Lestarikan Kesenian Islami, Disbudpar Gelar Festival Rudat

KESENIAN RUDAT. Salah satu grup kesenian Rudat dari Desa Montong, Kabupaten Lombok Barat, unjuk ketrampilan dalam Festival Rudat 2013 di Taman Monumen Bumi Gora Mataram.(Sigit SL/Lomboktoday.co.id)

MATARAM,Lomboktoday.co.id– Sebagai upaya pelestarian kesenian bernuansa Islami yang ada di pulau Lombok, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, Minggu (17/11) menggelar Festival Rudat 2013, di Taman Monumen Bumi Gora, Kota Mataram.

“Pelaksanaan Festival Rudat ini, selain diniatkan untuk melestarikan kesenian lokal Lombok agar tidak punah, dan kembali digemari masyarakat, kedepan diharapkan juga dapat membawa dampak ekonomi bagi para pelakunya,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar NTB, Drs Faesal, ketika memberikan sambutan sekaligus membuka acara mewakili Kepala Disbudpar NTB.

KESENIAN RUDAT. Salah satu grup kesenian Rudat dari Desa Montong, Kabupaten Lombok Barat, unjuk ketrampilan dalam Festival Rudat 2013 di Taman Monumen Bumi Gora Mataram.(Sigit  SL/Lomboktoday.co.id)
KESENIAN RUDAT. Salah satu grup kesenian Rudat dari Desa Montong, Kabupaten Lombok Barat, unjuk ketrampilan dalam Festival Rudat 2013 di Taman Monumen Bumi Gora Mataram.(Sigit SL/Lomboktoday.co.id)

Disampaikan Faesal, mengapa selama ini kesenian dan kebudayaan yang ada di NTB seperti tenggelam ditelan globalisasi jaman? “Semua terjadi karena para pelakunya tidak mendapatkan manfaat ekonomi. Sehingga pelan namun pasti, berbagai seni dan budaya, termasuk tradisi lokal juga mulai ditinggalkan,” ujarnya.

Padahal kalau menyimak sejarah yang ada, keberadaan kesenian Rudat di Lombok konon diperkenalkan dan diajarkan oleh para ulama besar yang baru pulang dari Mekah.

“Karena itu, tidak mengherankan kalau dari unsur gerak maupun syair yang dibawakan, kental dengan ajaran agama Islam,” jelas Faesal.

Artinya, melestarikan kesenian Rudat, berarti juga menjaga aqhlak manusia Lombok yang mayoritas beragama Islam, agar selalu bertingkah laku sesuai dengan norma-norma dan ajaran agama yang dianut.

“Hal ini tentu dapat menjadi benteng yang kuat, di tengah gempuran budaya barat yang belum tentu sesuai,” tandas Faesal.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Rudat 2013, H. Sarjan, dalam laporannya menyatakan, bahwa kegiatan itu sebenarnya akan diikuti oleh 24 Sanggar Seni yang ada di seluruh pulau Lombok. Namun dalam pelaksanaannya, ternyata hanya 15 Sanggar Seni saja yang ikut berpartisipasi.

“Ke-15 grup kesenian Rudat itu, diantaranya dari Kota Mataram ada sebanyak 5 grup, Kabupaten Lombok Barat 5 grup, Kabupaten Lombok Utara 4 grup, dan Kabupaten Lombok Timur 1 grup. Sementara Kabupaten Lombok Tengah sama sekali tidak ada mengirimkan perwakilannya,” papar Sarjan, yang juga Kepala Seksi Kesenian Bidang Kebudayaan Disbudpar NTB ini.

Diakhir laporan, dia juga berharap Festival Rudat ini bisa menjadi agenda rutin tahunan, mengingat pentingnya pelestarian seni dan budaya lokal Lombok, sebagai pendukung pengembangan program kepariwisataan NTB, Visit Lombok Sumbawa jilid II, dengan tema besar “Tambora Menyapa Dunia 2015”, yang menargetkan 2 juta kunjungan wisatawan ke NTB.

Sejarah Rudat Lombok

Dari berbagai sumber yang ada, Kemidi Rudat pada awalnya tumbuh dan berkembang di lingkungan pondok pesantren. Kesenian Rudat berupa seni gerak dan vokal, dengan diiringi bunyi, atau nada ritmis dari waditra, sejenis rebana. Syair-syair dalam nyanyiannya juga bernafaskan kegamaan, yaitu mengagungkan asma (nama) Allah dan Shalawat Rosul (Nabi Muhammad SAW).

