Menggali Potensi Wisata di Kota Mataram

TAMAN SANGKAREANG. Efek lampu-lampu hias yang indah pada malam hari ketika menyorot bangunan air mancur yang dibangun di tengah-tengah Taman Sangkareang - Kota Mataram.(Lomboktoday.co.id/Sigit SL)

Sejarah panjang terbentuknya Kota Mataram, dimulai dari zaman Kerajaan Mataram, Pemerintah Kolonialis Belanda, Pendudukan Jepang, hingga menjadi Daerah Tingkat II (Kota Madya) seperti sekarang, Mataram tentu kaya berbagai peninggalan sejarah dan situs budaya yang merupakan pendukung utama sektor pariwisata. Seperti apa sebenarnya potensi wisata yang ada di Kota Mataram ?

Sigit Setyo Lelono – MATARAM

ADA tiga kecamatan di Kota Mataram yang sejak dahulu telah berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa, yaitu Kecamatan Ampenan (sebelah barat), Mataram (tengah) dan Cakranegara (sebelah timur).

Kecamatan Ampenan, atau dikenal sebagai Kota Pelabuhan Tua Ampenan, yang sebagian besar wilayahnya adalah pesisir pantai, pada zaman dahulu merupakan kota pelabuhan yang ramai disinggahi para pedagang dari berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara. Kejayaan kota pelabuhan tua di masa lalu ini, bahkan masih dapat disaksikan keberadaannya hingga sekarang.

“Di pinggiran pantai Ampenan, masih tertancap tiang-tiang besi dan kayu bekas tiang pancang pelabuhan, yang seakan tak lekang dimakan waktu,” kata Kepala Bappeda Kota Mataram, Lalu Mertawang.

TAMAN SANGKAREANG. Efek lampu-lampu hias yang indah pada malam hari ketika menyorot bangunan air mancur yang dibangun di tengah-tengah Taman Sangkareang - Kota Mataram.(Lomboktoday.co.id/Sigit SL)
TAMAN SANGKAREANG. Efek lampu-lampu hias yang indah pada malam hari ketika menyorot bangunan air mancur yang dibangun di tengah-tengah Taman Sangkareang – Kota Mataram.(Lomboktoday.co.id/Sigit SL)

Selain itu, di sekitar pantai, maupun berbagai wilayah Ampenan lainnya, juga banyak berdiri arsitektur bangunan lama, baik peninggalan Belanda, maupun zaman sesudahnya.

Melihat potensi wisata sejarah di Ampenan tersebut, sejumlah perusahaan besar dari Jakarta tercatat pernah menawarkan investasi untuk mengembangkan Kota Pelabuhan Tua Ampenan. Meskipun hingga kini belum terealisasi, atau bahkan membatalkan akibat berbagai faktor.

Namun demikian, Pemkot Mataram juga tidak tinggal diam, dan hanya pasrah menunggu investor saja.

Buktinya, untuk melengkapi keindahan dan keunikan Kota Pelabuhan Tua Ampenan, agar keberadaannya bisa menarik perhatian investor, maupun kedatangan pengunjung (wisatawan), Pemkot Mataram kini juga sedang membangun jalan sepanjang 9 kilometer di pinggiran pantai Ampenan, yang disebut “Sunset Boulevard”.

“Kalau jalan Sunset Boulevard itu terwujud, nantinya dapat dipakai sebagai areal jogging track, pusat kuliner, lokasi untuk melihat sunset, dan lainnya,” jelas Mertawang.

Berikutnya sekitar 3 kilometer arah timur Ampenan, terdapat Kecamatan Mataram yang merupakan pusat Pemerintahan Kota Mataram, sekaligus Ibukota Pemerintah Provinsi NTB.

Sebagai pusat pemerintahan, maka di Kecamatan Mataram tentu banyak berdiri gedung-gedung pemerintahan, dan berbagai fasilitas publik lainnya, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, perdagangan, jasa, perhotelan, dan lainnya.

“Karena didukung dengan fasilitas yang memadai, maka Kecamatan Mataram sering menjadi lokasi penyelenggaraan even-even tingkat nasional, maupun internasional,” terang Mertawang seraya menyampaikan, di Kecamatan Mataram juga terdapat jembatan gantung peninggalan Belanda.

Selanjutnya sekitar 2 kilometer ke arah timur dari Mataram, terdapat Kecamatan Cakranegara yang setiap hari selalu ramai aktifitas masyarakat, karena daerah ini merupakan pusat perdagangan dan jasa terbesar di Provinsi NTB.

Di Cakranegara banyak berdiri usaha-usaha skala besar dan kecil, sehingga tempat ini menjadi tujuan utama wisata belanja bagi masyarakat, dan para wisatawan ketika mereka berkunjung ke Mataram.

“Sebagai pusat pemerintahan pada jaman Kerajaan Mataram, Kecamatan Cakranegara juga banyak menyimpan bangunan-bangunan bersejarah, seperti Taman Mayura, Pura Miru, serta kekayaan seni dan budaya warisan masa lalu,” urai Mertawang.

Ketiga wilayah kecamatan ini dihubungkan oleh jalan raya (jalan protokol), yang di kiri dan kanan jalan terdapat deretan pohon-pohon Kenari dan Asam yang ditanam oleh penguasa Belanda, dan Raja Mataram. Sehingga ketika melintas di jalan ini, suasana terasa sejuk dan nyaman.

Sementara tiga kecamatan lainnya di Kota Mataram, yaitu Kecamatan Sekarbela, Selaparang, dan Sandubaya, merupakan daerah pengembangan baru di Kota Mataram, untuk menyangga dan mendukung perkembangan yang terjadi di tiga kecamatan sebelumnya.

Ketiga daerah kecamatan baru ini selain terdapat berbagai bangunan bersejarah, juga telah berkembang sesuai karakteristik daerah masing-masing.

“Kecamatan Sekarbela menjelma menjadi pusat kerajinan perhiasan mutiara. Kemudian Kecamatan Selaparang terkenal dengan pusat kuliner ikan air tawar. Sedangkan Kecamatan Sandubaya mencuat sebagai pusat perdagangan dan jasa yang terus berkembang,” papar Mertawang. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *