Ellena : Yang Penting Faktual dan Berkualitas

Direktur Eksekutif YMP NTB, Ellena K Rahmawati saat berbicara di depan Tim AMPL kabupaten, camat, kepala Puskesmas dan kepala desa sasaran program di Rupatama kantor bupati Lotim, Kamis (28/8).

Direktur Eksekutif YMP NTB, Ellena K Rahmawati saat berbicara di depan Tim AMPL kabupaten, camat, kepala Puskesmas dan kepala desa sasaran program di Rupatama kantor bupati Lotim, Kamis (28/8).

LOTIM, Lomboktoday.co.id -Para kepala desa, camat maupun kepala Puskesmas yang tampil mempresentasikan kesiapannya untuk mendeklarasikan desa STBM Llima pilar 100 persen, dalam gelar Presentasi Capaian Program SHOW I-STBM Lima Pilar, di ruang rapat utama kantor bupati Lombok Timur pada Kamis (28/8) itu menyatakan siap melanjutkan program tersebut meski Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB tidak lagi mendampinginya.

‘’Kami siap deklarasi Desember 2014, dan tidak lagi akan tergantung pada YMP-NTB untuk melanjutkan program,’’ ujar mereka bertekad.

Tiga desa yang tampil itu yakni, Desa Sikur Barat Kecamatan Sikur, Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela dan Desa Kalijaga Selatan, Kecamatan Aikmel.

Tekad dan semangat para kepala desa, camat dan kepala Puskesmas ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, dr Utun Supria, M.Kes., yang mewakili bupati dalam acara itu.

Ia bahkan menyatakan, model pendekatan yang telah dilakukan YMP-NTB selama ini dengan mengedepankan pendekatan spiritual, merangkul hati masyarakat, patut direfleksikan dalam pelaksanaan program serupa di Lotim di masa yang akan datang.

‘’Kalau kegiatan YMP tidak mengedepankan pendekatan spiritual, dan mengikat hati masyarakat di desa, maka hasilnya tidak akan seperti sekarang ini,’’ katanya.

Utun menilai, adanya pembeda dalam model pendekatan program dilakoni LSM itu yang patut dicontoh, terutama setelah kepala desa dan kepala Puskesmas mempresentasikan langkah-langkah, berdasarkan hasil studi kasus yang bersifat lokal dan spesifik.

Ia pun mendorong kepala Puskesmas untuk sering melakukan koordinasi dengan camat dan kepala desa, sementara para camat dimintanya untuk tidak lupa mengontrol beberapa desa yang sudah berpredikat ODF jangan sampai tidak ODF lagi.

Berkaitan dengan program-program YMP itu, Kepala Dikes Lotim, Utun Supria, minta agar program yang telah dilaksanakan dilanjutkan dengan istiqomah, sebab keberhasilannya akan mendukung program MDGs Goal ke-7.

Memberikan closing statemen atau pernyataan penutup, Direktur Eksekutif Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB, Ellena Khusnu Rahmawati dengan tegas menyatakan optimismenya. Meskipun dari 47 desa yang dipicu selama berbulan-bulan, dan sampai saat itu baru tiga desa yang berani tampil mempresentasikan kesiapananya di hadapan Pemkab Lombok Timur, baginya lebih baik daripada banyak desa tapi belum bisa dijamin kualitas lima pilar STBM-nya 100 persen.

Optimisme Ellena itu, bukan tanpa alasan. Sebab menurut hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan jajarannya selama ini, selain tiga desa yang mempresentasikan kesiapannya untuk deklarasi pada Desember mendatang, desa-desa sasaran pemicuan lainnya juga ternyata menunjukkan progres yang luar biasa dengan strategi percepatan yang telah disepakati dalam kegiatan motivasi apresiasi di Sport Hall GOR Selong beberapa waktu lalu.

‘’Dari 47 desa, 16 desa sudah siap deklarasi, 31 menunjukkan progres, Insya Allah, 6 desa akan deklarasi pada Desember 2014,’’ katanya.

Ditandaskan, setiap desa yang sudah berani mendeklarasikan diri telah melaksanakan 100 persen STBM lima pilar, maka selain secara fisik bisa dibuktikan pelaksanaannya, juga setiap orang pada rumah tangga dapat menjelaskan tentang STBM lima pilar.

Jadi, orang atau tamu yang datang dari arah manapun di desa itu, sudah bisa membuktikan terwujudnya program tersebut di desa itu.

Bahkan Ellena menantang desa-desa yang siap untuk menjadi contoh atau model, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun diingatkannya bahwa program STBM lima pilar adalah program perubahan perilaku, sehingga bisa jadi out-putnya mencapai 100 persen, namun out-comenya belum tentu.

‘’Jadi, masih perlu dievaluasi, misalnya dalam penggunaan sarana-prasarana yang tersedia sudah dimanfaatkan dengan baik atau belum,’’ ungkapnya.

Ia mengakui, bahwa merubah prilaku masyarakat bukanlah hal yang mudah, ada sederetan program bertema perubahan perilaku dengan anggaran cukup besar selama ini, belum banyak memberi fakta perubahan. Dengan berbekal keyakinan, tekad, spirit serta dengan sungguh-sungguh mewakafkan hati, perlahan tapi pasti masyarakat sebagaimana dibuktikannya mulai menyadari pentingnya STBM lima pilar bagi kehidupan mereka sendiri.

Ellena mengenang tiga bulan pertama dirinya membawa program yang penuh dengan tantangan, banyak pihak yang menolak. Untuk membalikkan fakta itu, maka pada tiga bulan pertama, para sanitarian dan kader YMP yang diturunkan diwajibkan hanya untuk menemukan hatinya masyarakat. Artinya, petugas YMP-NTB tidak boleh ada kesan arogan, dan tidak membicarakan program apalagi menjanjikan bantuan uang.

Selama tiga tahun berkiprah, tuturnya, YMP sudah banyak memperoleh data dan fakta, bahwa masyarakat masih mampu mengatasi permasalahannya sendiri. Kalau menyelesaikannya sendiri dilakukan secara gotong-royong. Potensi laten seperti itulah yang perlu dibangkitkan dari masyarakat desa untuk memberdayakannya.

Ia menyatakan senang melapor ke Kedubes belanda maupun Simavi, meski baru tiga desa yang siap deklarasi, karena sedikit desa yang siap secara faktual dengan kualitas yang diharapkan jelas lebih baik daripada banyak desa yang siap secara formal saja atau belum 100 persen siap.

Selain menyebutkan keuntungan yang diraih masyarakat dengan melaksanakan STBM lima pilar, gerakan sambang santri yang dilaksanakan senafas dengan program ASHAR dan GAS yang tahun ini diluncurkan Pemerintah Propinsi NTB.(zar-humas) 

Kirim Komentar

Leave a Reply