Masih Minim Penerapan Sekolah Adiwiyata di Mataram

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Meski kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sudah meluncurkan program pendidikan berbasis lingkungan untuk membentuk Sekolah Adiwiyata sejak 2005 silam, namun faktanya masih minim sekolah yang menjadi terapan di sejumlah daerah, termasuk di Kota Mataram.

Kasubag Perencanaan Program, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram, Rahmad Fauzi mengatakan, butuh tanggungjawab bersama untuk memelihara lingkungan, tidak hanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan namun juga masyarakat sebagai subjek di dalamnya.

Pada  dasarnya, lingkungan sekitar merupakan persoalan keberlangsungan kehidupan orang banyak tidak hanya manusia tetapi juga hewan dan binatang melata lainnya.

“Pemerintah menyadari kondisi tersebut, makanya KLH bekerjasama dengan Kemendiknas pada tahun 2005 menyepakati kerjasama pengembangan program pendidikan berbasis lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program adiwiyata,” jelasnya.

Hal itu bertujuan agar terwujudnya warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkalanjutan.

Sejak diluncurkan pada tahun 2005 sampai 2011 silam, papar Fauzi, partisipasi sekolah-sekolah mengikuti program adiwiyata mencapai 1.351 sekolah dari jumlah sekolah mencapai 251.415 sekolah  (SD, SMP, SMA, SMK) se-Indonesia.

“Sekolah-sekolah yang berbasis lingkungan ini memang sudah banyak, tetapi yang mengikuti program adiwiyata masih sedikit. Di kota Mataram sendiri meskipun sudah ada beberapa sekolah yang mengikuti program adiwiyata, namun jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada,” jelasnya.

Ditambahkan, meskipun banyak sekolah di Kota Mataram yang telah menggunakan prinsip sekolah berwawasan lingkungan, namun tetap saja tidak masuk kategori sekolah adiwiyata. Sebab secara administrasi belum memenuhi persyaratan yaitu harus mengajukan diri menjadi sekolah adiwiyata terlebih dahulu.

Fauzi menjelaskan, sekolah yang masuk kategori adiwiyata ini adalah sekolah yang mengajarkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut mempunyai banyak instrument, salah satunya ialah bagaimana sekolah mengolah limbah sampah yang dihasilkan.

“Dari segi perlindungan misalnya, bagaimana sekolah manampung dan memanfaatkan air hujan agar tidak terjadi genangan pada saat musim penghujan,” tukasnya.

Dalam konteks kurikulum, sekolah adiwiyata mengembangkan kurikulum yang berbasis lingkungan yang diintegrasikan melalui berbagai mata pelajaran tertentu. Seperti dalam mata pelajaran IPA.

“Tentu kurikulumnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar dan bentuk pengembangannya ialah disesuaikan dengan kearifan lokal. Dan tentu nantinya tercipta kesadaran masyarakat dalam hal perlindungan dan pengelolaan lingkungan untuk mengurangi beban pemerintah dalam hal pengelolaan lingkungan,” harapnya.

Di tempat terpisah, pengamat lingkungan yang juga akademisi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Mataram, Drs. Abdul Sykur, M.Si menyayangkan masih sedikitnya sekolah-sekolah berwawasan lingkungan di Kota Mataram ini.

Menurutnya, persoalan lingkungan merupakan persoalan semua orang. Tidak bisa diselesaikan oleh satu dua orang atau pun lembaga sosial masyarakat tertentu, namun harus menjadi perhatian semua pihak, tidak terkecuali oleh institusi pendidikan.

“Dalam hal ini sekolah merupakan lembaga yang paling strategis untuk memberikan penyadaran akan pentingnya keberadaan lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan umat manusia,” katanya.

Ia juga mengkritisi sekolah-sekolah yang ada di Kota Mataram yang masih minim pengajarannya tentang lingkungan. Meskipun sudah ada beberapa sekolah, namun itu belum berjalan sepenuhnya sehingga belum masuk kategori sekolah berbasis lingkungan karena banyak sekolah yang belum memenuhi unsur seperti keberadaan instrument fisik dan non fisik.

“Kalau ada sekolah yang hanya mempunyai pohon saja itu belum dikatakan sebagai sekolah berbasis lingkungan hidup, karena tidak bisa hanya sekedar fisik tapi juga harus non fisik,” jelasnya.

Ia berharap agar semua sekolah yang ada di Kota Mataram berkomitmen dengan membuat kebijakan berupa kurikulum yang memasukkan pelajaran lingkungan sebagai materi ajar, baik dilakukan secara tersendiri maupun terintegrasi.(CSO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *