Dikaitkan Radikalisme, Pesantren bisa Kehilangan Citra

Kerjasama Bagian Humas dan Protokol Setdakab Lotim dengan Lomboktoday.co.id

LOTIM, Lomboktoday.co.idBupati Lombok Timur diwakili Asisten Administrasi Sekda, Lalu Suandi, S.Sos., Senin (28/4), di aula Kantor Kemenag Kabupaten, membuka secara resmi dilaksanakannya diskusi publik bertema Penguatan Lembaga Pesantren dalam Memumikan Pancasila, Strategi Menangkal Radikalisme. Kegiatan itu diikuti sejumlah unsur organisasi mahasiswa dan tokoh masyarakat.

Menyampaikan sambutan Bupati dalam acara yang digelar Bumi Gora Institut itu, Lalu Suandi, menyatakan menyambut baik diadakannya diskusi yang mengangkat peran pesantren dalam memperkuat aktualisasi dan pengamalan Pancasila sekaligus untuk menangkal faham radikalisme.  Apalagi issu terorisme yang merebak sejak satu dekade silam, banyak yang dikaitkan dengan keberadaan Pondok Pesantren. Akibatnya, pesantren mendapatkan citra yang kurang baik.

Jika hal itu dibiarkan terus, citra baik lembaga yang sejauh ini telah banyak membantu pengembangan SDM, membantu pembentukan kultur dan karakter bangsa, sekaligus benteng dalam menghadapi degradasi moral  lambat laun akan hilang, paparnya

Pesantren, tandasnya, merupakan lembaga penyebar ilmu pengetahuan, pendorong kebaikan, dan pelopor perdamaian dan kedamaian. Pesantren juga menjadi garda terdepan jihad melawan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kemerosotan akhlak sekaligus pelopor paling awal untuk membangun karakter bangsa.

Itulah sebabnya, mendorong pesantren terus bisa bertahan dan berkembang, perlu terus didorong untuk tetap survive sebagai  transmisi atau agen akhlakulkarimah, untuk memfilter keluar-masuknya budaya. Patut dicatat, pendidikan di Pondok Pesantren memberi bekal pendidikan yang lengkap, karena sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dibangun nilai-nilai agama dan semangat nasionalisme. Dengan demikian, berlangsungnya pendidikan di pesantren bisa memberi jaminan, nilai-nilai Pancasila tetap lestari.

Ia berharap agar diskusi itu menghasilkan sebuah rekomendasi yang membantu mengatasi persoalan pesantren dan memperkuat eksistensi pesantren dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih baik di masa mendatang.

Khususnya di NTB, tegasnya, harus diakui peran pesantren dalam pembangunan dunia pendidikan sangat besar dan bisa dikatakan dominan.  Di Lombok Timur sendiri, saat ini terdapat 135 buah pondok pesantren dan membuka berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Digambarkan, jumlah SD negeri di Lombok Timur sebanyak 655 buah, sementara Madrasah Ibtidaiyah 163 buah. Untuk Tingkat SMP/MTs, jumlah SMP negeri 58 buah, sementara Madrasah Tsanawiyah 184 buah. Pada Tingkat SMA/SMK/MA, dari jumlah 159 sekolah, hanya 28 berstatus negeri, sementara 131 sekolah berstatus swasta, dimana 75 diantaranya adalah Madrasah Aliyah yang dikelola pondok-pondok pesantren. Begitu pula pada jenjang pendidikan tinggi, dari 12 Perguruan Tinggi yang ada di Lombok Timur, semuanya berstatus swasta dan 8 diantaranya dikelola pondok pesantren.

Asisten kemudian menambahkan, saat ini dikhawatirkan banyak orang yang tidak hafal Pancasila. Apalagi mengamalkannya. Berbeda dengan kondisi   sebelum era reformasi, nilai-niai Pancasila demikian gencar hingga menyentuh masyarakat terbawah, melalui penataran P-4. Entah karena kepentingan politik apa yang telah menghilangkannya kini.

Sementara Direktur Bumi Gora Institut, Syamsul Bahri, SH., mengatakan, dengan berlandaskan nilai Pancasila dan Agama seharusnya radikalisme maupun konflik antar kelompok tidak akan terjadi di Indonesia. Namun nyatanya, konflik dan kekrasan itu di era sekarang ini, semakin marak terjadi. Inilah yang menginpirasi untuk membumikan kembali Pancasila melalui Pesantren sebagai lembaga potensial untuk mendistribusi nilai-nilai Pancasila. (Zar-Humas)

Kirim Komentar

Leave a Reply