Wabah Zoonosis Berpotensi Ganggu Pariwisata

MATARAM,Lomboktoday.co.id – Sektor pariwisata terbukti memiliki konstribusi yang tidak sedikit dalam menggerakkan roda perekonomian. Hanya saja, mobilitas wisatawan yang tinggi juga berisiko menyebabkan wabah kedaruratan di lingkup pariwisata, salah satunya adalah ancaman wabah zoonosis.

“Zoonosis adalah penyakit hewan yang bisa menular kepada manusia, seperti penyakit rabies, pes, anthrax, dan lainnya,” kata DR. Andi Hidayat, narasumber dari Kementerian Pertanian RI, ketika sosialisasi pencegahan penularan zoonosis di lingkungan pariwisata, Senin (26/8), di Mataram.

Menurutnya, di seluruh dunia saat ini terdapat 250 jenis penyakit zoonosis, sehingga Presiden RI sendiri memberikan atensi serius terhadap permasalahan ini melalui Perpres Nomor 30 Tahun 2011, tentang pengendalian zoonosis.

Provinsi NTB, khususnya pulau Lombok sebagai daerah tujuan wisata internasional, meskipun belum pernah ada kasus wabah zoonosis, akibat pergerakan yang tinggi para wisatawan, tentu berpotensi terjangkit wabah zoonosis.

“Pengalaman di Sumatera Barat, dahulu daerah ini bebas dari penyakit rabies. Namun akibat adanya pengiriman anjing dari luar daerah untuk kepentingan berburu, maka daerah ini kemudian menjadi daerah endemik rabies,” jelas Andi.

Daerah pariwisata yang sedang menjadi sorotan dunia karena penyakit rabies, yaitu Nias (Sumatera Utara), Bali, Manggarai Barat dan Sika (Nusa Tenggara Timur), serta daerah di Provinsi Sulawesi Utara.

“Para wisatawan tentu takut untuk berkunjung. Karena wabah zoonosis ini tidak hanya menular dari hewan ke manusia saja, atau endemik, tetapi telah bermutasi jadi pandemik, menular dari manusia ke manusia,” ujar Andi.

“Bahkan di daerah Sangeh – Bali, yang dikenal sebagai habitat monyet-monyet jinak yang sangat bersahabat dengan manusia, ditemukan monyet terjangkit penyakit TBC (Tuber Colosis) yang ditularkan oleh manusia,” sambung Andi.

Sementara Deputi III Menkokesra RI, DR. Emil Agustiono, M.Kes, menyampaikan pentingnya perlindungan daerah wisata terhadap ancaman wabah zoonosis.

“Ketika ada wabah flu burung antara tahun 2006 – 2012 lalu, kerugian yang diderita Indonesia dari sektor pariwisata mencapai hampir Rp5 trilyun,” ucap Emil.

Kerugian itu lanjutnya, berasal dari negara-negara yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia, seperti negara-negara Eropa, Amerika, Cina, Jepang, dan Australia.

Mengacu permasalahan tersebut, melalui Perpres 30 Tahun 2011, yang kemudian diaplikasikan melalui pembentukan Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, dibawah koordinasi Kemenkokesra, dengan anggota-anggota Kemenparekraf, Kementan, Kemenkes, TNI, Kepolisian, dan lainnya, diharapkan dapat mencegah terjadinya wabah zoonosis, khususnya di lingkungan pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Drs Muhammad Nasir, menyatakan apresiasi dan bersyukur dengan adanya kegiatan sosialisasi pedoman pencegahan penularan zoonosis yang dilakukan Kemenkokesra di wilayah NTB.

“Meskipun belum pernah terjadi kasus wabah zoonosis di NTB, sebagai daerah wisata, kita tentu harus berusaha mewujudkan NTB yang aman dan nyaman untuk dikunjungi para wisatawan,” kata Nasir.

Selain itu, kegiatan ini juga sinkron dengan program Pemerintah Provinsi NTB yaitu BSS (Bumi Sejuta Sapi), dimana hampir sebagian besar konsumsi daging untuk masyarakat, termasuk di lingkungan pariwisata masih menggunakan daging lokal.

“Pengawasan terhadap lalu lintas ternak sapi ini penting, untuk menceah masuknya virus antrhax yang sangat membahayakan kalau dagingnya dikonsumsi manusia. Solusinya, semua elemen harus bersinergi, demi mewujudkan NTB sebagai daerah yang aman dan nyaman untuk dikunjungi para wisatawan,” tekad Nasir mengulangi pernyataannya.

Hal senada juga disampaikan Ketua PHRI NTB, Gusti Lanang Patra, bahwa pariwisata NTB akan terus berkembang, kalau semua ancaman yang potensi membahayakan keselamatan wisatawan seperti wabah zoonosis bisa diantisipasi.

“Untuk daging sapi, ayam, dan lainnya, anggota PHRI NTB selama ini ada yang membeli dari pasar secara langsung, atau melalui suplayer bagi hotel berbintang,” terangnya.

Artinya, karena daging yang dijual di pasaran pemotongannya dilakukan melalui RPH (rumah pemotongan hewan), yang sudah barang tentu diperiksa oleh dokter hewan terlebih dahulu, maka jaminan terhadap kesehatan daging konsumsi tentu dapat dipertanggungjawabkan. GT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *