Berfikir Lima Detik Menjadi Kaya

TULISAN ini bukan hanya sekedar sebuah pemikiran semata. Ini merupakan sebuah realita yang telah saya alami beserta keluarga selama beberapa tahun terakhir. Bahwa hanya dengan berfikir lima detik saja, kami sudah dapat merubah hidup menjadi lebih baik. Selamat Berfikir.

Sesunguhnya manusia itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk yang sempurna dan bagus, dan manusia diciptakan sebagai kholifah di Bumi ini.

Allah SWT berfirman : “Sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna” (At Tiin :5).

Tuhan memberikan manusia Cipta, Rasa dan Karsa serta berbagai kelebihan yang dimiliki bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya di muka bumi ini. Manusia memiliki akal (otak) untuk dapat berfikir, karena otak manusia dapat dengan cepat merespon segala bentuk tindakan yang ia akan lakukan.

ilustrasi/lomboktoday.co.id

ilustrasi/lomboktoday.co.id

Dalam melakukan segala tindakan untuk berfikir, kerja fungsi otak manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu Otak Kanan dan Otak Kiri. Otak Kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh.

Sedangkan otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendali intelligence quotient (IQ). Daya ingat otak bagian ini juga bersifat jangka pendek.

Pasti pertanyaan terbesar anda adalah bagaimana hanya dengan berfikir lima detik saja kita bisa menjadi kaya. Manusia bisa menjadi kaya dan meraih banyak rezeki yang berlimpah dengan cara “Lebih Banyak Memberi dan Membantu atau berbagi rezeki sesama mahluk hidup”.

Sikap mau berbagi akan melapangkan rezeki yang berlimpah, semakin banyak, maka semakin baik, asalkan dilakukan dengan kata kunci, yaitu IKHLAS.

Dalam konsep Islam, memberi dan membantu atau berbagi rezeki kita mengenalnya dengan sebutan Sedekah. Agar kita mampu menjalankan prinsip tersebut, manusia harus terlebih dahulu memaksimalkan kerja fungsi otak. Pada prinsipnya, otak kanan cenderung melihat masa depan dengan lebih optimis, berbeda dengan otak kiri kita yang relatif bersifat realistis dan linear.

Otak kiri kita biasanya menilai, memberi dan membantu atau berbagi rezeki kepada orang lain hanya boleh dilakukan jika seluruh kebutuhan pribadi hidup kita telah terpenuhi. Sebaliknya, otak kanan kita akan menganggap, cukup tidak cukup, memberi dan membantu atau berbagi rezeki kepada sesama mahluk hidup adalah wajib hukumnya.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Bahwa semua ini datangnya dari Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah SAW menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang, agar mengeluarkan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Intinya adalah, meminta manusia untuk bekerja sekuat tenaga, mengonsumsi pendapatannya sekedarnya, dan mendistribusikan rezeki seluas-luasnya. Logika dibalik perintah tersebut adalah, jika manusia mau berbagi, maka kesejahteraan akan merata dan kesempatan untuk tumbuh kian besar. Memberi dan membantu atau berbagi rezeki, mengajak manusia untuk berfikir kolektif dan bukannya individualis.

Sebenarnya, analogi kebermanfaatan paling sederhana dalam berfikir lima detik menentukan sikap memberi dan membantu atau berbagi rezeki dapat kita contohkan dalam bentuk lain di kehidupan ini. Contoh sederhana, bila kita tersenyum pada seseorang, maka dengan seketika manfaat tersebut langsung kita akan dapatkan, yaitu orang tersebut akan membalas senyum kita. Bila kita menghormati dan sopan pada orang lain, maka orang tersebut juga akan menghormati dan sopan pada kita.

Contoh kasus lainnya, saat saya duduk dibangku sekolah. Kemampuan saya dalam bidang Matematika terbilang cukup lumayan, dan teman sebangku saya ahli dalam menguasai Bahasa Inggris. Suatu ketika, saya membantunya untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) Matematika dan pada kesempatan lainnya dia juga dengan ikhlas membantu saya mengerjakan PR Bahasa Inggris yang sama sekali saya tak paham.  Artinya adalah, kehidupan ini saling berbagi, membantu dan menutupi kekurangan.

Contoh lain dalam kehidupan sosial di lingkungan rumah tempat tinggal kita, bila kita hidup rukun dan saling bahu-membahu sesama tetangga, maka dengan senang hati para tetangga juga akan merelakan waktu mereka untuk membantu bila kita saat sedang tertimpa suatu masalah atau hal lainnya.

Memang, dalam konsep memberi dan membantu atau berbagi rezeki kepada yang membutuhkan, tidak serta-merta langsung manfaat yang akan kita dapatkan. Pribadi seorang muslim akan menjadi istimewa karena kedermawanannya. Yang dalam mendermakan hartanya bukan untuk mencari popularitas atau riya’, tetapi karena Allah dan didorong oleh potensinya yang telah dikaruniakan oleh-Nya.  Allah SWT yang memberi kehidupan dan kenikmatan, dan Dialah menyuruh kita mengeluarkan sebagian rezeki yang telah Dia karuniakan kepada kita. Dia berjanji akan menggantinya dengan berlipat-ganda. Dan Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan sedekah kita.

Mari menentukan sikap untuk menjadi kaya hanya dalam lima detik saja, dan jangan berfikir lama untuk menentukan hal ini. Cukup tidak cukup kita memenuhi kebutuhan hidup, bersedekah wajib hukumnya.

Tidak akan ada seseorang muslim jatuh miskin hanya dengan mengeluarkan sedekah”. ***

Penulis : Agus Sutrisno, S.Sos, Staf Humas, Sandi dan Protokol Pemda Kabupaten Lombok Barat.

Kirim Komentar

Leave a Reply