Laga Loe hampir Senasib dengan Waiwuring

PASAR LAGA LOE. Sejak beberapa waktu belakangan, pasar ini makin sepi peminat. Hal ini makin diperparah dengan konflik yang melanda Redontena-Adobala. Inilah kondisi pasar di hari pasar, Selasa, 10 September. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]

ADONARA, Lomboktoday.co.id – Dibandingkan Pasar lainnya di seluruh penjuru pulau Adonara, Flores, NTT, Pasar Laga Loe di Desa Suku Tokan, Kecamatan Keluba Golit, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT),  termasuk pasar tradisional cukup tua.

PASAR LAGA LOE. Sejak beberapa waktu belakangan, pasar ini makin sepi peminat. Hal ini makin diperparah dengan konflik yang melanda Redontena-Adobala. Inilah kondisi pasar di hari pasar, Selasa, 10 September. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
PASAR LAGA LOE. Sejak beberapa waktu belakangan, pasar ini makin sepi peminat. Hal ini makin diperparah dengan konflik yang melanda Redontena-Adobala. Inilah kondisi pasar di hari pasar, Selasa, 10 September. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Pasar yang terletak di posisi sangat strategis karena berada persis di pinggir jalan raya ini,  selain tua sehingga sudah banyak dikenal dan strategis, juga merupakan tempat berkumpul para pedagang dari beberapa kecamatan di Pulau Adonara.

Namun sayang, keberadaan  pasar yang sebelumnya sungguh terkenal itu, kini atau paling tidak menjelang pertengahan September ini, seakan mati tanpa penyebab yang jelas.  Justru sebaliknya yang berkembang yakni Pasar Mirek di Witihama.

Kondisinya kian terpuruk sejak terjadi keributan antara Desa Redontena dengan Adobala. Sejak meletusnya perang akhir Juni lalu, tidak ada sama sekali pedagang hasil tani dari Adobala yang mampir lagi di tempat ini.

Warga Adobala lebih banyak berdagang ke Sagu, atau ke pasar darurat yang dibuat pemerintah Kecamatan Keluba Golit di simpang tiga Pepak Geka.

Laga Loe sebenarnya memiliki keistimewaan lain karena letaknya  yang strategis dan dekat dari segala penjuru serta berada di perbatasan kecamatan Keluba Golit-Witihama yang sangat memungkinkan bagi warga dari dua kecamatan itu untuk melakukan aktivitas ekonomi di tempat ini.

Namun hal ini justru bertolak belakang dengan kenyataan. Justru warga lebih banyak melakukan aktivitas bisnis di Pasar Mirek, Witihama. Yang lebih tragis lagi, Pasar Laga Loe justru “ditinggalkan” para pedagang ketika salah satu los pasar yang cukup keren dibangun di tempat ini.

Dengan makin berangsur pulihnya kondisi konflik antar kampung yang sebelumnya bertikai, pemerintah kecamatan Keluba Golit diharapkan segera menghidupkan kembali pasar ini agar pembangunan los pasar yang keren ini tak hanya dipergunakan di masa insidentil, bukan untuk berdagang.

Tentu saja perlu mencari penyebab yang jelas, mengapa nasib Pasar Laga Loe hampir sama dengan Pasar Waiwuring yang sebelumnya sangat kesohor. Apakah di pasar yang jadwalnya dua hari sekali itu juga dipungut pajak tinggi seperti di Waiwuring sehingga membuat pedagang pada kabur semua? AMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *