Kejaksaan Sebut Ada Pelanggaran

2 minutes reading
Thursday, 30 Apr 2015 13:02 0 564 Editor

‘’Terkait Penebangan Kayu HTI Sambalia’’

LOTIM, Lomboktoday.co.id – Kasus penebangan kayu di Hutan Tanaman Industri (HTI), di kawasan Lendang Tengak, Desa Sambalia, Kecamatan Sambalia, Lombok Timur, kini tengah menjadi atensi serius Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Kasi Intel Kejari Selong, Jeffry G Lokepessy. (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)

Kasi Intel Kejari Selong, Jeffry G Lokepessy. (Foto: L M Kamil/Lomboktoday.co.id)

Pihak pemda melalui Bakesbangpoldagri Lotim berkali-berkali menggelar pertemuan khusus membahas kasus ini, dengan melibatkan semua unsur terkait, seperti Dinas Hutbun, unsur aparat penegak hukum seperti pihak kepolisian, kejaksaan dan Kodim 1615 Lotim serta unsur swasta dalam hal ini PT Sadhana Arifnusa selaku pihak yang ikut sebagai developer sekaligus sebagai pihak yang dituding melakukan penggundulan hutan. Tak lupa pula melibatkan unsur pemerintah desa dan perwakilan masyarakat Sambalia.

Namun, hingga kini masih menjadi perdebatan soal jumlah titik lokasi penebangan. Sebagian ada yang diduga dilakukan oleh pihak PT Sadhana Arifnusa, dan ada yang diduga dilakukan oleh pihak masyarakat. PT Shadana menuding masyarakat yang melakukan, sementara pihak masyarakat menuding bahwa PT Sadhana yang membabat kayu di kawasan itu.

Menindaklanjuti pengusutan kasus tersebut, baru-baru ini pihak PT Sadhana Arifnusa mengundang unsur Muspida dan pihak terkait melakukan pemantauan langsung melalui udara di lokasi yang diduga telah dibabat.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Selong, Jeffry G Lokepessy didampingi Jaksa Penyidik, Fata yang ikut pula dalam pemantauan itu membenarkan, bahwa terlihat di lokasi ada bekas penebangan pada beberapa titik dalam areal yang cukup luas dari masing-masing titik.

‘’Memang betul, kami melihat langsung ada bekas pembabatan kawasan HTI Lendang Tengak, Samabalia, di beberapa titik, dalam satu titik yang digunduli terpantau cukup luas,’’ katanya kepada wartawan di kantornya, Kamis (30/4).

Pihak kejaksaan menilai dalam kasus ini telah terjadi pelanggaran. ‘’Jelas ada pelanggaran dalam kasus ini, hanya saja kami belum bisa menjelaskan pihak mana sebenarnya yang melakukan pelanggaran dalam kasus ini, kami masih harus melakukan penyelidikan,’’ ungkapnya.

Jeffry menjelaskan, pihak yang diduga melakukan pelanggaran, akan dijerat Undang-Undang Kehutanan No.18 tahun 2013 tentang pengerusakan hutan dan Undang-Undang Pidana Pasal 82 sampai pasal 109 dengan ancaman minimal 1 (satu) tahun penjara.(Kml)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA