Gubernur NTB Jadikan Media sebagai Partner

Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi, memberikan sambutan saat membuka Sarasehan Pemerintah Daerah dan TV Berjaringan di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (19/6).

Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi, memberikan sambutan saat membuka Sarasehan Pemerintah Daerah dan TV Berjaringan di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (19/6).

MATARAM, Lomboktoday.co.id – Bila melihat dan membaca sejarah peradaban dunia, bahwa satu peperangan besar bisa berawal dari satu goresan pena yang salah. Tapi sebaliknya, satu perdamaian yang besar juga bisa dimulai dari satu goresan pena yang benar. Hal itu disampaikan Gubernur NTB, Dr TGH M Zainul Majdi, saat membuka Sarasehan Pemerintah Daerah dan TV Berjaringan dengan tema ‘’Membangun NTB Melalui Media’’, yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) Provinsi NTB, di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (19/6).

Di hadapan para insan pers dan kepala SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTB, Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi mengatakan, eksistensi media di NTB sangat penting, karena pemerintah daerah menyadari betul bahwa ada fungsi-fungsi media yang tidak bisa disubstitusi oleh siapapun, termasuk oleh pemerintah daerah.

Diantara fungsi yang penting itu, ada fungsi yang sangat vital di dalam membangun kepercayaan publik. Sebagaimana diketahui bersama, salah satu isu yang paling penting di dalam membangun pemerintahan yang kredibel itu adalah kepercayaan publik, dan kepercayaan publik itu mengasumsikan harus ada partisipasi public, dan partisipasi public itu akan sulit terwujud kecuali kalau ada informasi yang simetris atau yang berimbang dan merata.

Maka sering terjadi masalah di dalam hubungan antara pemerintah dengan masyarakat, manakala tidak terjadi penyebaran informasi yang baik. Itu bisa dimaknakan dengan dua hal yakni, pertama dengan tidak ada penyebaran informasi. Artinya ada problem di dalam lembaga penyiaran yang ada. Kedua, ada penyebaran informasi, tapi asimetris atau tidak berimbang. ‘’Tentunya kita sangat mengharapkan di daerah kita ini terjadi penyebaran informasi yang seimbang, baik dan obyektif. Sehingga dengan penyebaran informasi seperti itu, maka diharapkan masyarakat merasa bahwa dia adalah bagian yang tidak terpisahkan di dalam satu proses pembangunan di daerah,’’ katanya gubernur NTB.

Dari hal tersebut, lanjut Tuan Guru Bajang (TGB), begitu gubernur NTB ini biasa disapa, diharapkan akan tercipta partisipasi publik. Kalau orang tahu, maka akan tumbuh kritisi, akan tumbuh rasa ikut memiliki. Kalau dia tahu tentang sesuatu, kemudian akan tumbuh respon-respon dan tentu pemerintah, baik pusat maupun daerah khususnya Pemda NTB, sangat berkepentingan untuk mengetahui respon-respon seperti apa yang lahir yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu, bagi pemerintah daerah, media itu sangat penting, karena media melaksanakan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh siapapun selain media, termasuk oleh pemerintah daerah. Sebaran informasi yang merata akan menumbuhkan partisipasi publik. Partisipasi publik yang kuat itu akan menciptakan satu keadaan dimana pemerintah daerah akan tertantang untuk menciptakan akuntabilitas yang baik. ‘’Dari situlah kemudian kita bisa mengukur tingkat kepercayaan masyarkat kepada pemerintah,’’ ungkapnya.

TGB menjelaskan, pemerintah daerah sungguh-sungguh ingin agar media, baik itu media cetak dan elektronik bahkan media sosial, pemerintah daerah ingin seluruh macam media yang ada menjadi patner dan mitra bagi pemerintah daerah. Kemitraan itu sangat penting, karena media sesuai dengan karakteristiknya memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan kemudian mengartikulasikan kepentingan masyarakat di dalam media tersebut.

Untuk itu, Pemda ingin supaya terbangun kemitraan di daerah, tentu dalam hal-hal yang baik. Hubungan interaktif yang lebih dari satu pihak itu, haruslah ada nilai-nilai dasar yang menjadi pondasinya. Maksudnya adalah pondasi secara normatif bahwa Pemda dan media sama-sama memahami bahwa, pers adalah salah satu pilar demokrasi. ‘’Kemudian pondasi yang lain adalah bahwa kita bersama-sama tidak berada di ruang dan waktu yang hampa, tapi kita berada di satu ruang yang namanya NTB, dan kita berada di satu waktu yang namanya sekarang dan masa yang akan dating,’’ jelasnya.

Maka, perspektif ruang dan waktu harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik. ‘’Jangan menganggap kita ini hampa ruang dan hampa waktu, kita di NTB. Maka, mari kita bangun kesepahaman kita, mau diarahkan kemana daerah kita ini, apakah akan kita jadikan daerah yang aman, nyaman, yang welcome kepada para investor dan kepada para turis, atau kita mau ciptakan NTB ini difreming oleh orang sebagai daerah yang banyak potensi-potensi kerusuhan, semua itu bergantung kepada kita semua,’’ ungkapnya lagi.

Pemerintah mengajak atas nama tanggungjawab kebangsaan, tanggungjawab kemanusiaan, dan tentu nilai-nilai yang dipegang masing-masing yakin nilai yang baik-baik. Seperti nilai agama, nilai adat, dan sistem nilai yang dibawa. Atas nama itu semua, dipastikan kalau secara bersama-sama ingin mengarahkan NTB kepada arah yang lebih baik. Ingin NTB menjadi tempat yang baik, ingin NTB dikenal sebagai tempat yang menyenangkan dan nyaman. Oleh karena itu, pemerintah mengajak semua untuk mengarah kesana.

Saat ini, kompetisi suatu bangsa dengan bangsa lain, suatu daerah dengan daerah lain sudah semakin ketat. Atas dasar kesadaran akan hal itu, maka media dan pers harus cepat memanfaatkan seluruh ruang yang ada. Kesempatan dan momen yang ada untuk menyebarkan informasi yang seperti apa, tentu pilihannya ada pada diri masing-masing.

Atas nama Pemda NTB, TGB mengajak semua untuk senantiasa menyebarkan informasi yang positif atau yang sebaik-baiknya untuk kemajuan daerah ini. Pilihan untuk menjadikan NTB sebagai daerah yang aman dan baik, bukan berarti tidak mengekspose kekurangan atau hal-hal yang perlu diperbaiki di NTB. Bahkan itu merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya untuk membangun NTB yang lebih baik lagi. Bagaimana mau memperbaiki kalau tidak mengetahui apa-apa yang kurang, bagaimana meluruskan kalau tidak tahu bengkoknya dimana. Fungsi itu menunjukkan negative dan positif. ‘’Itu adalah peran yang harus dimainkan oleh kita semua, tentu yang paling utama adalah insan-insan pers,’’ ujarnya sembari mengajak, mari membangun melalui hati kita masing-masing, bahwa apa yang ditulis dan ditayangkan, tidak hanya berpengaruh pada satu atau dua orang, tapi berpengaruh pada nasib sekian ribu orang.

Ketika menayangkan suatu bentuk tayangan yang kurang tepat, lanjutnya, yang tendensius, lebih-lebih yang propokatif terkait dengan potensi suatu daerah yang mengakibatkan potensi di satu daerah itu mati, itu berarti apa yang ditayangkan tidak hanya membuat satu atau dua orang kehilangan pekerjaan, bahkan bisa terjadi konflik yang besar karena potretnya yang salah.

Bila membangun kemitraan, tambah TGB, tentu harus ada pondasinya. Pondasi itu adalah hal-hal yang sifatnya normatif dan sifatnya lokalitas. ‘’Dalam posisi apapun, pada ruang dan waktu, maka kesadaran akan ruang dan waktu itu diharapkan bisa menjiwai segala macam bentuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi insan-insan jurnalistik. sebarkan informasi-informasi yang baik untuk kemaslahatan daerah kita ini,’’ tukasnya.(mawardi/jupri/ar/dra)

Kirim Komentar

Leave a Reply