Lahirnya Generasi Emas di NTB

Golden Generation Poster v4 (Rio)

Golden Generation Poster v4 (Rio)

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Sesuai surat keputusan (decision letter) Dominique McMahon, Associate Program Officer Grand Challenges Canada (GCC) pada 15 Oktober 2013, proposal yang diajukan oleh Pemerintah Provinsi NTB bekerjasama dengan Universitas Mataram yang berjudul ‘Golden Generation Program for Community-Based Early Childhood Development’ atau ‘Program Generasi Emas untuk Pengembangan Anak Usia Dini Berbasis Masyarakat’ disetujui untuk didanai oleh GCC.

GCC adalah sebuah lembaga yang dibiayai oleh Pemerintah Kanada untuk mengangkat gagasan-gagasan brilian yang memberi dampak besar terhadap kesehatan global.

Proposal tersebut diajukan ke GCC pada Februari 2013 lalu. Setelah bersaing dengan lebih dari seratus Negara, terpilih 14 proposal untuk didanai, dengan rincian 10 negara memperoleh pendanaan masing-masing sebesar 270.000 dollar Kanada (sekitar Rp2,5 milyar) dan 4 negara (Indonesia, Kolombia, Bangladesh dan Jamaika) masing-masing mendapatkan 2 juta dollar Kanada (sekitar Rp20 milyar).

Dr H Rosiadi Sayuti, selaku Project Investigator mengatakan, tahun ini Pemerintah Kanada melalui GCC menggelontorkan total dana 10,1 juta dollar Kanada (Rp100 milyar) untuk 14 negara berpenghasilan rendah, menengah dan Kanada sendiri.

Berangkat dari kondisi terkini di daerah ini dan ‘mimpi’ yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi NTB 2005-2025, maka proposal itu diajukan ke GCC yang berkantor di Toronto Kanada. Bagi Pemerintah Provinsi NTB, kata Assisten I Setda Provinsi NTB ini, kehadiran program Generasi Emas ini, tentu saja akan mempercepat gerak langkah program prioritas daerah seperti kesehatan, gizi, pendidikan anak usia dini (PAUD), pemberdayaan keluarga dan keluarga berencana. Hasil akhirnya, tahun 2025 akan lahir generasi unggul, generasi emas dari NTB.

Integrasi berbagai program prioritas itu (kesehatan, gizi dan pendidikan anak usia dini) akan dilaksanakan melalui strategi; meningkatkan kapasitas pengelola/guru PAUD, menerjunkan tenaga lapangan terlatih untuk membina dan mensertifikasi ‘Pasangan Ramah Anak’ (Baby Friendly Couple) dan menyelenggarakan suatu system informasi real time yang menghubungkan petugas dan sasaran dalam rangka pemantauan tumbuh kembang anak serta kebutuhan intervensinya. Dampak program akan dinilai melalui suatu assessment acak yang melibatkan sekitar 80 Puskesmas, 30 ribu pasangan dan anaknya yang berusia bawah dua tahun (baduta).

Untuk menjamin keberlangsungan program saat ini dan mendatang, program juga akan membentuk koperasi bagi petugas lapangan dan Pusat Study Pengembangan Anak Usia Dini di UNRAM. Pusat Study ini nantinya akan menjadi pusat rujukan pembelajaran pengembangan anak usia dini di Indonesia bahkan untuk skala internasional.

Program ini merupakan kolaborasi anatara Pemerintah Provinsi, kabupaten/kota, UNRAM, the Summit Institute of Development  (SID) dan the Harvard School of Public Health. Susunan personil program; Dr H Rosiadi Sayuti (Project Investigator), Dr Husni Muadz (Co-Project Investigator), Khaerul Anwar, Mandri Apriatni, Benjamin Harefa, Elizabeth Prado, dan Dr Anuraj Shankar.(AR)

Kirim Komentar

Leave a Reply