Menteri Pertanian Panen Raya Kedelai di Lombok Tengah

937
Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Suswono didampingi Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, Minggu (29/9) mengawali panen raya lima ribu hektare Kedelai di Lombok Tengah yang dipusatkan di Dusun Bun Calang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. [Lomboktoday.co.id/GRA]

LOTENG,Lomboktoday.co.id – Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Suswono didampingi Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, Minggu (29/9) mengawali panen raya lima ribu hektare Kedelai di Lombok Tengah yang dipusatkan di Dusun Bun Calang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Suswono didampingi Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, Minggu (29/9) mengawali panen raya lima ribu hektare Kedelai di Lombok Tengah yang dipusatkan di Dusun Bun Calang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. [Lomboktoday.co.id/GRA]
Menteri Pertanian RI, Dr Ir H Suswono didampingi Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, Minggu (29/9) mengawali panen raya lima ribu hektare Kedelai di Lombok Tengah yang dipusatkan di Dusun Bun Calang, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. [Lomboktoday.co.id/GRA]
Panen raya diharapkan menjadi moment perluasan lahan tanam dan peningkatan produktifitas Kedelai menuju stabilisasi harga komoditi Kedelai di Indonesia.

Dalam sambutannya pada seremoni panen raya Kedelai tersebut, Menteri Pertanian RI Suswono mengatakan, moment panen raya Kedelai di Lombok Tengah yang bertepatan dengan harga Kedelai yang naik, bisa menjadi penyemangat petani untuk menjadikan komoditi Kedelai sebagai tanaman andalan di musim kering, setelah menanam padi di musim hujan.

“Lombok Tengah dan NTB pada umumnya merupakan daerah ketiga terbesar sebagai penyangga kebutuhan Kedelai nasional, setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang diharapkan bisa terus memperluas lahan tanam dan produksi Kedelainya ke depan,” katanya.

5 ribu hektare Kedelai yang ditanam di Lombok Tengah, tersebar di lima Kecamatan dari 12 Kecamatan yang ada, menurutnya merupakan program Kementerian Pertanian untuk mempercepat peningkatan produktifitas Kedelai tahun ini.

Menurut Suswono, komoditi Kedelai belakangan ini menjadi isu hot yang sedang ngetop, bahkan hingga ke media jejaring sosial, disebabkan kelangkaan produksi, harga yang melambung, hingga langkah import Kedelai.

Ketidakstabilan harga Kedelai di tingkat petani, menurutnya, menjadi salah satu pemicu turunnya produksi Kedelai nasional. Ia membandingkan, pada tahun 1992 Indonesia sudah berhasil mencapai swasembada Kedelai dengan luas lahan tanam baku mencapai 1,6 juta hektare, di mana harga Kedelai saat ini masih dua kali lipat lebih tinggi dari harga komoditi beras.

“Saat itu Bulog masih diberi peran menyangga harga komoditas Kedelai ini,” katanya.

Namun, setelah Bulog tidak lagi boleh menyangga harga Kedelai dan produk Kedelai import masuk ke pasar Indonesia, maka produktifitas Kedelai nasional pun terus menurun dari tahun ke tahun. Petani mulai enggan menanam Kedelai lantaran harganya yang terus menurun setelah pasar dibanjiri Kedelai import.

“Dibandingkan tahun 1992 silam, saat ini luas lahan baku untuk komoditi kedelai secara nasional tinggal sekitar 750 ribu hektare. Akibatnya disaat kebutuhan Kedelai nasional mencapai 2,4 juta ton per tahun, tak mampu ditutupi dengan produktifitas kita yang hanya sekitar 800 ribu ton per tahun, dan kebijakan import harus dilakukan untuk menutupi kebutuhan sisanya 1,6 juta ton,” katanya.

Suswono mengatakan, saat ini pemerintah tengah berupaya mengembalikan apa yang sudah dicapai pada 1992 dengan swasembada Kedelai melalui berbagai upaya. Salah satunya secara bertahap mulai mempercepat perluasan lahan tanam Kedelai dan peningkatan produktifitasnya dengan pendekatan teknologi.

Pemerintah juga sudah menetapkan HPP Kedelai sebesar Rp7000 perKg yang dilaksanakan melalui Perum Bulog. Hal ini diharapkan bisa menstabilkan harga di tingkat petani sekaligus menjadi rangsangan bagi petani untuk menanam Kedelai.

“Kalau ternyata harga di pasaran lebih tinggi, petani silahkan jual ke pasar. Tetapi saat harganya anjlok maka petani bisa menjualnya ke Bulog, sehingga petani tidak perlu ragu lagi menanam kedelai. Inilah sistem penyangga itu,” katanya. ROS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here