Di berbagai daerah Indonesia, sebenarnya banyak terdapat kesenian serupa Rudat, namun berbeda nama. Salah satunya seperti di Banten, kesenian Rudat dikenal dengan istilah Seni Terbang, yaitu tarian yang diiringi musik dan lantunan syair. Sama seperti di Lombok, kesenian ini di Banten juga diyakini sebagai peninggalan para ulama Banten ketika melakukan penyebaran agama Islam.

Terkait asal-usul Kemidi Rudat di Lombok, tidak seorangpun yang bisa menjelaskan secara pasti, karena sumber tertulis tidak ada, atau belum dijumpai sampai sekarang.

Informasi menyebutkan, kesenian Rudat dikembangkan pertama kali oleh HL Mohammad Said di Kopang, Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 1920, setelah kepulangannya dari Mekkah (Lalu Wacana, dkk; 1978/1979:62). Namun buku ini juga tidak menjelaskan darimana kesenian Rudat ini berasal.

Sumber lain dari sebuah makalah berjudul “Memperkenalkan Tari Rudat Lombok, Nusa Tenggara Barat” (Kanwil Depdikbud NTB, Proyek Pengembangan Kesenian NTB, 1985/1986:1) menyebutkan, kesenian rudat dikenal di Lombok sejak tahun 1912, diperkenalkan oleh beberapa orang yang baru pulang dari Mekkah.

Selain kedua sumber itu, juga ditemukan keterangan bahwa yang merintis kesenian Rudat adalah Haji Mas’ud, warga Kelurahan Dayan Peken, Ampenan dan Sayyid Al-Idrus, seorang keturunan Arab yang menjadi penduduk kampung Sukaraja, Ampenan. Kedua tokoh ini diduga menjadi cikal bakal pendirian Kemidi Rudat di berbagai tempat di Ampenan. Haji Masud mengajarkan lagu-lagu Arab dan permainan kemidi, sedangkan Sayyid al-Idrus yang mengajarkan tari rudat berupa pencak silat dan membuat serta mengajarkan ceritanya.

Konon ketika Haji Mas’ud masih berada di Mekkah, dan sedang beribadah di Masjidil Haram, dia menyaksikan proses penggantian Kiswah Ka’bah yang dilakukan oleh Syarif al-Osmaniah dari Turki, dengan pasukan kehormatan yang juga berasal dari Turki.

Kegagahan pasukan Turki, dengan pakaiannya yang indah begitu mengesankan dirinya, sehingga setelah sampai di tanah kelahiran, Ampenan, menimbulkan inspirasi menciptakan kostum untuk dipakai para pemain Kemidi Rudat yang didirikan bersama dengan saudara dan keluarganya, yaitu Haji Abdurrahim, Muhammad Rais, Haji Musanip, Haji Durahman, dan Amaq Midah sebagai Ketua.

Kebetulan ayah angkat Haji Masud, yaitu Haji Hasan Semito, putra jawa pensiunan Sersan Marsose Belanda, masih menyimpan pakaian kebesaran militernya. Maka pakaian tersebut dipinjamnya untuk digunakan aktor yang memerankan prajurit Turki. Karena Kemidi Rudat yang ditampilkan mengangkat cerita dari Turki atau Timur Tengah.

Pendapat lain tentang sejarah Rudat, juga tertulis dalam buku “Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Nusa Tenggara Barat” yang menyebutkan bahwa kesenian rudat ini merupakan perkembangan dari Zikir Saman dan Burdah, yang keduanya bersumber dari kesenian Arab.

Zikir Saman adalah lantunan zikir yang dilagukan, disertai gerakan Pencak Silat, sedangkan Burdah adalah nyanyian vokal yang dibawakan sambil menari dengan gerakan pencak silat, tetapi dalam posisi duduk.

Masyarakat juga percaya, Rudat diadopsi dari budaya Parsi (Timur Tengah) yang dibawa para pedagang Islam melalui India, kemudian ke Semenanjung Melayu. Kemudian oleh pedagang dan penyebar Islam Banjar-Kalimantan, di bawa ke Lombok sebagai media dakwah penyebaran agama Islam. Selain itu, masih banyak pendapat lain tentang sejarah Rudat di Lombok.

Kelompok kesenian Rudat terdiri dari paling sedikit 25 orang pemain, terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu pemain musik pengiring 7-9 Orang, dan sisanya berperan sebagai pemain drama (gettho, 2008).

Yang jelas, Kemidi Rudat sekarang telah menjadi bagian dan milik masyarakat sasak Lombok, meskipun di dalamnya terdapat juga beberapa unsur kebudayaan lain, seperti Melayu, Arab, bahkan Belanda. Dimana semua kebudayaan itu bersatu padu menjadi kesenian yang bernuansa Islami.GT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *