Kembangkan Pariwisata, BPPD akan Gelar Diskusi Publik

MATARAM,Lomboktoday.co.id – Membangun dan mengembangkan pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tentu butuh peran dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, keamanan (polisi), pelaku dan usaha wisata, serta masyarakat. Termasuk diantaranya adalah pelibatan media massa.

“Karena bersentuhan langsung dengan masyarakat, peran media massa tentu sangat penting. Baik untuk media promosi, penyebaran informasi, hingga mencari solusi dan pemecahan berbagai permasalahan yang terjadi di lingkup pariwisata,” kata Kepala Badan promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Awanadhi Aswinabawa, Rabu (30/10), kepada sejumlah Wartawan.

Menyadari itu, BPPD NTB sebagai lembaga yang dipercaya Pemprov NTB untuk mempromosikan bidang pariwisata, menggandeng salah satu televisi lokal di NTB, Lombok TV, terhitung sejak 1 November 2013, menggelar paket acara diskusi publik bertajuk “Forum Pariwisata NTB”.

“Diskusi publik tentang pariwisata NTB ini akan berlangsung di Studio Utama Lombok TV Mataram, dan akan disiarkan secara langsung (life) oleh Lombok TV pada pukul 19.30 hingga 21.30 Wita,” jelas Awan, yang pada kesempatan itu juga didampingi anggota BPPD NTB lainnya dari unsur Profesional/Media, H.Abdul Syukur, dan Plt Ketua INCCA NTB, Nurhaedin “Edo”.
Hingga Desember 2013 mendatang, ada lima paket program dengan topik berbeda yang akan disiarkan.

“Siaran pertama akan mengambil topik diskusi “BTDC : Antara Janji dan Realitas”, yang akan mengupas tuntas berbagai
problem (permasalahan) yang terjadi di Kawasan Mandalika Resort. Mengapa hingga kini belum juga ada progress (laporan) perkembangan pembangunan kawasan wisata yang dikelola oleh BTDC (Bali Tourism Development Corporation) itu,” papar Awan.

Acara akan menghadirkan para narasumber (pembicara) yang berkompeten di bidangnya, mulai dari unsur Muspida Provinsi dan Kabupaten, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Ketua BPPD NTB, anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten, perwakilan akademisi dan praktisi pariwisata, asosiasi pariwisata, dan para pejabat terkait lainnya.

Selain itu, juga mengundang wartawan dari berbagai media, travel agent, perwakilan maskapai penerbangan di NTB (Garuda, Lion Air, dan Citilink), mahasiswa (Universitas Mataram, Akademi Pariwisata Mataram, Akademi Manajemen Mataram), dan para tokoh masyarakat, tokoh agama, serta tokoh pemuda.

Sedangkan topik-topik berikutnya, meskipun telah disiapkan oleh BPPD NTB, namun pelaksanaannya bisa saja disesuaikan dengan situasi dan perkembangan terkini yang terjadi di dunia pariwisata.

“Secara garis besar, empat topik berikutnya itu adalah “Promosi Pariwisata dan Peningkatan Kualitas SDM Pariwisata NTB Dalam Mengejar Target Kunjungan 2 Juta Wisatawan”, “Investasi Pariwisata di NTB : Permasalahan dan Solusi”, “Sinkronisasi
Kebijakan Pariwisata di Tingkat Provinsi Dengan Kebijakan di Tingkat Daerah Kabupaten/Kota”, dan “Kesiapan Pemerintah Provinsi NTB Dalam Menyambut Event Tambora Menyapa Dunia 2015”,” jelas Awan.

Sementara itu, anggota BPPD NTB dari unsur Profesional/Media, H. Abdus Syukur, menambahkan, diskusi publik dengan tema-tema
terkini seputar problem pariwisata ini diharapkan dapat menjaring masukan dari masyarakat, sekaligus mencari solusi untuk penyelesaian berbagai masalah yang terjadi seputar pengembangan pariwisata NTB.

“Seperti masalah pengembangan Kawasan Mandalika Resort yang dikelola oleh salah satu Badan Usaha Milik Negara, BTDC. Mengapa hingga kini belum juga ada progress (laporan) pembangunan yang berlangsung? Bahkan masa depannya terkesan makin “suram” saja,” beber Abdus Syukur.

“Selama ini masyarakat selalu bertanya-tanya, Provinsi NTB dalam program kerjanya telah menjadikan sektor pariwsata sebagai program unggulan. Namun kenyataan yang terjadi, perkembangan dan pembangunan pariwisata yang terjadi justru masih jauh dari harapan. Lantas, apa yang bisa dipromosikan BPPD NTB kalau destinasinya saja belum memadai,” sambung Edo.

Disadari, untuk mengembangkan pariwisata seperti yang diharapkan, yaitu menjadikan NTB sebagai satu (1) diantara tiga (3) destinasi wisata unggulan nasional, NTB masih banyak membutuhkan investasi dari luar.

“Namun kalau berita-berita yang keluar dari NTB justru kontra produktif dengan pengembangan pariwisata, seperti masih rumitnya pelayanan administrasi dan perijinan, hingga adanya pungutan-pungutan yang memberatkan para calon investor. Pengusaha mana yang mau berinvestasi ke NTB?” ucap Edo setengah bertanya.

“Karena itu, melalui diskusi public ini diharapkan dapat memberikan penyadaran kepada para pengambil kebijakan, agar kedepan membuat regulasi (aturan) yang tidak berbelit terkait administrasi dan perijinan untuk investasi. Demikian juga kepada masyarakat, harapannya agar selalu menciptakan situasi yang aman dan kondusif, sehingga NTB (Lombok dan Sumbawa) aman dan
nyaman dikunjungi para wisatawan,” pungkas Edo.GT

Kirim Komentar

Leave a Reply