas persoalan tersebut. Bahkan diakui Djohan, pihaknya akan memberikan teguran keras bagi investor nakal.

‘’Kami sudah bertemu dengan para investor beberapa waktu lalu untuk menagih komitmen mereka agar segera memulai pembangunan. Meksi sejauh ini belum ada tanda-tanda akan dimulainya pembangunan,’’ ungkapnya.

Sebagai acuan, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) 40 Tahun 1996, tentang Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Guna Usaha (HGU). Tanah atau lahan yang tidak difungsikan pemiliknya dalam kurun waktu 30 tahun sejak keluarnya izin investasi, maka bisa dikategorikan telantar dan berhak untuk diambil alih.

Berdasarkan data yang dihimpung Lomboktoday, setidaknya terdapat 200 hektar lebih lahan yang kini ditelantarkan investor baik lokal maupun asing dalam kurun waktu 2-3 dekade ini, dengan jumlah konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pemenang, yang mencapai 60 persen.(DNU)

Kirim Komentar

Leave a Reply