Cicipi Kuliner Ikan Bakar di Tepi Pantai Malaka

KLU,Lomboktoday.co.id – Menikmati sajian ikan bakar, ditambah nasi hangat, plus sambal pedas khas Lombok yang lezat, siapapun pasti akan tergugah seleranya.

Apalagi dimakan sambil duduk di pinggiran jalan raya dan di tepian pantai, seraya melihat deburan ombak datang silih berganti tiada habisnya, tentu menjadi sebuah pengalaman makan yang menarik dan tak dapat dilupakan.

Maryani, salah satu penjual ikan bakar di Malaka. [lomboktoday.co.id/Sigit SL]
Maryani, salah satu penjual ikan bakar di Malaka. [lomboktoday.co.id/Sigit SL]
Adakah lokasi wisata kuliner seperti itu di Lombok? Jawabannya ada, kalau tertarik, para penyuka makanan ikan bakar dapat mengunjungi Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, sekitar 20 kilometer dari Kota Mataram.

Sepanjang jalan raya, sekitar satu kilometer di pinggiran jalan di tepian pantai yang melintasi Desa Malaka tersebut, terdapat deretan warung-warung kecil yang di buat dengan bambu, beratapkan ilalang, atau terpal, menjadi lokasi mangkal puluhan pedagang kaki lima yang berasal dari desa setempat.

Menu utama, tentu saja sajian ikan bakar khas lombok, lengkap dengan sambal, nasi, dan pelecing kangkung. Selain itu, juga ada menu lain seperti jagung bakar, kelapa muda, kopi, soft drink, aneka jajanan kecil, dan lainnya.

Lelah dan lapar menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan bermotor, ketika kebetulan melintas di jalan raya Desa Malaka, aroma sedap ikan bakar di jamin akan menghentikan laju kendaraan anda.

Sambil menanti pesanan ikan bakar datang, mata pengunjung dimanjakan dengan pemandangan indah laut biru yang membentang di Selat Lombok, dengan latar belakang Gunung Agung-Bali yang menjulang tinggi di kejauhan.

Pemandangan alam yang sangat indah itu akan semakin eksotis, ketika pengunjung tiba di lokasi pada saat sunset (matahari tenggelam).

Pemandangan lainnya, sebelah kanan terlihat gugusan tiga pulau kecil indah, yang menjadi kekaguman masyarakat dunia, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

Tak hanya itu, deretan bukit-bukit hijau yang melingkari kawasan Desa Malaka, seakan juga menegaskan, kalau lokasi makan ikan bakar yang terletak diantara jalan raya obyek wisata pantai Senggigi (Lombok Barat) menuju obyek wisata Tiga Gili itu seperti “Surga Tersembunyi” yang siap memanjakan lidah para penyuka kuliner.

Warga Desa Malaka, kaum lelaki-nya rata-rata berprofesi sebagai nelayan, dimana ikan hasil tangkapan itu di bawa ke pasar oleh kaum ibu-ibu untuk di jual.

Namun seiring pesatnya kemajuan sector pariwisata di pulau Lombok, maka ikan hasil tangkapan para nelayan yang sebelumnya dijual murah di pasar yang jauh dari desa, maka sekarang dijajakan di pinggiran jalan menjadi ikan bakar.

Sasarannya, tentu saja para pengendara atau para wisatawan yang bolak-balik melintas di jalan raya yang merupakan jalur wisata dari Senggigi menuju Tiga Gili, atau ke kawasan obyek wisata lainnya di daerah Lombok Utara.

Maryani, salah satu penjual ikan bakar, warga Dusun Nipah, Desa Malaka, mengatakan, dahulu dia berjualan ikan bakar di pinggiran jalan raya hanya pada musim-musim tangkapan ikan suaminya bagus saja.

Sementara ketika musim angin barat (musim jelek) yang terjadi hampir setiap tahun selama hampir sebulan penuh, sehingga tidak ada nelayan yang berani melaut, maka dia tidak berjualan karena kesulitan mendapatkan bahan ikan laut.

Namun sekarang, baik pada musim bagus atau musim jelek, dia tetap berjualan ikan bakar.

“Pada musim bagus, kami membeli ikan laut dari para nelayan yang ada di Desa Malaka, atau dari hasil tangkapan suami. Sedangkan ketika cuaca sedang buruk, kami membeli ikan laut di Pondok Prasi-Ampenan (Mataram), yang ikannya didatangkan dari
Pantai Tanjung Luar-Lombok Timur yang merupakan Pusat Pendaratan Ikan terbesar di pulau Lombok. Jadi, kami berjualan ikan bakar hampir setiap hari, dan tidak lagi tergantung dengan musim,” jelas Maryani.

Jenis ikan bakar yang disediakan di warung milik Maryani juga tergolong ikan laut yang berkualitas, karena masih segar, dan di kenal enak rasanya, yaitu ikan kerapu, kakap, baronang, dan lainnya.

“Kalau musim sepi pengunjung, per hari saya bisa menjual ikan bakar sebanyak 10 kilogram, dengan harga jual ikan bakar per kilogram sebesar Rp.25 ribu, atau Rp.35 ribu kalau di tambah dengan sepiring nasi dan satu porsi pelecing kangkung. Namun ketika pengunjung sedang ramai, per hari biasanya saya dapat menjual ikan bakar sebanyak 30 kilogram sampai 40 kilogram per hari,”
ujar ibu dari dua orang anak ini.

Bukankah masakan khas warga Lombok itu biasanya terasa pedas, sehingga para wisatawan mancanegara yang hendak makan terpaksa harus berpikir dua kali sebelum membeli?

“Untuk sambalnya, kami tidak menyiapkan dalam bentuk jadi, tetapi akan dibuat ketika ada pembeli yang memesan ikan bakar. Jadi tergantung selera pembeli, apakah mereka mau pedas atau tidak?” ucap Maryani seraya menyampaikan, dia buka warung ikan bakarnya mulai dari jam 09.00 sampai jam 20.00, tergantung tamu yang datang.

Bagaimana rasa ikan bakarnya?

“Luar biasa, sungguh nikmat sekali rasanya. Lelah dan lapar setelah berkendara sepeda motor dari Mataram menuju Gili Trawangan, ketika merasakan ikan bakar ini semua lelah dan lapar saya langsung hilang. Selain itu, harga ikan bakarnya juga murah. Mungkin kalau ikan bakar kerapu, maupun ikan bakar kakap ini sudah masuk lingkungan hotel, atau restaurant, harganya bisa mencapai
Rp.100 ribu lebih. Tapi di Desa Malaka, dengan uang Rp.25 ribu sampai Rp.35 ribu saja, kita sudah merasakan menu makanan ikan bakar yang super nikmat,” ujar H. Karim, yang dijumpai bersama keluarga sedang menikmati ikan bakar. GT

Response (1)

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai wisata kuliner Indonesia. Indonesia yang terdiri dari berbagai daerah yang memiliki ke khasan wisata kulinernya masing-masing. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pariwisata indonesia yang bisa anda kunjungi di <a href="www.pariwisata.gunadarma.ac.id
    ">www.pariwisata.gunadarma.ac.id</a>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *