Pertanyakan Penggusuran, ALARAM Gedor DPRD

LOTENG,Lomboktoday.co.id – Puluhan pelaku wisata di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) yang tergabung dalam LSM ALARAM mendatangi kantor DPRD Loteng Selasa (29/10). Mereka mempertanyakan masalah relokasi sejumlah bangunan di Roi pantai Kuta yang dilakukan oleh Pemda Loteng beberapa hari yang lalu.

Suasana hearing LSM ALARAM di DPRD`Loteng. (Lomboktoday.co.id/Akhyar Rosidi)

Suasana hearing LSM ALARAM di DPRD`Loteng. (Lomboktoday.co.id/Akhyar Rosidi)

Ketua ALARAM, Lalu Hizi mengatakan, kalau Roi pantai Kuta direlokasi maka Pemda Loteng  harus menyakini bahwa  Roi pantai Kuta itu merupakan tanah ulayat atau tanah adat yang tidak boleh diapa-apakan karena itu merupakan tanah adat.

“Kami juga ingin mempertanyakan apa kebijakan Pemda Loteng untuk melakukan pengusuran terhadap sejumlah bangunan yang ada di Roi pantai Kuta tersebut,” katanya.

Sementara salah satu pelaku wisata di pantai Kuta, Lalu Anhari menyampaikan, bahwa Pemda tidak pernah melakukan sosialisasi dengan baik terkait relokasi bangunan di Roi pantai tersebut.

“Pemda tidak pernah memikirkan dampak negatif yang muncul. Karena adanya isu akan digusur banyak tamu yang cek out gara-gara Pemda mau melakukan penggusuran terhadap Roi pantai itu,” katanya.

Menurut dia, pihaknya menerima penggusuran ini ,tetapi tetap mempertanyakan setelah Roi pantai dikosongkan apa rencana Pemda Loteng selanjutnya untuk tanah tersebut.

“Mau diapakan setelah kami digusur, itu yang kami pertanyakan,”katanya.

Sementara menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Loteng, Lalu Putria mengatakan, pemda sudah melakukan sosialisasi kepada para pemilik bangunan yang ada di Roi pantai Kuta terkait dengan relokasi tersebut.

“Bahkan kami sudah melakukan pendekatan secara kekeluargaan. Yang jelas kami dari Pemda sudah melakukan sosialisasi bukti dokumentasi kami ada,” tukasnya.

Dikatakan, berdasarkan data yang diterima, sampai saat ini yang sudah mau mengosongkan Roi pantai Kuta itu sudah  di atas 80 persen, hanya tinggal 4 orang yang belum mau mengosongkan Roi pantai Kuta.

“Tetapi kita akan tetap melakukan pendekatan secara kekeluargaan supaya mereka mau pindah. Selanjutnya  tanah tersebut akan ditetapkan sebagai tanah adat dan tidak pernah akan dijual kepada siapapun, ingat kata-kata saya ini,”tegasnya. ROS

Kirim Komentar

Leave a Reply