Pola CSR Jangan Lagi Karikatif Tapi Utilitas

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Penyaluran program dan dana Corporate Social Respontibility (CSR) dari dunia usaha, hendaknya tidak lagi menggunakan pendekatan dengan pertimbangan karikatif atau lebih kepada belas kasihan kepada masyarakat kelompok penerima. Akan lebih baik jika pola yang dilakukan adalah pendekatan dengan pertimbangan Utilitas atau lebih kepada fadeah dan manfaat berkesinambungan yang bisa dirasakan masyarakat penerima program dan dana CSR.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil (Sosdukcapil) Provinsi NTB, Drs.Bachruddin,MPd, dalam pertemuan penguatan jaringan kemitraan dunia usaha dan Disosdukcapil NTB, Rabu (11/12) di Hotel Mataram Square.

“Membangun jaringan kemitraan dengan dunia usaha ini sangat penting, sehingga dunia usaha dalam menyalurkan CSR-nya bisa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat bermanfaat bagi masyarakat selaku penerima,” katanya.

Ketua Forum CSR Kesos NTB, Zainul Aidi saat memberikan paparan dalam pertemuan. (Lomboktoday.co.id/istimewa)

Ketua Forum CSR Kesos NTB, Zainul Aidi saat memberikan paparan dalam pertemuan. (Lomboktoday.co.id/istimewa)

Bachruddin mengatakan, penyaluran CSR dengan pendekatan karikatif banyak mengandung unsur kasihan dan iba biasanya hanya akan membawa dampak sesaat dan solusi masalah yang sementara. Sedangkan penyaluran CSR dalam bentuk Utilitas atau pemanfaatan akan bisa lebih terasa berkesinambungan.

“Misalnya yang dilakukan oleh PT Gudang Garam yang mengalokasikan dana CSR  untuk karyawannya dengan membentuk lembaga penitipan anak. Dimana ini menambah produktifitas kerja  pegawai atau karyawan juga,” kata Bachrudin.

Upaya seperti itu, paparnya, tentu lebih berkesinambungan dibanding ketika perusahaan menyalurkan CSR dengan memberi santunan atau bantuan makanan.

Dalam pertemuan itu, Ketua forum CSR-Kesos NTB, Zainul Aidi mengatakan, pertemuan itu penting dilakukan sebagai upaya mengelola potensi yang ada antara dunia usaha dan Forum CSR Kesos NTB terutama dalam penanggulangan masalah sosial di NTB, seperti kemiskinan, keterlantaran, kekeringan dan lain-lain.

Sinergitas antara Forum CSR dan dunia usaha dirasakan perlu untuk memetakan potensi-potensi masalah sosial di tengah masyarakat, kemudian merumuskan bersama pola penyaluran CSR yang tepat sasaran dan benar-benar terasa manfaatnya.

Contoh penyaluran CSR dengan pendekatan Ulititas sudah dilakukan Forum CSR Kesos NTB, untuk membantu mengatasi kekeringan dan krisis air bersih di beberapa desa di Lombok Tengah, NTB.

Ketua Bidang Libang dan Diklat Forum CSR NTB, DR IG Lanang Parta Tanaya memaparkan, program penanggulangan kekeringan itu dilakukan Desa Pengengat, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

“Dari sejumlah desa yang ada di NTB maka terjaringlah Desa Pengengat sebagai desa terpencil yang dilanda kekeringan. Tentunya proses penjaringannya atas usulan masyarakat setempat,” katanya.

Menurutnya, hasil survey di lapangan bahwa Desa Pengengat penting untuk diperhatikan dan dibuatkan akses air bersih berupa pembangunan Sumur Bor.

“Desa Pengengat juga dinilai sangat membutuhkan bantuan segera, karena desa ini tidak termasuk dalam areal kawasan BIL dan Mandalika Resort, sehingga desa ini jauh dari jangkauan dana CSR kedua perusahaan tersebut,” katanya(LTD/isd)

Kirim Komentar

Leave a Reply