Wisata Sejarah Tiga Jembatan Gantung Peninggalan Belanda

Inilah foto Jembata Gantung Kamasan tempo dulu (Kiri) dan Jembatan itu saat ini (kanan). [lomboktoday.co.id/Sigit SL]

MATARAM,Lomboktoday.co.id – Sejumlah jembatan gantung yang ada di pulau Lombok, ternyata menjadi objek wisata khusus yang dikunjungi sejumlah wisatawan, domestik dan mancanegara, karena kaya akan kenangan masa lalu dan nilai sejarah.

Inilah perbandingan foto Jembatan Gantung Kamasan tempo dulu (Kiri) dan Jembatan itu saat ini (kanan). [lomboktoday.co.id/Sigit SL]
Inilah foto Jembata Gantung Kamasan tempo dulu (Kiri) dan Jembatan itu saat ini (kanan). [lomboktoday.co.id/Sigit SL]
Ya, pulau Lombok di NTB, selain dikenal memiliki keindahan sumber daya alam, serta kekayaan aneka seni dan budaya tradisional yang unik, ternyata pulau berjuluk “Seribu Masjid” ini juga banyak menyimpan situs-situs sejarah peninggalan masa lalu, baik pada masa kerajaan (Mataram, Selaparang, Pejanggik), penjajahan Belanda, hingga zaman pendudukan tentara Jepang.

Dari berbagai situs sejarah tersebut, keberadaan bangunan tua berupa jembatan gantung yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda, yaitu Jembatan Gantung Kamasan, Jembatan Gantung Mambalan, dan Jembatan Gantung Dodokan, terlihat masih kokoh berdiri dan bisa dinikmati hingga sekarang.

Ketiga jembatan tua yang tersebar di wilayah Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat ini bahkan masih berfungsi dengan baik, meskipun terbatas hanya untuk para pejalan kaki saja.

Tidak hanya itu, kemegahan bangunan tua ini juga menjadi lokasi berkumpulnya para kaum tua di Lombok, untuk mengenang masa lalu.

Demikian pula para wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan dari Belanda, menjadikan ketiga jembatan gantung tersebut sebagai salah satu destinasi wisata di Lombok yang wajib dikunjungi.

“Saya pernah mengantarkan rombongan wisatawan dari Belanda yang rata-rata sudah tua, dan mengaku sebagai pensiunan tentara Belanda yang pernah bertugas di Lombok. Mereka merasa bangga dan senang sekali, ternyata bangunan yang dibuat pada zaman dahulu itu masih berdiri sampai sekarang,” kata Erwin, salah seorang pemandu wisata.

Tidak hanya wisatawan Belanda yang sudah tua, wisatawan yang masih muda juga sering bertanya tentang ketiga jembatan gantung tersebut.

“Mereka mengaku mendengar cerita dari bapak atau kakeknya yang pernah bertugas di Lombok, atau membaca dari arsip sejarah di museum Belanda, kalau pada jaman dahulu leluhurnya pernah membangun berbagai infrastruktur di Lombok, dan mereka ingin membuktikan keberadaannya,” jelas Erwin.

Melihat antusias kunjungan para wisatawan itu, pemerintah daerah juga tidak tinggal diam, dan mulai melakukan berbagai renovasi, agar jembatan gantung peninggalan Belanda itu layak dikunjungi para wisatawan.

Seperti yang dilakukan pada Jembatan Gantung Kamasan yang terletak di pusat Kota Mataram, tepatnya di Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang.

Sebelum direnovasi pada tahun 2011 – 2012, keadaan jembatan yang memiliki nilai sejarah ini sungguh sangat menyedihkan. Tiang pancang rangka besi dikedua sisi sungai terlihat miring, demikian juga tali-tali slink baja banyak yang putus, sehingga balok-balok kayu di tengah jembatan banyak yang hilang, atau tergantung begitu saja dibawah jembatan.

Namun setelah direstorasi, keadaan jembatan kembali normal seperti aslinya, dan semakin indah dengan keberadaan lampu-lampu hias, serta taman-taman bunga yang ditanam di sekitar jembatan.

Di pinggir jembatan juga dibuatkan lapak-lapak kecil untuk para pedagang berjualan. Sehingga sambil memandangi keindahan bangunan jembatan tua yang dibangun pada tahun 1920 dan di cat berwarna kuning itu, para wisatawan bisa duduk-duduk sambil menikmati makanan dan minuman yang dijual.

Berikutnya adalah Jembatan Gantung Mambalan, yang terletak di Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Jembatan tua yang juga dibangun pada tahun 1920, dan oleh warga sekitar dikenal dengan nama “Jembatan Singapore” itu dari segi fisik bangunan serupa dengan Jembatan Gantung Kamasan.

Uniknya, kalau pembangunan jembatan biasanya dibangun di daerah yang ramai lalu lintasnya, tetapi Jembatan Mambalan ini justru dibangun di daerah yang relatif sepi, di tengah persawahan yang menghubungkan antara pemukiman penduduk dengan lokasi kuburan warga Desa Mambalan yang dibatasi oleh sungai.

Namun karena terletak di daerah terpencil inilah yang membuat bangunan Jembatan Gantung Mambalan ini masih berfungsi dengan baik. Tidak pernah terdengar ada renovasi jembatan yang sekarang di cat berwarna biru ini, tetapi semua komponen jembatan terlihat kokoh dan kuat, bahkan sepeda motor juga terlihat sering melintasi jembatan ini.

Terakhir adalah Jembatan Gantung Dodokan yang terletak di Desa Kebun Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Kalau dibandingkan dengan kedua jembatan terdahulu (Jembatan Gantung Kamasan dan Jembatan Gantung Mambalan), jembatan gantung yang dibangun tahun 1938 di atas sungai Dodokan ini konstruksinya terlihat masih sangat kuat, karena hampir semua komponen jembatan terbuat dari bahan besi dan baja.

Hanya saja, karena usia jembatan yang sudah tua, maka Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tidak lagi memfungsikan jembatan ini. Selain itu, dari lebar jalan di atas jembatan yang sekitar 3 meter, dan terbuat dari plat besi yang cukup tebal, yang masih utuh hanya plat baja yang ada di tengah-tengah saja, dengan lebar sekitar 1 meter.

Namun meskipun terlihat bolong menganga, sehingga sangat membayakan kalau dilewati, masyarakat sekitar masih saja terlihat sering melintas di jembatan ini, jalan kaki maupun dengan sepeda motor. Alasannya, dengan melintasi Jembatan Gantung Dodokan, masyarakat bisa lebih dekat sampai di jalan raya Mataram – Lembar, dibandingkan kalau mereka melewati jalan normal yang harus memutar jauh.

“Kami berharap kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat agar mau melakukan renovasi Jembatan Gantung Dodokan. Bukan untuk dipakai sebagai jembatan penyeberangan umum, tetapi difungsikan sebagai destinasi wisata sejarah, karena jembatan ini juga menarik kunjungan para wisatawan. Kalau takut akan dipakai untuk melintas kendaraan bermotor, maka setelah direnovasi nanti bisa saja dipasang portal (rintangan), sehingga hanya pejalan kaki saja yang bisa melintas di jembatan,” harap Erwin. GT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *