“Nasi Balap” Mulai Menjamur di Dermaga Waiwerang

Beberapa pedagang nasib balap mulai menjalankan aktivitasnya di sekitar Dermaga Waiwerang. Sebelumnya, aktivitas yang sama juga ada, hanya sejak dibangunnya kembali dermaga ini, aktivitas itu makin padat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]

ADONARA, Lomboktoday.co.id – Tanda-tanda gerakan ekonomi kian menggeliat, mulai terlihat di Dermaga Waiwerang, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ruang tunggunya baru dibangun awal bulan ini.

Beberapa pedagang nasib balap mulai menjalankan aktivitasnya di sekitar Dermaga Waiwerang. Sebelumnya, aktivitas yang sama juga ada, hanya sejak dibangunnya kembali dermaga ini, aktivitas itu makin padat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Beberapa pedagang nasib balap mulai menjalankan aktivitasnya di sekitar Dermaga Waiwerang. Sebelumnya, aktivitas yang sama juga ada, hanya sejak dibangunnya kembali dermaga ini, aktivitas itu makin padat. [Kopong Gana/lomboktoday.co.id]
Berbilang tahun, Dermaga Waiwerang hanya memiliki satu rumah makan yang lokasinya berada di belakang ruang tunggu penumpang yang baru dibangun sekarang ini. Ditambah dengan harga per piring nasi yang kurang sesuai dengan ukuran kantong kebanyakan orang, rumah makan ini memang tak seberapa ramai.

Orang hanya menyinggahinya jika benar-benar kepepet dan mungkin karena teramat lapar. Itu pun harus menunggu beberapa lama agar makanan pesanan bisa siap disantap. Apalagi dengan tak adanya ruang tunggu, membuat para penumpang kendaraan laut, baik yang ke Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun ke Lewo Leba, Kabupaten Lembata, jarang yang mau berlama-lama di tempat ini.

Hal itu belum ditambah suasana gerah karena jarang ada pepohonan di dermaga ini serta agak kumuh, lantaran selain bangunan tua, juga kurang terurus. Sejak dibangunnya dermaga menyusul ruang tunggu yang tampaknya bakal keren, geliat ekomoni mulai nampak.

Waiwerang tampaknya tak hanya sekadar dermaga yang hanya disinggahi sesaat seperti yang sudah-sudah. Sabtu, 14 September, tanda-tanda Dermaga Waiwerang akan bangkit sejajar dengan sejumlah dermaga lainnya di nusantara ini mulai nampak. Di mana-mana di seluruh Nusantara ini, yang namanya dermaga, biasanya beroperasi 24 jam tanpa henti. Namun khusus untuk Dermaga Waiwerang yang tanpa ruang tunggu, sekitar pukul 20.00 Wita, suasana sudah sangat gelap gulita.

Bahkan di hari tertentu, Dermaga Waiwerang tampak seperti bukan dermaga, karena sedemikian sepi aktivitas. Dermaga ini hanya ramai aktivitas ekonomi manakala ada perahu motor yang menurunkan penumpang di tempat itu. Setelah itu, suasana kembali sepi seperti tak terjadi apapun. Bahkan jika orang ingin beli air mineral saja, harus membeli di jejeran toko tak jauh dari dermaga itu. Dan itu pun dapat dilakukan jika toko masih buka. Jika tidak, bersabarlah hingga sampai rumah.

Kini, geliat ekonomi di tempat itu menunjukan tanda-tanda kehidupan yang menggembirakan. Sejumlah pedagang nasi yang dikenal dengan “nasi balap” mulai beroperasi cukup stabil di tempat ini. Nasi balap seharga Rp2 ribu itu sedemikian banyak peminatnya, mulai dari anak sekolah, buruh pelabuhan, pekerja bangunan hingga sejumlah warga yang ingin mampir menikmati nasi balap Waiwerang itu.

Namun sayang sekali, nasi balap Waiwerang bukan aneka rasa. Semuanya “dipukul rata” dengan rasa pedas yang cukup menggigit. Bagi yang tak bisa pedas terpaksa gigit jari. Patutlah diakui bahwa di manapun di negeri ini, pedagang makanan ringan, termasuk nasi balap, apalagi pedagang kaki lima, menjadi perintis pergerakan ekonomi.

Semoga Waiwerang, salah satu kota tua di pulau yang konon akan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) ini, akan mengalami pula perkembangan yang sama, dalam menyongsong ekonomi masyarakat yang kian mapan. AMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *