Hari Ini Temu Akbar OMK

Tokoh Muslim Werang Gere, Djamil Demon Sesa dalam suatu upacara (Foto: Lama Tokan/Lomboktoday.co.id)

Tokoh Muslim Werang Gere, Djamil Demon Sesa dalam suatu upacara. (Foto: Lama Tokan/Lomboktoday.co.id)

WITIHAMA, Lomboktoday.co.id – Hari ini, Minggu (27 Oktober 2013), dilakukan temu akbar OMK (Orang Muda Katolik) se-Keuskupan Larantuka yang berlangsung di Paroki St Maria Bunda Pembantu Abadi, Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Temu akbar OMK ini melibatkan hampir segenap masyarakat se-Kecamatan Witihama, mulai dari pemerintah desa, karang taruna, OMK di masing-masing stasi se-Kecamatan Witihama, hingga Remaja Masjid di sejumlah desa di Kecamatan Witihama.

Salah seorang tokoh muslim di Desa Werang Gere, Djamil Demon Sesa, memandang hal ini sebagai suatu yang sangat positif dalam menjalin kebersamaan dan persaudaraan. ‘’Ya, remaja masjid memang ikut dilibatkan. Ini suatu yan bagus. Kita saling bantu, apalagi yang datang ini jumlahnya ribuan. Kita perlu menampilkan kesan yang baik untuk daerah kita ini kepada para tamu kita yang datang,’’ ungkap Djamil kepada Lomboktoday.co.id  tadi pagi (Minggu, 27 Oktober 2013).

Memang caleg dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang hendak melangkah ke Bale Gelekat Lewo Tanah di Kota Reinha Rosari pada ajang Pileg mendatang ini, belum tahu secara rinci jumlah anggota remaja masjid yang ikut dilibatkan dalam temu akbar OMK ini. ‘’Ya, yang jelas ada beberapa adik-adik kita yang ikut untuk kerja bakti di sana (Aula Ludger Jessing di Gereja Witihama). Kalau kerja sosial begini kan tak apa. Lain hal kalau diajak doa bersama. Nah itu barangkali toleransi yang tidak jelas. Tapi ini kan kerja bakti. Tak apa kita semua terlibat. Dengan begitu kesan mereka yang datang dan melihat kondisi daerah kita yang lebih bersih dan penyambutan yang ramah, tentu jauh lebih baik,’’ ujarnya.

Djamil menambahkan, karena banyaknya tamu yang datang, dia dan beberapa warga di Desa Werang Gere, ikut kebagian menampung beberapa orang di rumah mereka masing-masing. ‘’Rumah kami kecil. Bersama warga yang lain kami bagi-bagi. Kalau saya, hanya tampung dua orang saja. Yang rumahnya lebih besar, mungkin tampung lebih banyak,’’ ucapnya.

Temu akbar OMK se-Keusukupan Larantuka sesuai informasi yang diperoleh, melibatkan tidak kurang dari 62 paroki se-Keuskupan Larantuka. Masing-masing paroki mengutus 30 anggota OMK ditambah seorang pastor. Dengan demikian, jumlah peserta dalam temu akbar OMK Ini hampir mencapai 2 ribu orang.

Untuk meringankan beban pihak Paroki Witihama, anggota OMK dibagi-bagi ke masing-masing stasi. Desa Watoone yang punya umat Katolik paling  banyak, yang di dalamnya terdiri dari lima lingkungan, menampung OMK tidak kurang dari 400 orang.

Di bagian permukaan, memang semuanya tampak lancar dan aman-aman saja. Namun mengingat banyaknya tamu yang datang, agaknya kegiatan temu akbar OMK ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Persoalan makan, tidur, dan nginap, belakangan menjadi cukup ‘serius’ jadi perbincangan. Sebab, di awal-awal rapat berembus informasi, bahwa anggota OMK hanya menginap, tapi urusan makan dan lain-lain menjadi urusan panitia.

Belakangan, informasi lain beredar pula, OMK tak hanya nginap saja tapi makan  dan tidurnya pun diurus keluarga yang menampung mereka.

Akibatnya, ada beberapa warga yang sebelumnya mau menerima dan menampung sejumlah OMK karena rumahnya memungkinkan untuk menampung banyak orang, berbalik menolak. Alasannya, singkat praktis, dan jelas. ‘’Ya, kami nggak mampu beri makan banyak orang. Kalau sekadar nginap kan nggak apa,’’ kata mereka.

Bahkan ada yang sempat mempertanyakan, jika ini memang gawe OMK,  mengapa kesannya seakan-akan ada penyambutan imam atau uskup baru sehingga perlu dibuatkan pesta sedemikian meriah apalagi sampai menguras kantong warga?

Inilah ‘kehebohan’ baru yang muncul belakangan menjelang penyambutan OMK. Untuk sementara ini, solusi yang diambil pihak Lingkungan I Watoone, masing-masing warga menyumbangkan sekilo beras plus uang Rp 5 ribu. ‘’Cukup tak cukup, inilah kemampuan warga,’’ ujar sejumlah umat di Lingkungan I Watoone.

Sementara di lingkungan yang lain lagi, berlaku pula kesepakatan yang lain lagi. Dan, bagi yang merasa diri tak mampu secara ekonomi, terpaksa tarik diri pelan-pelan.(AMA)

Kirim Komentar

Leave a Reply