Bangkitkan Ekonomi Bersama Usaha Batu Bata

Salah satu lokasi usaha batu bata di Loga, Desa Lewo Pulo, Kecamatan Witihama. Usaha batu bata cukup potensial dalam menggerakan ekonomi masyarakat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]

ADONARA, Lomboktoday.co.id – Perputaran uang yang sungguh lambat di kawasan pedesaan Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak membuat warga patah semangat. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan, meski untuk itu semua, harus membanting tulang sedemikian rupa.

Salah satu lokasi usaha batu bata di Loga, Desa Lewo Pulo, Kecamatan Witihama. Usaha batu bata cukup potensial dalam menggerakan ekonomi masyarakat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Salah satu lokasi usaha batu bata di Loga, Desa Lewo Pulo, Kecamatan Witihama. Usaha batu bata cukup potensial dalam menggerakan ekonomi masyarakat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Di samping pekerjaan sebagai petani yang banyak digeluti sejumlah warga di daerah ini khususnya di Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, ada pula warga tertentu di desa tertentu pula yang menjalankan usaha lain disamping bertani. Misalnya di Desa Lewo Pulo, Oring Bele, Lamablawa, dan Pledo yang mengerjakan industri batu bata.

Meski akhir-akhir ini, industri batu bata di beberapa desa selain Lewo Pulo/Loga, tampaknya kurang berkembang Sementara di Loga, Lewo Pulo jauh lebih berkembang karena didukung jenis tanahnya yang liat untuk pembuatan batu bata. Begitu juga air yang masih cukup melimpah karena dekat dengan sumber air Wai Bele di desa mereka.

Di tengah pembangunan rumah yang makin berkembang dalam berbagai model, khususnya bagi warga yang kebanyakan merantau ke Malaysia dan pulang membangun rumah, industri batu bata di beberapa tempat ini bagai mendapat angin segar. Harga per biji batu bata yang dinilai relative terjangkau hingga kini (12 September), Rp 700.- per biji, membuat warga tampaknya tak terlalu kewalahan menjadikan batu bata sebagai pilihan dalam membangun rumahnya.

Namun, di balik harganya yang relatif murah, tak sedikit duka dan jerih lelah dari sang pembuat batu bata mulai dari pengusaha hingga mandor yang merangkap sebagai penjual batu bata. Apalagi jika usaha batu bata itu tidak dilakukan di atas lahan milik sendiri.
Jika itu yang terjadi maka otomatis, pengusaha yang bersangkutan harus menyewa lahan untuk usaha pencetakan batu-bata, membeli kayu untuk pembakaran batu-bata hingga buruh untuk mencetak maupun membakar batu bata. Bagi pelaku bisnis tulen dalam dunia usaha, maka usaha batu bata bukanlah usaha yang terlampau menjanjikan untuk mendatangkan hasil y ang cukup memadai, karena begitu banyaknya tenaga dan biaya yang dikeluarkan sebelum hingga sesudah pembuatan batu bata.

“Untuk ongkos buruh, kami membayar mereka Rp 200 ribu per seribu batu bata,’’ kata Kidi, salah seorang pengusaha batu bata di Loga, Desa Lewo Pulo. Dengan ongkos buruh sedemikian, maka hasil yang diterima per seribu batu bata nyaris terpotong rata. Karena, pengusaha batu bata masih butuh ongkos untuk beli kayu, pengangkutan kayu, hingga sewa tanah untuk pembuatan batu bata.

“Ya, untung banyak atau sedikit, kita usaha dulu. Kalau tidak begini, bagaimana bisa beli ikan untuk lauk,’’ tanya Kidi pula. Kidi dan keluarganya memang belum terlampau lama menggeluti bisnis sebagai pengusaha batu bata. Namun sejauh ini mereka tak terlalu mengejar untung.

“Yang penting ada sedikit modal kami jalan dulu. Urusan untung rugi, nanti akan nyusul. Kalau kita mau bekerja, biar sedikit pasti ada hasil,’’ ucapnya cukup yakin. Kidi mengatakan demikian, karena bukan sekali dua kali dirinya mendapat pesanan batu bata sebelum ada uang di tangan.

“Mau tak mau, ya kami minta uangnya dulu, baru kami siapkan batu batanya,’’ ujar dia. Tak hanya Kidi dan keluarganya yang menjalankan profesi seperti ini. Begitu banyak warga di Lewo Pulo maupun Loga yang menjalankan usaha sebagai pengusaha batu bata. Lahan pertanian yang kian sempit, kesuburan tanah yang makin berkurang, membuat warga memutar otak mencari cara lain agar kehidupan tetap eksis.

Sementara itu, buruh yang bekerja di tempat ini dalam pengolahan tanah hingga menjadi bahan jadi batu bata, kebanyakan datang dari Atambua, Belu, di Pulau Timor. Sejumlah pengusaha batu bata mengaku, tak akan kuat mengolah (membanting) tanah sendiri untuk membuat batu bata.

“Itu tidak gampang. Makanya kebanyakan orang Atambua yang mengerjakan. Mereka pulang kampung dengan membawa banyak uang karena lama mereka jadi buruh di sini,’’ ujar pengusaha batu bata lainnya.

Nyata sekali bahwa bukanlah kekurangan lapangan kerja yang terjadi di daerah ini, sehingga beberapa diantara pemuda tanggung harus nganggur atau nongkrong di pinggir jalan sambil minum arak. Tampaknya, mental mandiri memang perlu dibentuk agar menjadi dapat pekerja keras dan mau “bertarung” seperti orang Atambua itu.

Di tempat ini (Lewo Pulo) yang tanahnya cocok sekali untuk membuat batu bata, tak hanya warga Lewo Pulo, warga dari desa lain pun tak sedikit yang menjalankan usaha sebagai pengusaha batu bata. Hanya beda dengan tempat lain, barangkali umumnya di luar Pulau Adonara.

Jika sudah dibeli, barang yang dibeli akan diterima di tempat, maka khusus untuk batu bata, ongkos angkut ditanggung sendiri. Jika tak bisa menggunakan mobil pick up atau yang lainnya karena medan yang tak memungkinkan, siap-siaplah menyewa orang sekampung untuk mengangkutnya dengan bayaran yang tentu saja tak perlu dikhawatirkan karena masih sangat terjangkau. AMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *