Eksekusi Tanah Warisan Sempat Memanas

LOTENG, Lomboktoday.co.id – Eksekusi tanah warisan di Dusun Panti, Desa Jago, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, sempat memanas di kantor Desa Jago, sebelum Panitera Pengadilan Agama Praya dan pihak kepolisian dari Polres Loteng turun langsung ke lokasi tanah yang akan dieksekusi.

Dimana, pihak tergugat, Tamrin alias Amaq Wahid, didampingi ratusan pasukan salah satu Pamswakarsa menolak untuk dieksekusi. Karena, sebelum dilakukan eksekusi oleh Pengadilan Agama Praya, Amaq Wahid meminta untuk dimediasi terlebih dahulu dengan penggugat, Mardiah. Akibat adanya kemarahan dari Amaq Wahid untuk menolak dieksekusi sebelum bertemu dengan penggugat Mardiah, membuat eksekusi menjadi molor.

Kronologis kericuhan terjadi saat Panitera Pengadilan Agama Praya dan puluhan personel anggota dari Polres Loteng mau mendatangi lokasi. Tapi, sebelum mendatangi lokasi, Panitera PA Praya dan polisi datang ke kantor Desa Jago untuk menjelaskan lagi perkaranya ke tergugat Amaq Wahid di kantor Desa Jago.

Pihak keluarga Wahid selaku tergugat menolak eksekusi tanahnya, karena mengaku kalau pihaknya sudah melakukan perdamaian terlebih dahulu dan sudah memberikan uang kepada orang tua Mardiah, pihak penggugat.

Tapi, setelah beberapa saat kemudian, kedua pihak dipertemukan baik penggugat dan tergugat. Dimana, dalam pertemuan itu, Mardiah, pihak penggugat yang menang dalam perkara tanah warisan tersebut meminta agar diberikan bagiannya sebanyak 15 are. ‘’Kami minta diberikan bagian sebanyak 15 are,’’ kata Mardiah, Kamis (04/6).

Sementara itu, Amaq Wahid menolak permintaan dari penggugat. Dengan begitu, pihak penggugat tetap akan melakukan eksekusi tanah tersebut. Dengan suasa memanas berjalannya negosiasi itu, salah satu anak Amaq Wahid, Wahid memberikan bagian penggugat sebanyak 12 are, dan bagian yang diberikan itu disetuji oleh penggugat. ‘’Kami sudah berikan 12 are,’’ ucapnya.

Sedangkan saat upaya eksekusi berlangsung, suasana sempat memanas lagi antara tim eksekusi dengan keluarga. Karena, tim eksekusi salah tempat mematok tanah yang akan dieksekusi tersebut.

Bahkan, sempat terjadi perang mulut dengan melontarkan kata-kata kasar. Hal itu sempat memancing suasana menjadi memanas lagi. Meski sempat memanas, namun pelaksanaan eksekusi berjalan dengan lancar.

Sementara salah satu kelurga tergugat, Johan Isnaini menyatakan, persoalan tanah warisan tersebut berjalan dengan damai, sehingga kelurga Amaq Wahid mau memberikan bagain ke Mardiah sebanyak 12 are. ‘’Memang Mardiah (Penggugat, Red) sempat meminta 15 are, tapi dari mediasi yang dilakukan kembali, hasilnya Mardiah menyetujui kalau dikasi bagiannya sebanyak 12 are,’’ jelasnya.(ROS)

Kirim Komentar

Leave a Reply