Berburu Lukisan Murah di Jalanan Lombok

LUKISAN MURAH: Salah satu stan lukisan harga murah di pinggiran Jalan Panca Usaha, Cakranegara, Kota Mataram, yang koleksi lukisannya sebagian besar masih didatangkan dari para seniman di Bali dan Jawa. (Lomboktoday.co.id/Sigit)
LUKISAN MURAH: Salah satu stan lukisan harga murah di pinggiran Jalan Panca Usaha, Cakranegara, Kota Mataram, yang koleksi lukisannya sebagian besar masih didatangkan dari para seniman di Bali dan Jawa. (Lomboktoday.co.id/Sigit)
LUKISAN MURAH: Salah satu stan lukisan harga murah di pinggiran Jalan Panca Usaha, Cakranegara, Kota Mataram, yang koleksi lukisannya sebagian besar masih didatangkan dari para seniman di Bali dan Jawa. (Lomboktoday.co.id/Sigit)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Bagi sebagian penggemar dan kolektor lukisan, memiliki lukisan karya sang maestro merupakan idaman hati. Harga mahal tak masalah, yang penting batin bisa terpuaskan.

Pemikiran itu mungkin berlaku bagi golongan menengah ke atas (orang kaya), yang secara materi tidak kekurangan. Lantas, bagaimana dengan golongan menengah ke bawah, yang hanya memiliki uang sisa secukupnya saja?

‘’Jangan kuatir, hobi koleksi seni masih tetap bisa tersalurkan. Harga lukisan-lukisan yang kami jual tidak mahal, hanya Rp50 ribu untuk lukisan berukuran kecil, hingga Rp2 juta untuk ukuran besar,’’ kata Wijana, pemilik stand lukisan yang ada di pinggiran jalan Panca Usaha, Cakranegara, kepada Lomboktoday.co.id, Kamis (03/10).

Bagi Wijana, yang juga pelukis aliran abstrak ini, bekerja di bidang seni itu mempunyai kenikmatan tersendiri. ‘’Ekonomi saya dapat, hobi melukis juga masih tetap jalan,’’ ujarnya.

Koleksi lukisan yang ditawarkan Wijana di pinggiran jalan memang bervariasi, mulai dari lukisan yang berbahan kanvas, hingga gambar kaligrafi dari bahan kuningan yang indah.

Sayangnya, berbagai karya lukisan yang di pajang, ternyata sebagian besar masih bergaya Bali, belum terlihat lukisan dengan tema Lombok.

‘’Memang, lukisan yang kami jual ini rata-rata masih kita datangkan dari para seniman di Bali. Sedangkan lukisan kaligrafi, atau tempat ibadah yang berbahan kuningan itu kita datangkan dari Jawa,’’ jelas Wijana.

Alasannya, karena para seniman lukis di Lombok masih ekslusif, dan tidak mau menurunkan standarnya dengan menjual lukisan yang murah.

‘’Padahal, banyak sekali pembeli yang mencari lukisan dengan tema Lombok. Tapi karena harganya mahal, maka para tamu itu akhirnya batal membeli lukisan Lombok, dan beralih membeli lukisan Bali,’’ terang Wijana menyayangkan.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Eko Udjie Santosa, Kepala Perum DAMRI Mataram, yang kebetulan dijumpai tengah asyik memilih lukisan.

‘’Saya sebenarnya berniat membeli lukisan yang bercirikan Lombok. Tapi sayang, harganya mahal, dan masih jarang sekali. Kalau lukisan style Bali, kolekis saya sudah banyak, dapat membeli dari pasar seni di Sukawati-Bali,’’ ucap Eko.

Padahal sambung Dian, pembeli lainnya, keberadaan stand-stand lukisan seperti di pinggiran jalan ini bisa menjadi wadah bagi para pelukis Lombok untuk mengenalkan karyanya, sekaligus menjual kalau ada yang berminat.

‘’Kalau hanya mengandalkan pameran lukisan di galeri-galeri besar saja, kapan ada kesempatan? Selain biayanya mahal, galeri besar adanya juga di kota-kota besar saja,’’ terang Dian.

Seperti sekarang sambung Dian, stan-stan lukisan di Lombok, meskipun hanya dipinggiran jalan, ternyata didominasi karya lukis dari luar daerah, yang tentu saja temanya juga dari daerah dimana lukisan tersebut berasal.

‘’Apa Lombok ini tidak ada seniman lukis? Atau menunggu sampai ada seniman dari luar daerah yang datang ke Lombok, dan kemudian menghasilkan karya seni lukis dengan nuansa Lombok,’’ pungkas Dian menyayangkan.(GT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *