Masih Tinggi, Nikah Usia Dini di Desa Mareje

LOBAR, Lomboktoday.co.id – Menikah di usia dini seperti sudah menjadi budaya di sejumlah dusun di Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. Rata rata usia nikah anak di bawah umur baik pria maupun wanita belum lulus di bangku SMP/MTs.

“Karena tidak bisa melanjutkan sekolah, maka anak- anak di sini lebih memilih untuk kawin,” kata Kepala Desa Mareje, Insyar kepada Lomboktoday.co.id, di kediamannya.

Menurut Insyar, nikah di usia dini sudah menjadi kebiasaan buruk sejak lama di sembilan dusun yang menjadi wilayah Desa Mareje. Selain disebabkan karena faktor ekonomi, juga disebabkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakat setempat yang lokasinya berada di atas pegunungan yang kering dan tandus.

Ironisnya, sebagian besar penduduk di sembilan dusun yang bernaung di Desa Mareje yang lebih memilih kawin di bawah umur itu adalah penduduk buta huruf alias buta aksara.

Insyar menuturkan, kebiasaan kawin di bawah umur di sembilan dusun yang menjadi wilayah kerjanya sudah terjadi bertahun tahun lamanya. Bahkan kebiasaan kawin di bawah umur sudah menjadi budaya yang tidak bisa dihentikan, karena bisa berdampak menjadi perang (konflik) antar kampung.

“Kawin di bawah umur ini sudah menjadi budaya yang sulit dihentikan. Karena kalau anak di bawah umur itu tidak dinikahkan, maka bisa menjadi penyebab terjadinya konflik perang antar kampung,” ungkap Insyar.

Hal senada juga diakui Kepala Dusun Asak Siwak, Desa Mareje, Abdurrahim. Ia menyebutkan warga yang berada di Dusun Asak Siwak sebagian besar kawin di bawah usia 17 tahun untuk pria dan bahkan ada juga di bawah umur 15 tahun. Sementara perempuan ada juga yang belum lulus Sekolah Dasar (SD) menikah dengan pria yang juga di bawah umur 17 tahun.

“Kalau kita larang anak – anak itu nikah bisa menjadi masalah besar, yang berdampak pada perang kampung. Makanya kita tidak bisa berbuat apa -apa, ya terpaksa mengurus proses nikahnya,” papar Abdurrahim.

Menurut Abdurrahim, minimnya pengetahuan orang tua dan masyarakat secara umum tentang bahaya nikah di usia dini, ditambah lagi dengan faktor kemiskinan dan juga buta huruf membuat nikah di bawah umur ini lama kelamaan menjadi budaya yang sulit terbendung di sembilan dusun di Desa Mareje.

“Pemerintah juga tidak pernah datang melihat langsung kondisi masyarakatnya apalagi memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat. Akibatnya nikah di bawah umur menjadi budaya yang menyedihkan,” ungkapnya sembari berharap pemerintah segera mencarikan solusi terkait fenomena di kampung mereka tersebut. MN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *